
Satu harian Deon menikmati pekerjaannya, rasanya hari ini benar - benar berbeda. Konsultasi dan cek rutin ibu hamil juga dia layani dengan senyum yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Pukul 05 Sore Deon sudah keluar dari ruangan Rumah sakit, setelah semua pekerjaannya selesai.
"Sus, saya duluan ya.. kalau ada yang darurat, atau pasien tiba-tiba yang urgent boleh telepon saya" Pesan Deon setelah memastikan dokter kandungan yang lain sudah standbye di tempat sebelum keluar dari ruangan.
Meskipun di rumah sakit itu memiliki 3 dokter kandungan, bukan tidak percaya dengan dokter lain, namun Deon ingin memberikan pelayanan yang terbaikdi rumah sakit milik keluarganya.
Deon segera menuju parkiran tempat mobilnya, dan segera mengendarainya pulang ke apartemennya.
Sementara di Apartemen, Sea yang merasa sudah bosan membolak balikkan tesisnya memutuskan memasak.
Berkutat di dapur, bel berbunyi Sea bergegas membukakan pintu setelah melihat yang datang Bik Nur yang biasa membersihkan apartemen mereka setiap sore.
"Eh bibi sudah datang, mari masuk bi, kebetulan Sea baru aja memulai memasak" Ajak Sea dengan Ramah setidaknya dia tidak merasa kesepian lagi dan ada teman mengobrol.
Bibi Nur segera masuk,"Apa yang bisa saya bantu non" tanya bibi Nur tiba di dapur.
"Bibi tidak usah panggil non, panggil Sea saja, tidak enak mendengarnya bi" Sea cemberut dengan panggilan Bibi Nur.
"Kan tidak enak Non, ya sudah bibi panggil Nak Sea saja" Jawab Bibi
"Nah gitu kan enak Bi, di rumah mama juga Sea punya Bibi Ratih tidak pernah memanggil kami pakai kata non, biar lebih dekat" terang Sea
sambil melanjutkan acara masaknya Sea tidak mengizinkan Bibi Nur membersihkan apartemennya, karena bosan tadi Sea sudah membersihkannya.
"Hari ini bibi temani Sea masak saja, semua sudah Sea bersihkan Bibi tenang saja, cukup lihat Sea memasak, terus mencicipi apa masih ada yang kurang" kata Sea
"Waduh, jadi tidak enak bibi nak Sea, masak datang tidak ngapa ngapai, udah bibi bantu nak Sea memasak saja"
" Ya Sudah, ayo bi.. kita lanjut memasak" ajak Sea
Satu jam berlalu, sambil memasak Sea dan bibi Nur banyak bercanda dan bercerita
"Bibi sudah lama ya kerja sama Deon" tanya Sea
"Sudah 2 tahun Nak, begitu nak Deon pindah ke apartemen ini bibi yang membersihkan tapi hanya sore hari" terang bibi Nur
"Ya betahlah nak, nak Deon itu baik hanya saja jarang berbicara, berbicara hanya seperlunya ke bibi dan juga tidak pernah menunjukkan keberatan dengan sistem kerja bibi"
Sea manggut-manggut mendengar penjelasan bibi.
Bersamaan dengan obrolan mereka bel kembali berbunyi, "Bi, Sea saja yang buka, Bibi di sini saja"
Sea segera membuka pintu, dan melihat Deon sudah pulang. '
"Kamu sudah pulang, apa tidak begitu sibuk" Tanya Sea
"Hari ini tidak begitu sibuk, dan tidak ada jadwal operasi" Jawab Deon sambil berjalan masuk, begitu masuk indra penciumannya menghirup aroma masakan yang menggugah seleranya.
"Kamu masak ya? kebetulan sekali aku lapar" kata Deon
" ia, sudah selesai masak, kamu segeralah mandi, aku siapkan makanan" Jawab Sea
Deon segera membersihkan tubuhnya yang sudah lengket, dan karena memang benar - benar lapar dia segera keluar dan menuju dapur.
"Nak Deon pasti senang mendapatkan istri cantik dan pintar masak seperti nak Sea" Puji Bibi Nur
"Ah, bibi bisa saja, biasa saja kok kan perempuan semuanya cantik dan harus bisa masak juga, bibi juga cantik makanya perempuan" Canda Sea
"Ya enggak begitu juga Nak Sea, ada banyak kan sekarang perempuan hanya cantik saja, tapi tidak bisa memasak"
"Ya kalau tidak bisa memasak kalau punya anak di kasih makan apa bibi? kata mama Sea, perempuan boleh tidak memasak asal jelas alasannya kenapa? boleh dibantui Asisten Rumah Tangga tetapi ya tetap saja sebagai ibu di rumah wajib memasakkan untuk suami dan anak - anaknya" terang Sea
Deon yang sudah selesai mandi mendengarkan percakapan Sea dan bibi Nur tanpa berniat menyela. ada kehangatan dan kesenangan tersendiri mendengar apa yang dikatakan Sea.
"pantas saja Nak Deon menikahi kamu nak Sea, punya istri ternyata selain cantik dari luar juga cantik dari dalam" Puji Bibi Nur
Sea hanya tersenyum "Bibi tidak tau saja kalau kami menikah karena tragedi" kata Sea dalam hati, dan tiba tiba saja ada kesenduan di hatinya.
Deon yang memperhatikan raut wajah sea yang tiba - tiba sendu segera menghampiri Bibi Nur dan Sea.
"Bukankah masakannya sudah selesai, apa makanannya sudah bisa dimakan?" Tanya Deon dengan sedikit tersenyum. Deon tahu Sea sedang memikirkan sesuatu.