Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Jangan berpikiran yang tidak-tidak



Matahari sudah menampakkan wajahnya dengan sempurna, tetapi dua insan masih bergelung di dalam selimut putih.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Deon mengerjapkan matanya melihat ke arah jam.


Pantas saja perutnya sudah mulai keroncongan, begitu membuka matanya.


Waktu sarapan pagi sudah terlewatkan beberapa jam dari yang seharusnya.


Deon menyibak rambut Sea yang menutupi sebagian wajah. Rasa lelahnya semalam membuat Sea tertidur dengan begitu dengan nyenyak hingga matahari telah naik beranjak.


Deon mengecup kening Sea, Kemudian beranjak dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidurnya yang pulas.


Ya, Deon takut dengan berlama-lama memandangi Sea, akan semakin mengundang yang dibawah sana semakin memberontak.


Dia tidak tega, menggempur Sea pagi ini. Mereka semalaman tertidur tanpa sehelai benang pun, kecuali selimut putih yang sekarang melilit sebatas dada Sea.


Deon menuntaskan mandi paginya dan kemudian keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.


Mendengar derap langkah Deon, Sea mengerjapkan matanya pula.


Kesadarannya mulai terkumpul. Melihat wajah segar Deon membuat Sea memberikan penilain akan ketampanan Suami yang bertambah berkali lipat.


Sea memandangi suaminya, sekelebat kegiatan panas mereka kini memenuhi kepalanya.


Ingatannya juga kembali akan keadaannya yang hanya tertutup selembar selimut putih.


Sea menutup wajah, sungguh kejadian semalam membuatnya malu menatap Deon.


"Good morning sayang" sapa Deon dengan lembut, "Kamu sudah bangun hm" Deon mengusao rambut Sea dengan sayang.


"Kenapa tidak membangunkanku" Tanya Sea pula


"Tidurmu terlalu pulas, mungkin karena kelelahan" Kerling Deon dengan nakal.


Bunyi perut Sea menyadarkan Deon. Dia tahu sekarang sea dalam keadaan lapar.


"kamu pasti sudah sangat kelaparan, aku sudah memanggil petugas hotel agar mengantarkan sarapan kita kemari" Deon menerangkan.


"Kamu sebaiknya mandi terlebih dahulu agar segar" Deon menambahkan.


Sea mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Namun rasa nyeri di bagian intinya masih terasa.


Deon yang paham akan apa yang Sea rasakan tampak merasa bersalah. seharusnya tidak sampai berulang ulanh tetapi dia benar tidak bisa menahannya.


"Apa masih sangat sakit" Tanya Deon.


Mendengar pertanyaan Deon membuat Sea semakin malu bukan kepalang.


Sea menggelengkan kepalanya, pikiran liarnya kian berkelana, mengingat dengan jelas betapa perkasanya suaminya tersebut.


"Kalau sakit katakan sakit" Deon berkata kemudian mengangkat Sea menuju kamar mandi, Sea memekik karena terkejut akan perlakuan Deon.


Deon yang sudah menyiapkan air hangat di bath up ditambah dengan aroma terapis yang sangat menyenangkan.


"Berendam akan membuat tubuh mu menjadi rileks" Deon seakan mengerti apa yanh dibutuhkan Sea saat ini.


Sea melakukan apa yang dikatakan suaminya.


Petugas hotel sudah mengantarkan apa yang dipesankan oleh Deon.


Sarapan sudah ada di dalam kamar. Rasa lapar Deon memang sudah sangat membuncah namun dia masih bersabar menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.


Sea keluar dari dalam kamar mandi lengkap dengan pakaian ganti yang sudah Deon siapkan dengan handuk yang melilit di kepalanya.


Deon menyambut Sea dengan senyum menawannya dan mengajak Sea segera untuk sarapan.


"Sayang, kemarilah" Ucap Deon


Sea mendudukkan bokongnya di samping Deon.


"Rupanya makanannya sudah datang,Aku lapar sekali" keluh Sea


"Makanlah yang banyak, agar kamu bertenaga" Ucap Deon dengan penuh maksud.


Sea segera melahap makanannya pun dengan Deon. Bahkan ketika makan tidak ada yang membuka percakapan karena asyik dengan makanannya.


Deon menyelesaikan makannya terlebih dahulu, terbiasa makan dengan cepat ketika bertugas.


Sementara Sea juga sudah hampir menyelesaikan sarapannya.


"Apa masih kurang" Deon bertanya


"Sudah, bahkan sudah lebih dari biasanya" Jawab Sea.


Mereka menyelesaikan sarapan pagi.


Deon menarik tangan Sea.


"Duduklah, aku akan membantu mengeringkan rambutmu"


Deon melepas lilitan handuk dari kepala Sea kemudian memulai meng hairdryer rambut Sea.


"Intimu apa masih sakit Se?" Tanya Deon dengan frontal.


Pertanyaan Deon tentu saja membuat Sea terkejut.


"Apa tidak bisa bertanya dengan tidak sefrontal itu?" Gerutu Sea.


"Jadi aku harus bertanya dengan bagaimana?" Tanya Deon pula.


"Ya sudah, aku akan memeriksanya nanti, Aku membawa beberapa obat obatan yang sekiranya kamu butuhkan ketika di sini"


"Maksudnya memeriksa bagaimana" Pikiran Sea tidak sepolos itu, pikirannya mulai bertraveling arah pembicaraan Deon.


Sea menggeleng gelengkan kepalanya. Membayangkannya saja membuat wajah Sea sudah sangat memerah.


"Memikirkan apa, jangan berpikir yang tidak-tidak" Deon membuyarkan pikiran Sea.


Deon hanya bisa menahan tawanya dalam hati takut menyinggung Sea.


Sebab dia tahu ke mana arah pemikiran Sea.