
Johan dan istrinya Agatha pagi ini menyambangi kediaman yang menjadi besannya, Hilda. Sudah dari setengah jam lalu kedua keluarga itu mengobrol. Hari ini, sesuai dengan yang sudah direncanakan Sea akan tinggal di rumah keluarga Deon.
Agatha yang begitu bahagia tidak berhenti menanyakan barang - barang Sea yang perlu untuk dibawa.
“Sea sayang, apa sudah semua barang nya dikemasi” Agatha memeriksa bawaan Sea karena hanya berisi 1 koper.
“ia ma, nanti kalau ada barang yang perlu bisa diambil lagi, toh Sea juga membawa barang yang sangat diperlukan saja” jawab Sea
“Mertuamu sepertinya tidak akan mengizinkan menemui mamamu ini lagi Se, sampai semua barang-barangmu harus dibawa semua” Hilda berkelakar
Candaan Hilda membuat Agatha melebarkan tawanya, “ya bukan begitu juga, aku cuma tidak mau Sea kerepotan nantinya” Jawab Agatha
Sea yang yang tidak terbiasa terpisah dengan keluarganya menangis. Ada kesedihan dan pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya tentang bagaimana kehidupannya ke depannya harus dijalani.
Memeluk mamanya erat, Air mata sea terus mengalir. Demikian juga saat memeluk kakaknya Sebastian dan Clara.
“Aunty kenapa menangis, nanti aunty jelek” Ade yang baru selesai bermain didampingi Bi Inah mendatangi Sea
Sea semakin menangis memeluk Ade dan Joy.
“Aunty pergi sebentar ya sayang… jangan nakal - nakal, temani oma yaa” Mengelus kepala keponakannya
“memangnya aunty mau kemana?” Joy bertanya
“Aunty Sea mau tinggal di rumah oma Agatha sayang. Bolehkan?. kan Aunty Sea udah menikah sama om Deon” kata Agatha dengan lembut
“Ade, joy mau ikut aunty Sea” Kedua bocah itu mulai merengek
Clara segera menenangkan kedua putranya. Tidak tau apa yang dibisikkan Clara sehingga mereka tiba - tiba saja tersenyum sumringah. Segera kedua bocah itu mendekati Deon.
Menirukan apa yang dilakukan Clara, Ade juga menarik Deon untuk duduk sejajar dengannya untuk berbisik ke Deon.
“Om, Ade, Joy bawakan dedek bayi banyak ya.. mama bilang Om dan aunty akan buat dedek bayi” Bisik Ade
Deon yang dibisiki Ade terkejut sekaligus bingung. Tersenyum canggung dan gemas melihat bola mata Ade dan Joy yang memohon.
“ya om, ya om. Janji” Desa Ade
Deon hanya bisa mengangguk meskipun anggukannya hatinya sudah mengatakan tidak akan bisa.
Sea yang melihat Deon dan kedua keponakannya sedikit curiga. “apa yang dibisikkan keponakanku ke Dokter duda ini” Sea membatin
***
Kini, Sea melangkahkan kakinya ke kediaman mertuanya. Selama diperjalanan Sea hanya menyahuti apa yang ditanyakan mertuanya. Hanya Agatha yang terlihat begitu antusias membuka percakapan.
Begitu sampai di rumah, Deon bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, Agatha segera menghentikan langkahnya.
“Mau kemana? Kau mau meninggalkan Sea di sini?”
“Kenapa mama cerewet sekali, bukankah dia juga punya kaki. Tinggal ikut aja apa susahnya sih ma?”
“Deon, kau tidak bisa berbuat seenaknya. Kau tau Kelakuanmu tidak akan membuat Sea betah tinggal di sini” Agatha mulai kesal.
“Sea sayang… mama yang antar kamu. Tidak usah perdulikan kelakuan Deon. Anggap saja bocah yang perlu diajar” Agatha menggandeng Sea dengan sayang menaiki Tangga
Sebenarnya Sea senang dengan perlakuan Agatha. Namun, mengingat kelakuan Deon membuatnya malas.
“Sayang ini sebelumnya kamar Deon, tetapi sekarang kamar kamu juga. Jangan sungkan-sungkan..”
“Bu, Maaf saya mengantar barangnya Non Sea” Faisal menggeret Koper ke atas
“Terima kasih Mang” Jawab Agatha.
Sea menganggukkan kepalanya sopan, “Terima kasih mang, Sudah merepotkan’ Sea juga mengucapkan terima kasih.
“Se,, Papa mau bersiap ke kantor, mama siapkan keperluan papa ya. Mama tinggal sebentar, barangnya biar bibi aja yang susunkan” Kata Agatha
“Ia ma, tidak apa apa, Sea yang susun pelan - pelan juga bisa kok, lagian kan Sea nggak ada kerjaan”.
“Lakukan apa yang membuatmu senang, asal tidak buat repot apalagi melelahkan” Kata Agatha akhirnya mengalah.
***
Sepeninggal mertuanya, Sea berniat membuka koper untuk disusun ke rak pakaian yang Agatha tunjukkan. Namun belum sempat dibuka, Deon tiba tiba muncul dan menyela
“Sudah, tidak usah di susun, besok kita sudah pindah ke apartemen. Di sini kau juga pasti tidak nyaman, sama halnya aku. Mama pasti akan terus banyak menuntut”
Sea melirik Deon dengan ekor matanya.
“Baguslah, setidaknya di sana aku tidak perlu berpura-pura menjadi istri yang penurut” jawab Sea
“Tidak ada yang berharap seperti itu, jangan berbesar kepala” Deon juga berkata dengan ketus
“Bahkan ketika di apartemen kalau sifat menyebalkanmu itu semakin menjadi-jadi, aku bisa dengan bebas menghajarmu” kata Sea dengan asal
“Wanita aneh, sekalinya aneh tetap akan aneh”. “Ayo turun, aku mau menyampaikan sama mama dan papa kalau kita pindah besok”
Agatha dan Johan baru saja keluar dari kamar. Johan sudah rapi dengan jas yang menyampir sempurna di tubuh hampir setengah abadnya namun masih terlihat gagah.
“Kenapa sudah turun, baru juga mama tinggal” Agatha melihat Deon dan Sea
“Bisa kita bicara sebentar ma, pa” Deon buka suara
“papa Sebenarnya ada rapat, tapi tidak apa-apa, bicaralah” Johan akhirnya duduk juga
“Semalam selesai ijab, aku dan Sea sudah sepakat akan tinggal di Apartemen Deon saja, mama kan tau Deon dan Sea belum dekat, biar tidak canggung sebaiknya kami tinggal di sana saja”
“Apa benar sayang, padahal mamanya ingin sekali kalian tinggal di sini. Apa mama pernah menyinggungmu Se” Tanya Agatha Khawatir
“Nggak kok ma, betul yang dikatakan Deon, tinggal berdua agar kami bisa lebih gampang mendekatkan diri” Sea menampilkan senyum terbaiknya. Padahal, didalam hatinya ada rasa geli mengucapkan mendekatkan diri.
“apapun itu, selama itu untuk kebaikan anak - anak mama, mama setuju,. tinggallah berdua, bekerja sama lah dengan baik, segera hadiahkan mama banyak cucu yang menggemaskan” canda agatha namun terdengar permohonan penuh harap.
Deon dan Sea saling pandang.
“mama anggap jawabannya ia, mama tunggu. Ia kan pah”
“Papa hanya mengharapkan yang terbaik untuk anak - anak papa juga, kalau mereka bersedia papa juga berterima kasih” Johan menimpali ucapan istrinya
Wajah terasa memanas mendengar permintaan kedua orang tua Deon. Tidak menyangka Papa Johan yang biasa Calm bisa ikut ikutan dengan mama Agatha.
“Udah - udah jangan terlalu dipikirkan” Johan mencairkan suasanan yang mulai canggung.
“Papa berangkat ya ma..” Johan Pamit. Agatha mengikuti suaminya hingga depan, dan mencium punggung tangan suaminya. Johan dan Agatha memang harmonis sejak mereka menikah.