Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Selamat tidur!



"Suami kamu sepertinya ingin istirahat Se" Kata kakak ipar Sea begitu melihat Deon.


"Tidak apa apa kak, kalau masih ingin mengobrol" Jawab Deon


"Mas, Ade dan Joy tidur di sini tidak apa-apa kan?, kakak kekeh ingin mengangkat mereka kasihan kan kalau tidurnya terganggu" Terang Sea.


"Ia tidak apa-apa, biarkan saja kak, Sea juga dari kemarin bilang sangat merindukan mereka" Jawab Deon.


"Ya sudahlah kalau begitu mau kalian, asal tidak mengganggu saja, kalau begitu kakak juga mau istirahat". Jawab kakak ipar Sea dan meninggalkan kamar Sea.


Kini tinggallah Sea dan Deon ditemani dua keponakannya yang sudah tidur pulas.


Deon segera ke kamar mandi mencuci wajahnya.


keluar dari sana dia melihat Sea sedang membersihkan wajahnya dari riasan wajahnya di meja rias.


Deon menghampiri Sea.


"Kenapa tadi keluar tidak izin dulu" Tanya Deon tiba tiba.


"Tadi mau menelpon kamu, tapi takut ganggu" Jawab Sea.


"Jawaban macam apa itu, ditelpon tidak diangkat, pesan juga tidak dibalas". ucap Deon.


"HPnya ditinggal ya jelas tidak diangkat" Jawab Sea.


"Kemarilah" kata Deon melihat Sea sudah selesai membersihkan wajahnya.


Sea menghampiri Deon ke sofa yang ada di kamar Sea.


Melihat Sea mendekat Deon segera menarik tangan Sea.


Deon mendudukkan ke pangkuannya. sontak saja Sea terkejut.


"Mas kamu apaan sih" Tanya Sea, sungguh dia tidak nyaman duduk dipangku seperti itu.


"aku ingin marah karena kesal sama kamu" Jawab Deon tapi anehnya tangannya malah semakin memeluk Sea.


"Marah macam apa seperti ini" Gerutu Sea.


"Tapi rindunya lebih besar Se" kata Deon pula sambil mengendus ngenduh leher Sea yang wangi.


"Is.. pak dokter mulai jago gombal" Jawab sea, berusaha menjauhkan lehernya karena geli.


"Mas... geli" Kata Sea.


"Biar saja... aku suka wangimu" Jawab Deon.


"Se... kapan?" Tanya Deon, tangan Deon semakin memeluk erat sea


"Kapan apanya?" Tanya Sea.


"Kapan kita jadi suami istri seutuhnya?" Tanya Deon Sendu.


Pertanyaan Deon membuat Sea memutar tubuhnya menghadap suaminya.


Baru saja berdiri, Sea kembali ditarik oleh Deon. Mendudukan Sea di pangkuanya dengan posisi saling berhadapan.


"Se... kapan" Tanya Deon lagi.


Sea hanya diam saja. Jika ditanya siap tidak siap, sudah pasti dia sudah siap. bukankah menikah tujuannya untuk saling memenuhi nafkah lahir dan batin.


Tetapi jika dijawab sekarang pun siap, tentu saja terlalu menjadi jawaban yang agresif menurut Sea.


Dengan menahan Pinggang Sea, Deon menempelkan hidung mancungnya ke hidung Sea.


Gemuruh detak jantung keduanya saling bersahutan.


Sea yang duduk di pangkuan Deon bisa merasakan sesuatu yang menyembul di bawah sana.


Terkejut, Sea tentu saja terkejut.


"Mas... " Suara Sea tertahan karena bibirnya sudah disambar Deon.


"Yang di bawah udah mencari sarangnya Se" Jawab Deon berkabut gairah setelah tautannya lepas.


"Tapi tidak sekarang mas, ada ade dan Joy" Jawab Sea malu-malu.


"Itu artinya kapanpun kamu siap" Tanya Deon.


Sea menganggukkan kepalanya dengan wajah memerah menahan malu.


Deon menciumi seluruh wajah Sea. Kemudian mendudukan Sea di atas sofa.


"Se, ada sesuatu yang harus aku tuntaskan" Deon segera meninggalkan Sea dan masuk ke kamar mandi.


Sea tahu suaminya sedang menuntaskan hasratnya di kamar mandi.


Bisa saja mereka malam ini menjadi suami istri yang seutuhnya, namun ada dua bocah tampan yang ada di kamar itu.


Sea menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


***


Setengah jam di kamar mandi akhirnya Deon keluar.


"Maaf meninggalkan mu' Ucap Deon ke Sea.


"Aku tahu, tidak apa-apa" Jawab Sea dengan tersenyum.


"Kita sepertinya harus berquality time se, sebaiknya kita bulan madu saja" Usul Deon.


"Apa harus?" Tanya Sea.


"Menurutku harus, ya sudah besok aku urus semuanya" Jawab Deon.


"Aku sudah tidak sabar mencetak Deon junior dan Sea Junior" tambah Deon tanpa sungkan sedikitpun.


"Massss" Rengek Sea.


"Ia...iaaa , aku tahu kamu sudah tidak sabar" jawab Deon pula dengan menggoda Sea.


Mendengar itu Sea semakin malu dan salah tingkah, kemudin mengapit perut suaminya dengan jarinya.


"Auuu sakit se" rengek Deon pula.


"Menyebalkan" rungut Sea.


"Dan kamu menggemaskan" Ucap Deon dan mengangkat Sea ke atas tempat tidur.


Sea memekik dengan menahan suaranya. terkejut mendapatkan perlakuan dari Deon.


"Jangan berteriak nanti mereka terbangun" Peringat Deon.


Dengan perlahan Deon membaringkan Sea, takut mengganggu tidur keponakan tersayang mereka.


Deon mengecup kening Sea, Selamat tidur istriku" Kata Deon dengan lembut.


Sea hanya bisa menganggukkan kepalanya. Deon berpindah dan membaringkan tubuhnya pula. mereka mengapit dua keponakannya ditengah mereka.


Malam ini mungkin belum bisa melaksanakan ritual olah raga malam. Tapi mereka tidak kecewa sama sekali.