
.
.
Setelah acara romantis berdua di balkon, kini Gian dan Rania tengah berbaring di tempat tidur. Keduanya menatap langit-langit kamar dengan satu tangan Gian mengelus perut Rania yang membuncit.
Mereka sepertinya hanyut dengan pikirannya masing-masing. Karena kedua nya diam meski matanya masih terbuka.
Gian tersenyum. Ia mengingat sesuatu yang seperti akan menjadi moment yang sulit terlupakan.
"Mas kenapa senyum begitu?" Sahut Rania saat menyadari Gian tersenyum di sampingnya.
"Aku lagi ingat satu peristiwa. Lucu banget menurut aku kalau diingat-ingat." Jawab Gian.
Rania mengerutkan keningnya. Ia penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh sang suami, hingga membuat lelaki itu sepertinya sangat senang. Bahkan, ia terkekeh pelan.
"Memangnya mas ingat apa? Ingat mantan?" Tuduhnya yang mulai jengkel.
Wajah Gian berubah datar dan ia menatap sinis Rania. "Sembarangan kalau ngomong." Ucap Gian. "Ya, bukanlah." Ia membela diri.
"Hehe. Ya terus apa? Makanya cerita, dong! Jangan bikin orang penasaran." Sewotnya.
Gian gemas sekali melihat bibir manyun sang istri. Ia pun mengapitnya dengan ujung jemarinya.
"Jadi,, aku ingat pernah punya momen lucu sama seseorang. Suatu hari aku datang ke Restoran milik Sahabatku. Aku udah mikirin lama, dan udah meyakinkan diri aku untuk mengambil keputusan itu. Aku memberanikan diri mengutarakan niat aku untuk meminang seorang gadis." Gian bercerita.
Rania kembali memasang wajah datar dan,,, sepertinya sembali jengkel. Bisa-bisanya suaminya menceritakan wanita lain padanya.
"Aku udah jatuh cinta sama gadis itu. Ternyata waktu aku lagi ngobrol serius sama teman aku itu, cewek itu datang. Dia kelihatannya kaget banget pas ngeliat aku. Dan dia malah lari. Sampai sembunyi entah dimana. Yang pasti waktu itu aku sempat telfon dia seteleh ngejar dan nyari keberadaanya. Dia bilang kalau dia masih ada di Restoran itu." Gian mengakhiri cerita tersebut dengan senyum mengembang.
Sedangkan Rania kini wajahnya berubah memerah. Ia malu sendiri mendengar cerita dari sang suami.
"Iihhh,,, maaaasss.... Itu kan aku yang mas ceritain." Rengek Rania salah tingkah.
"Hwaahahhaa..." Gian tertawa.
Rania bangun dari posisi berbaringnya dan menatap Gian kesal.
"Mas,,, Iihhh. Masa itu mas bilang lucu. Aku ketakutan banget padahal loh. Masa orang lagi berusaha move on,,, bener-bener pengen banget ngelupain, tiba-tiba ketemu orangnya langsung. Ya aku kaget dong." Rania berkata dengan jengkel mengingat kejadian tersebut.
Ia tak terima hal tersebut dianggap lucu oleh sang suami, sementara dirinya ketar-ketir saat melihat Gian kala itu.
"Lagian, mas jahat banget sih. Mas udah narik ulur hati aku. Memangnya mas kira enak apa dikasih harapan, abis itu hatinya diremukin." Rania berucap menggebu-gebu.
"Untung aja aku masih cinta waktu mas beneran Lamar aku." Rania memasang wajah cemberut.
Gian kembali terkekeh. Ia semakin gemas melihat sang istri yang sedang kesal. Ia pun ikut bangun dan merengkuh tubuh Rania lalu memeluknya erat.
"Sayaang. Mas nggak ada maksud buat ngasih kamu harapan palsu. Tapi, waktu itu mas bener-bener dilema. Mas masih berusaha memastikan perasaan. Waktu itu aku belum sadar kalau aku sudah mencintai kamu, Rania." Gian menjelaskan, tak ingin membuat Rania semakin kesal.
"Waktu Aku mendengar pembicaraan kamu sama Anggi, Saat itu aku mulai merasakan kalau aku memang benar-benar cinta, bukan sekedar perasaan sayang seorang kakak ke adik seperti yang aku pikirkan saat di Pesantren." Gian mulai mengungkit kembali cerita lamanya.
Rania tertegun mendengar penuturan Gian. Ia kembali teringat perkataan Bude Ranti saat ia berkunjung ke pesantren. Ia menatap Gian dengan intens.
Gian berpikir sejenak. "Tertarik?" Ia tersenyum. "Semenjak pertama kita ketemu, mas nggak tau kenapa rasanya ada yang aneh sama perasaan mas waktu itu." Gian melanjutkan.
"Yang pasti, saat kamu jatuh waktu itu mas juga merasa cemas dan panik." Ucapnya membayangkan kembali kisah mereka saat remaja.
"Ja,,,tuh?" Mata Rania membulat sempurna saat teringat kejadian tersebut.
"Yaa ampun, mas masih ingat kejadian itu?? Mas? Itu udah lama banget loh. Nia aja nggak ingat kalau mas gak bilang." Rania benar-benar tak menyangka dengan apa yang ia dengar.
"Apapun,, jika itu kejadian berkesan gak akan semudah itu mas lupain, Sayang. Apalagi tentang kamu..." ucap Gian.
Rania tersenyum malu-malu mendengar hal itu. Ternyata suaminya selama ini memperhatikannya begitu detail. Ia menjadi terharu karenanya.
"Mas. Asal mas tau." Rania kembali berucap namun kali ini dengan wajah serius.
"Nia sebenarnya udah mencoba buat ngelupain mas. Nia udah mencoba buat berhenti memendam perasaan Nia. Karena, Nia ngerasa memang nggak ada harapan, kalau kita akan berjodoh, mas. Sedikitpun Nia nggak melihat tanda dari mas, kalau mas juga punya perasaan untuk Nia. Bahkan, ngasih kode sedikitpun enggak."
"Nia pasrah sama Takdir Allah. Bahkan, saat mas bilang mau Nia jahitin baju buat calon istri mas, Nia terima walaupun sebenarnya hati Nia sakit banget, mas."
Entah sejak kapan, pipinya dilelehi air mata. Gian mendengarkan curahan hati sang istri. Karena memang ini yang ia tunggu. Moment sang istri menceritalan tentang perasaannya sebelum mereka menikah.
"Tapi, kan calon istriku kamu." Kata Gian menghapus air mata sang istri.
Rania tersenyum. "Mas bilang, mas menikahi Nia karena Nia nggak tepat waktu ngasih gaun yang mas pesan waktu itu. Nia cuma pengganti calon istri mas waktu itu kan?" Tanya Rania dengan tatapan sedih.
Gian menggeleng cepat. Mengapa obrolan mereka malah menjadi tegang seperti ini.
"Enggak sayang. Sebenarnya itu cuma akal-akalan mas aja. Rencananya mau surprise, tapi kamu malah marah beneran." Jawabnya.
"Sebenarnya waktu kamu berangkat ke Pekanbaru, Mas langsung datang ke orang tua kamu dan melamar kamu ke mereka. Mereka menerima, dan semua yang mas lakukan itu mereka juga tau. Dan, Mama juga sempat marah karena mas udah bikin kamu nangis dan sakit." Aku Gian.
"Sayaang. Aku nggak pernah punya hubungan sama perempuan selain kamu. Dan kamu satu-satunya wanita yang aku cintai sampai sekarang selain Mama dan Anggi." Ucap Gian mencoba menenangkan hati sang istri kembali.
Rania menatap Gian. Apa benar yang dikatakan oleh sang suami? Apakah memang Gian sudah lama mencintainya? Jika benar maka ia sangat bersyukur karena itu artinya hatinya memang tak pernah salah dijatuhkan oleh Allah pada seorang Gian Hasbi Pranata.
Ternyata lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan akhirnya kini mereka memang disatukan oleh Allah dalam bahtera rumah tangga.
Gian memeluk Rania kembali. Rasanya ia tak bisa berhenti mengucapkan syukur pada Allah yang telah menyatukan cinta mereka.
"Aku Sayang kamu. Aku Cinta kamu,, sampai kapanpun aku akan berusaha menjaga cinta ini untuk kamu." Ucap Gian.
"Aku berdoa, agar kamu memang Tulang rusukku untuk selamanya." Kata Gian lagi. Ia mencium puncak kepala Rania, berlanjut ke kenimg dan seluruh wajah wanita hamil itu. Lalu ia kembali menenggelamkan Rania ke dalam dekapan hangatnya.
.
.
Next....
.
.