
Hai Reader ku tersayang, menunggu Love is never Wrong up date, Ayaki's mom mulai membuat buat karya baru yang kedua...
Judulnya geeky Girl is mine. Yukkkk mampir ya reader. bantu komen, like dan Sarannya ya teman.
*loveYouAll*
Gladyshe Julies, Usia 22 tahun, putri semata wayang Carlen Julies. Kehidupan mereka yang sederhana, namun penuh kasih dan merupakan keluarga yang hangat.
Carlen Julies daddy Julies memiliki toko yang lumayan besar dengan menjual sembako.
Penjualan sembako milik Carlen bisa dikatakan sudah lebih dari cukup untuk biaya sehari-hari mereka.
Sang putri, Gladyshe saat ini menempuh pendidikan tingkat akhir di salah satu universitas ternama di negara tersebut.
Sekolah tingkat atas tempatnya menimba ilmu dahulu dengan mempertimbangkan nilai akademis yang selalu berada dalam peringkat pertama.
Sehingga pihak sekolah merekomendasikan gladis untuk masuk ke Universitas bernama Universitas Decaprio tersebut.
Kecerdasan gadis tersebut membawanya bernasib baik sehingga bisa mendapatkan beasiswa penuh dari awal masuk universitas sampai selesai.
Gladis merasa begitu beruntung mendapatkan beasiswa tersebut pun dengan daddynya Carlen.
Semenjak sekolah tingkat atas Gladis sosok yang tertutup dan tidak begitu suka bergaul.
Kutu buku dan berada di peringkat teratas tidak jarang teman-temannya memanggilnya dengan sebutan Geeky girl.
Namun, itu bukan pengaruh yang buruk untuknya selama mereka tidak melakukan bullying atau menyerang privasi apalagi menghina sang daddy kesayangannya.
Gladis sebenarnya gadis yang sangat cantik diimbangi dengan hatinya yang baik pula.
Bahkan sebutan Geeky girl juga masih melekat dalam dirinya dari teman yang berada di universitas yang sama dengannya.
Bukan tanpa alasan, keinginannya untuk mempertahankan beasiswa dan ingin cepat lulus kemudian bekerja dengan harapan bisa membantu daddynya tanpa harus bekerja dengan begitu keras lagi.
Penampilannya yang sederhana, rambut yang tidak pernah tergerai lepas pun dengan kacamata yang bertengger di hidung sebagai penahannya.
Mata sebelah kanan Gladis mengalami rabun sejak sekolah tingkat pertama sehingga tanpa kaca mata akan membuat matanya perih dan susah dalam melihat.
Dia sedikit susah dalam menemukan sahabat yang klop di hatinya. itu sebabnya dia sedikit membatasi dirinya. Selain takut salah memilih sahabat juga karena takut hilang fokus.
Di universitas dia hanya memiliki dua orang sahabat dekat. Arlin dan Clay. Arlin Clay orang tuanya bukan keluarga sederhana seperti keluarga Gladis.
Arlin keluarganya memang memiliki materi melimpah namun berada dalam pengasuhan keluarga yang broken home.
Clay, merupakan putri dari salah satu pejabat pemerintah yang berpengaruh di negara tersebut.
Tidak ingin berpisah mereka akhirnya kemvali melanjutkan pendidikan di universitas yang sama meski dengan beda jalur cara masuknya.
*********
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Kediaman Tuan Carlen belum ada tanda - tanda sang gadis keluar dari dalam kamarnya.
"Gladis.... Apa kamu belum bangun" Carlen menggedor pintu kamar Gladis.
Beberapa kali gedoran belum ada sahutan, dan Carlen kembali menggedor.
Gladis ternyata masih tidur dengan pulasnya. lamat-lamat dia mendengar panggilan daddy dan gedoran pintu.
"Oh God.... Aku kesiangan" Gladis membulatkan matanya melihat jarum jam sudah menunjuk angka tujuh.
"Daddy aku akan keluar, begitu selesai mandi dan bersiap" Gladis berteriak dari dalam kamarnya.
"Baiklah" Carlen menggelengkan kepalanya, tidak biasanya putrinya itu bangun siang.
"Selamat pagi daddy, aku tidak sempat sarapan bersama, aku sudah terlambat" Gladis keluar dari kamarnya lengkap dengan tas punggungnya.
"Apa tidak bisa makan sedikit saja, nanti kau bisa sakit, pagi ini biar daddy antar" Ucap daddynya.
"Tidak usah daddy, aku bisa sarapan di kantin".
Carlen tahu putrinya paling tidak suka merepotkannya.
"Sayang, bukankah lebih baik naik mobil bereama daddy dari pada naik sepeda" Tanya Carlen lagi melihat Gladis mengeluarkan sepedanya
"Tidak daddy, aku hanya ingin membantu mengurangi polusi di negara kita, sebaiknya daddy sarapan saja, Bye daddy aku pergi".
Gladis mencium pipi daddynya sebagaimana dia sering melakukannya ketika akan berangkat.
"Baiklah, hati-hati putri daddy, semoga hari ini menyenangkan" Balas Carlen.
Gladis mengayuh sepedanya dengan semangat. Merasa sudah sangat terlambat dia berinisiatif mengambil jalan pintas agar bisa memotong jalan tanpa harus jauh untuk dapat berputar arah.
Jalur berlawanan arah menjadi alternatif yang dia ambil beberapa kali ketika sudah dikejar waktu.
Tapi sayang sekali, sepertinya Dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya.
"Brukk" Ban sepeda depannya menghantam bagian belakang sebuah mobil hitam mewah yang sedang parkir di trotoar jalan.
Gladis tidak sampai terjatuh, dan langsung berdiri.
"Kenapa yang punya mobil parkir sembarangan?, Dewi fortuna pun tidak berpihak denganku" Gerutu Gladis