Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Episode 77



Mood ibu hamil memang membingungkan. Sulit sekali untuk dipahami. Terkadang disaat tengah senang-senangnya, bisa saja berubah menjadi kesal hanya karena hal sepele. Begitupun sebaliknya.


Begitulah Rania. Ia kini telah melupakan kekesalannya tadi hanya dalam waktu setengah jam. Setelah dirinya meninggalkan Gian tadi di taman, ia hanya memainkan ponselnya di kamar. Dan kini mood nya sudah membaik. Ia mencari keberadaan suaminya itu.


"Mas,," Sahut Rania memutari rumahnya.


"Mas,,,Mas Gian...." Panggilnya lagi.


"Mas Gian kemana, sih?" Gumamnya yang mulai jengkel karena tak kunjung menemukan suaminya.


Ia berpikir untuk mencari sang suami di ruang kerjanya. Rania pun berjalan menaiki tangga dengan kening mengkerut.


Ceklek... Rania menatap datar Gian yang sedang menatapnya juga. Suaminya itu tengah memegang lembaran kertas di atas meja kerjanya dengan pulpen di tangan kanannya. Ia lalu menghampiri suaminya itu.


Gian menautkan alisnya saat melihat gerak-gerik istrinya yang tak menentu itu. Rania duduk di sofa dengan menghempaskan tubuh kecilnya. Ada apa lagi dengan istrinya ini? Pikir Gian heran.


Ia hanya mengangkat bahu acuh. Sulit sekali baginya untuk memahami mood Rania yang berubah-ubah. Namun ia juga tak bisa menahan diri melihat istrinya itu yang terlihat gelisah.


"Kenapa?" Tanya Gian.


Rania menoleh padanya. "Mmm,,, Nia mau jambu kristal langsung dipetik ke kebunnya." Ucapnya santai.


Gian terbelalak. Istrinya mengidam.


"Kamu serius?" Tanya Gian memastikan.


"Iya lah. Temenin ya." Kata Rania dengan wajah tanpa beban. Gian tercengang dibuatnya. Ajaib memang.


"Mas. Ihh,," Rania kesal.


"Apa?" Tanya Gian.


"Temenin. Ke Bogor doang, lho."


Gian tak habis pikir dengan tingkah istrinya. Malam-malam seperti ini istrinya berkata untuk pergi ke Bogor, hanya demi buah jambu. Untung saja ia ingat jika istrinya itu sedang hamil.


"Besok, ya." Gian mencoba bernegosiasi.


"Sekarang." Ucap Rania dengan nada tak ingin dibantah.


Gian menghela napas berat. Namun, meski begitu ia segera bangkit dari duduknya tanpa mau mengundang perdebatan dengan istrinya itu.


Seketika wajah Rania langsung berbinar. Ia kemudian langsung berlari menyusul Gian yang sudah keluar dari ruang kerjanya.


.


.


"Ata.." Sahut Bu Nora saat melihat anaknya berjalan ke arah dapur.


"Iya, Mah." Jawab Tari.


"Itu ada buah Ceri di kulkas. Rafik tadi nitip ke mama sebelum pergi. Katanya di beli buat kamu." Ujar Bu Nora.


Tari terdiam berpikir. Buah Ceri? Apakah yang dimaksud oleh Mamanya adalah Ceri Lapins yang selama ini sangat ia inginkan? Tari pun bergeges ke dapur dan membuka kulkas. Ia menyambar kotak berwarna putih yang terbuat dari sterofoam itu. Dan benar saja, isinya adalah Ceri Lapins. Ceri manis dan cantik yang selama ini selalu membuatnya tergugah saat melihat gambarnya di sosial media.


Dengan wajah berbinar, Tari mengambil buah satu buah dan memakannya. Rasanya benar-benar manis. Sungguh ia tak menyangka akan bisa menikmati buah ini dalam waktu cepat.


"Hmm,,, Senang banget dikasih Ceri sama suami." Kata Mama yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Tari terdiam mematung mendengar ledekan mama. Ia merasa malu sendiri.


"Mama mau?" Ucap Tari menawarkan.


"Enggak." Jawab Bu Nora tersenyum melihat raut denang di wajah putrinya itu.


"Oh, iya. Rafik pulang jam berapa?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Mmm,, Mas Rafik nggak pulang hari ini, Mah. Dia langsung ke Malang."


Mama mengangguk. Ia maklum saja dengan kesibukan menantunya itu.


"Ta. Mama boleh nanya?"


Tari menatap sang mama dengan alis bertaut. Ia menjadi was-was dengan apa yang akan ditanyakan oleh Mamanya itu.


"A,,apa, mah?"


"Kalian sebenarnya sejak kapan dekat? Soalnya mama nggak pernah lho, sebelumnya ketemu Rafik. Namanya aja mama juga nggak pernah dengar sebelumnya diantara teman-teman kamu." Kata Bu Nora.


Tari yang ditanyakan hal seperti itu menelan salivanya susah payah. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan mamanya ini.


"Ee,, itu. Sebenarnya kita belum kenal terlalu lama, sih Mah. Tapi, mas Rafik langsung pengen serius. Ya udah, Ata terima aja." jawabnya. Dalam hati Tari menyesali ucapan kebohongannya.


"Ya sudah. Mama mau ke kamar. Udah malam juga. Kamu istirahat ya, sayang." Kata Bu Nora yang diangguki oleh Tari.


"Iya, mah."


Tari memandangi punggung sang mama yang mulai menghilang. Rasa bersalah masih saja ia rasakan saat menatap wanita yang telah melahirkannya itu. Entah sampai kapan kebohongan ini berlangsung. Entah berapa lama ia akan hidup bersama lelaki yang tak ia cintai. Kehidupan barunya baru saja dimulai, bukan.


Perasaannya sekarang menjadi gundah. Tari melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampai di kamar ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Memeriksa ponselnya.


Ia menatap sedih layar ponselnya. Entah apa yang harus ia katakan nanti kepada sahabat-sahabatnya yang terus saja berkoar di grup whatsapp. Terasa berat beban di pikirannya dengan menyembunyikan semua ini


"Ya, Allah. Apa yang harus hamba lakukan? Hamba benar-benar merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal sebesar ini. Hamba mohon, tolong lindungi hamba dan bantulah hamba Ya Rabb.." Gumam Tari memohon pada Sang Maha Kuasa.


Satu-satunya tempat baginya mengadu dan berserah saat ini hanyalah pada sang Pencipta. Ia yakin Allah akan memberikan kekuatan untuknya. Dan semua akan berjalan atas kehendak-Nya.


Ting... Satu pesan kembali masuk. Tari semakin berdebar setelah membaca pesan itu. Winda mengajak mereka hang out besok siang. Bagaimana ia akan merespon pesan itu? Dan bagaimana ia akan pergi besok, sementara statusnya sudah berubah menjadi seorang istri, yang tentunya setiap ia akan keluar rumah haris seizin suaminya. Lagi-lagi Tari menghela napas berat.


.


.


"Sayang.. Bangun. Nia, heii.." Gian menepuk pelan pipu Rania. Istrinya itu tertidur saat mereka sampai di kebun jambu yang dimaksud oleh Rania setelah menempuh perjalanan selama 1 jam.


Rania melenguh dalam tidurnya yabg terusik. Ia pun mulai mendapatkan kembali kesadarannya sembari mengucek matanya. Ia menatap sekeliling dengan mata yang masih menyipit.


"Ayo turun. Kita udah sampai." Ucap Gian yabg diangguki oleh istrinya itu.


"Mas. Emang masih bisa masuk?" Tanya Rania tiba-tiba membuat Gian mematung. Mengapa istrinya ini baru bertanya sekarang?


"Kita masuk dulu aja." Gian pun keluar dari mobil.


Rania mengikuti apa yabg dilakukan suaminya itu. Ia mematut sekeliling lokasi perkebunan jambu kristal tersebut dengan wajah polosnya. Seketika wajahnya berseri saat melihat pintu masuk masih terbuka dan terlihat cahaya lampunya yang sangat terang.


"Mas. Itu pintunya kebuka." Ujar Rania. Gian pun ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sang istri.


"Iya. Ya udah, kita kesana." Kata Gian.


Tepat berada di depan pintu masuk perkebunan itu, Gian menyucap salam. Mencaritahu juga apakah ada penjaganya atau tidak. Lalu, seorang lelaki berusia kira-kira 50an tahun muncul dari dalam pondok kecil dekat pintu masuk.


"Malam, pak." Sapa Gian.


"Iya. Ada yang bisa dibantu, mas?" Tanya lelaki paruh baya itu.


"Maaf mengganggu malam-malam, pak. Istri saya lagi ngidam. Pengen metik jambu langsung di kebunnya pak. Apa kami boleh masuk, pak?" Jelas Gian.


"Oh, begitu." Penjaga kebun tersebut terkekeh mendengar penjelasan Gian. Ia maklum dengan apa yang sedang dialami oleh Gian sebagai seorang suami yang istrinya tengah hamil.


"Boleh, mas. Kebetulan kebun Jambu ini nggak ada waktu buka dan tutupnya, mas. Jadi, bisa berkunjung kapanpun selagi ada penjaga." Penjaga kebun Jambu tersebut terlihat ramah.


"Alhamdulillah. Kalau begitu, kami masuk ya pak."


"Iya,, mari mas." Kata penjaga tersebut yang mengarahkan Gian untuk masuk. Sementara Rania hanya mengikuti langkah suaminya.


Rania berbinar begitu memasuki kebun jambu tersebut. Ia menyusuri pohon jambu yang berjejer membentuk ruang yang dapat dilewati. Buahnya begitu lebat membuat Rania gemas san antusias.


"Waahh,, banyak banget buahnya." Ucap Rania senang. "Mas,, pengen tinggal disini." Gian membulatkan mata terkejut. Ada-ada saja istrinya.


"Apa, sih? Jangan aneh-aneh, deh." Sinis Gian.


"Isshh..." Balas Rania tak kalah sinis.


"Udah, deh. Sekarang kamu petik secukupnya. Abis itu kita pulang."


Rania memutar bola matanya mendengar titah Gian. Ia kemudian menuruti saja perkataan suaminya itu. Ia membawa satu keranjang berukuran sedang sebagai wadah untuk menyimpan buah jambu yabg telah dipetik. Rasanya Rania tak puas dengan keranjangnya yang sudah penuh, berisi sekitar 10 buah jambu kristal.


"Udah, sayang. Jangan banyak-banyak." Kata Gian menahan tangan Rania yang ingin memetik lagi.


"Mas,,, Buahnya banyak lho. Aku gemes liatnya." Rania dengan wajah memelasnya.


"Iya. Tapi jangan banyak-banyak. Siapa yang mau makan nanti?"


"Ya, aku lah." Rabia berucap enteng.


Gian menghela napas berat. Lagi-lagi ia hanya bisa mengurut dada melihat sikap istrinya yang sedang labil ini. Ia harus banyak bersabar.


.


.


Bersambung.......


.