
Seminggu sudah semenjak kejadian dengan sedikit kekacauan yang dibuat Bella.
Bella akhirnya tidak punya celah untuk mengusik ketenangan keluarga kecil mantan suaminya.
Penjagaan dan pengawalan yang diberikan papa Johan ke Sea bukan hal yang mudah untuk diterobos begitu saja.
Bella menghela nafasnya, dia mulai merasa lelah dengan hidupnya yang tidak punya tujuan pasti.
Bahkan Alex juga bak menghilang di telan bumi. panggilan dan pesan yang dikirim tidak satupun yang mendapat respon.
"Sialan, sepertinya dia juga ingin mengabaikanku" Bella meremas ponselnya dengan geram.
Berniat menemui Alex, Sea segera mengambil kunci mobilnya dan secepat kilat membelah jalanan ibu kota yang tidak lagi macet.
"Selamat pagi apa pak Alex di dalam" Bella bertanya ke bagian resepsionis.
"Apa mbak sudah ada janji?" Resepsionis membalas dengan ramah.
"Apa perlu membuat janji untuk bertemu dengan kekasihnya" Bella mulai menaikkan nada bicaranya yang sudah sangat kesal.
"Maaf mbak, tapi..."
Belum sempat resepsionisnya menyelesaikan perkataannya Bella sudah meninggalkannya, dan dengan cepat berjalan menuju ke ruangan Alex.
Tentu saja membuat bagian resepsionis bingung, "Kalau mbak ini kekasih tuan Alex terus yang di dalam ruangan siapa?"
"Ah sudahlah biarkan saja, bukankah mbak tadi yang mengatakan dia kekasih tuan Alex"
Sementara Bella sudah sampai di depan ruangan Alex.
Samar samar terdengar suara pria dan wanita yang cekikikan dibarengi dengan suara *******.
"Ini benar ruangan Alex bukan" Bella mengedarkan pandangannya.
"Benar, ini ruangan wakil CEO, berarti Alex ada di dalam"
Bella hendak membuka pintu, namun lagi lagi indra pendengarannya menangkap suara suara aneh yang juga sering dia keluarkn ketika bersama Alex.
Emosi sudah menguasai seluruh kepala Bella, dia yakin di dalam Alex tidak benar-benar bekerja melainkan melakukan kerja kuda kudaan.
"Kurang ajar, kau mengatakan bekerja sangat sibuk, ternyata begini kesibukanmu" teriak bella begitu mendorong pintu.
Seluruh tubuh Bella gemetar menahan amarah yang siap untuk diluapkan
Alex yang sedang memompa wanita nya dengan naik turun sangat terkejut.
Bagaimana mungkin, Bella bisa masuk ke dalam ruangannya, padahal dia sudah memerintahkan sekretaisnya berjaga jangan sampai ada yang masuk ke dalam ruangannya.
"Kau bagaimana bisa ada di sini" Alex dengan terpaksa mencabut rudalnya yang tiba - tiba mengerut akibat kemunculan Bella.
Bella menarik rambut wanita yang dikungkung Alex barusan. "Dasar kurang ajar, berani kau mendekati Alex"
Beberapa tamparan mendarat di wajah perempuan yang bernama Valen tersebut, pun dengan jambakan yang bella layangkan.
Valen yang diserang tiba- tiba tentu saja belum bisa membalas karena keadaan tubuhnya yang bugil, lagi pula kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.
"Stop, bella kau ingun menjadi pembunuh, aku bisa melaporkanmu dengan tuduhan penganiayaan" Alex yang sudah mengenakan pakaiannya dengan asa dan buru-buru baru bisa membuka sura.
"Ya, dan aku akan sekalian membunuhmu" Teriak Bella.
"Kau benar-benar lelaki kurang ajar dan bejat, apa kurangnya aku bagimu?" teriak Bella tanpa melepas rambut Valen.
Kali ini hati Bella benar-benar sakit, Tidak menyangka Alex sudah bermain dengan wanita yang lain.
"Bella, please lepaskan rambut Valen, kita bisa berbicara baik -baik" Alex memelankan suaranya.
Alex tidak ingin mengundang perhatian karyawannya sendiri apalagi sampai terdengar oleh ayahnya sendiri. bisa-bisa dia segera ditendang dari perusahaan.
"Lepaskan, kau wanita gila" desis Valen.
"Ya dan wanita gila ini akan membuat rambut mu habis" Geram Bella kian menguatkan tarikan rambut Valen
"Bella, Bel, tolong lepaskan kita berbicara baik-baik" Alex berbicara dengan nada penuh permohonan.
"Cih, bahkan demi wanita ini kau melembutkan nada bicaramu" Bella berbicara dengan raut wajah mengejek.
"Apapun itu, tolong lepaskan dulu"
Alex membujuk Bella, entah kenapa melihat amarah dan air mata Bella membuat Alex tidak tega bahkan untuk berbicara keras.
Padahal selama ini, Alex kerap kali berbicara kasar ketika Bella meminta pengakuan akan hubungan mereka.
Namun kali ini, Alex merasa sudah menjadi lelaki paling bejat yang sudah membuat Bella marah dan menangis.
Bella melepas rambut Valen, "Aku memang pernah menghianati suamiku, dan sekarang aku tahu rasanya dihianti"
"Terima kasih Alex, perbuatanmu akhirnya menyadarkanku, dan satu lagi kau bukan laki-laki yang layak dan pantas untuk tetap berada di sampingku"
"Aku anggap ini pembalasan akan kesalahanku di masa lalu, dan kalian pasangan yang cocok" Bella bahkan berkata dengan tawa penuh kesakitan.
"Bell... bella.." Alex berusaha mengejar Bella yang sudah dengan cepat meninggalkan tempat itu.
"Alex, mau kemana?" Valen menahan kepergian Alex.
"Kau tidak perlu tahu aku kemana, ingat kau yang menyodorkan dirimu sendiri, lepas" Alex melepas paksa pegangan Valen.
Alex berlari mengejar kepergian Bella. Tetapi sepertinya dia kalah cepat, Bella sudah sampai ke parkiran mobilnya dan melesat pergi.
Karyawan yang melihat Bella yang keluar menangis dari ruangan Wakil Ceo tidak bisa melakukan apa-apa. itu bukan urusan mereka. takut-takut mereka malah kena imbasnya.
Alex melihat kepergian Bella, dan kali ini dia mencoba menelpon Bella meskipun dia tahu akan tidak mendapar jawaban.
Bella berkendara dengan keceparan tinggi, dengan tujuan yang belum pasti.
Bella menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi.
Meremas setir mobilnya, Bella berteriak seperti orang yang tengah frustasi.
"Deon, maafkan aku, ternyata begini rasanya dikhianati, maafkan aku" Bella menceracau.
Setengah jam Bella berusaha menenangkan dirinya.
Perjalanan hidup memang tidak ada yang tahu ke depannya. Kejadian hari ini benar-benar membuat dunia Bella jungkir balik.
Merasa sudah tidak ada yang menginginkannya Bella memutuskan untuk menutup dirinya untuk Alex dan mundur dari Deon.
Dia tahu tidak akan mudah berdamai dengan masa lalu dan dirinya sendiri, tapi hidupnya terus berjalan dan tidak mungkin juga dia akan selalau hidup dalam budak nafsu Alex tanpa pengakuan.
Air mata Bella yang meleleh mulai berhenti. kemudian dia memutuskan tidak kembali ke apartemennya melainkan beristirahat di sebuah hotel.
Dia ingin menenangkan diri, jika ke apartemen dia yakin Alex pasti akan datang kesana. Bella tahu Alex tadi mengejarnya, dan panggilan telepon berulang kali juga selalu diabaikannya.
Bella menghempaskan dirinya ke dalam kasur empuk hotel tersebut.
Pikiran Bella kembali menerawang ke masa lalu. Masa indahnya ketika menjalin kasih dengan Deon kemudian pernikahan yang awalnya hangat dan penuh cinta.
Tetapi hancur karena ulahnya sendiri.
"Deon maafkan aku, maafkan aku" Bella berulangkali mengucapkan kata itu dalam hati.
"Alex, aku akan melepasmu juga, aku harap aku tidak akan bertemu denganmu lagi di masa depan" Keputusan yang berat namun Bella ingin memulai hidupnya yang baru.