
Tari mengetuk pintu berwarna coklat gelap itu. Ada rasa gugup karena akan memasuki ruangan yang katanya adalah ruangan suaminya. Tari masih tak percaya sebelum ia melihat langsung keberadaan suaminya di dalam.
"Masuk!" Samar-samar Tari mendengar sahutan dari dalam. Ia semakin deg-degan saja.
Ceklek. Pintu terbuka. Yang Tari lihat pertama kali adalah ruangan dengan desaign kontemporer yang membuatnya takjub.
"Ngapain kamu diam disitu?" Ujar Rafik membuat Tari tersentak. "Kalau mau masuk, ya masuk. Kalau nggak, pulang aja!"
Tari tersentak mendengar ucapan lelaki itu. Sinis sekali. Apa ia tak bisa bersikap lembut padanya? Bukankah lelaki itu yang ingin menikah dengannya, tapi mengapa ia tak memperlakukannya dengan baik.
"Kamu nggak tiba-tiba jadi tuli kan Mentari? Ayo masuk!" Titahnya.
Tari pun melangkahkan kakinya yang terasa berat memasuki ruangan yang sangat elegan itu. Ia berjalan ke arah sofa dimana Rafik sedang menata makanan yang tadi ia bawa. Lelaki itu terlihat masih mengunyah sesuatu, sepertinya buah pisang. Karena, Tari melihat kulitnya ada di samping kotak makanan.
"Duduklah!" Ujar Rafik. Tari menurutinya dengan ragu. Ia kini telah duduk di samping lelaki yang berstatuskan suaminya itu.
Rafik mulai menyantap makanannya. Dan hal itu tak lepas dari perhatian Tari. Suaminya sangat lahap memakan makanan yang ia masak. Alangkah senangnya hatinya. Setidaknya suaminya tak menolak masakannya.
"Kamu udah makan?" Tanya Rafik membuat Tari tersentak.
"Be,, belum." Jawabnya.
"Sini, lebih dekat!" Titah nya.
Saat Tari sudah berasa dekat dengannya, Rafik menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk ke dekat mulut Tari.
"Buka mulut!" Katanya. Tari langsung menurutinya. Ia membuka mulut dan menerima suapan itu dengan hati bergemuruh. Sedangkan Rafik bersikap biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Tari merasa ada desiran aneh di dadanya.
Ternyata Rafik bisa perhatian padanya. Ia menatap lelaki itu yang fokus menyantap makanan dan juga menyendokkan makanan itu untuknya. Ia berharap Rafik akan selalu bersikap manis seperti ini mulai sekarang.
.
.
Gian memarkir mobilnya di depan butik. Ia langsung masuk ke toko pakaian itu.
"Mas?" Sapa Rania melihat suaminya memasuki butik.
"Hai." Balasnya. Gian mengecup puncak kepala istrinya itu saat jarak mereka sudah sangat dekat.
"Mas udah makan siang?" Tanya Rania.
"Belum." Jawabnya dengan tersenyum.
"Gimana kalau kita makan siang di kafe depan aja." Usul Rania.
"Boleh. Tapi, berdua aja ya. Kebetulan aku mau bicarain sesuatu sama kamu." Kata Gian.
Naya menatapnya penuh selidik. "Mau bicarain apa, nih? Kayaknya privasi." Ujar Rania.
"Ya,, bisa dibilang begitu. Udah, yuk! Aku udah lapar." Kata Gian menggenggam tangan wanita yang dicintainya itu.
Mereka menyeberang jalan untuk sampai ke restoran yang dimaksud oleh Rania. Gian tersenyum melihat istrinya yang sangat antusias itu.
"Nggak usah cepat-cepat jalannya, sayang." Kata Gian sedikit menarik tangan sang istri hingga membuat langkah Rania melambat.
Sesampai di restoran tersebut, mereka langsung menempati salah satu meja yang kosong. Lalu Gian memesan memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Ada apa sih, mas?" Tanya Rania setelah pelayan yang tadi menghampiri mereka berlalu ke dapur. "Biasanya nggak perlu seprivasi ini deh kalau kita mau ngobrol."
Gian menatap intens wanita yang kini telah menjadi pendamping hidupnya itu. "Kamu pasti bakalan kaget,,," Katanya membuat Rania mengerutkan dahinya.
"Kenapa memangnya? Apa jangan-jangan ada kabar buruk ya?" Tanya Rania was-was.
Gian malah tersenyum, hal itu membuat Rania menjadi bingung. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh suaminya?
"Mas,, Kok malah senyum, sih?" Rania berucap dengan kesal.
"Ya abis kamu asal nebak gitu." Jawab Gian masih dengan sedikit senyumnya.
Ia menghela napas sejenak sebelum memulai membuka obrolan penting mereka. Ya, menurut Gian memang penting. Karena ini menyangkut ketenangan dan kebahagiaan sang istri. Ia sudah tak tahan melihat Rania yang terus uring-uringan memikirkan Tari.
"Ini tentang Tari." Ucap Gian. Sontak membuat Rania yang tadinya sudah cemberut kini merubah ekspresinya begitu saja menjadi tegang.
"Tari? Ma,,, maksudnya,, mas tau sesuatu tentang Tari?" Tanya Rania tak sabar.
Gian mengangguk. Sontak, Rania menelan salivanya susah payah. Ia merasa tegang tiba-tiba membayangkan apa yang akan dikatakan suaminya setelaah ini. Takut-takut jikalau itu kabar buruk.
"Dengar ya, sayang!" Ucap Gian dengan suara rendah namun sarat akan penegasan. Gian kini memajukan badannya, dengan refleks Rania juga melakukan hal yang sama.
"Kamu jangan ceritain dulu ke teman-teman kamu apa yang akan aku katakan. Kamu dengar dulu penjelasan aku, nanti kamu pasti tau apa yang harus kamu lakukan." Jelas Gian.
"Sebelum itu, aku mau tanya. Kecurigaan kamu ke Tari itu bagaimana?" Gian menatap lekat Rania yang tampak berpikir.
"Kalau aku sih ngerasa aneh aja sama sikap Tari beberapa hari ini. Dia kayak nyembunyiin sesuatu. Tapi, Debby sama Winda ngerasain yang lebih janggal. Debby dengar kalau Tari itu disebut istri sama tetangga tantenya. Terus, Winda kemaren juga ngeliat Tari sama cowok, dan katanya itu suaminya Tari. Gitu, mas!" Kata Rania menjelaskan semua kejanggalan-kejanggalan yang dirinya dan sahabat-sahabatnya rasakan tentang Tari.
"Semua itu bener." Ujar Gian menanggapi cerita dari sang istri. Hal itu sukses membuat Laila terkejut dengan mata membulat.
"Hah? Maksud mas, bener kalau Tari itu udah nikah?" Tanya Rania yang diangguki oleh Gian.
"Tari memang sudah menikah, sayang. Suaminya adalah teman bisnis aku." Gian melihat sendiri wajah Rania yang begitu kalut. Istrinya itu tak lagi berkomentar apa-apa. Bibirnya kelu, dan mata Rania mulai berkaca-kaca.
"Dia orang yang baik, bertanggung jawab dan bijaksana. Semoga aja sahabat kamu baik-baik aja sama dia, dab selalu bahagia." Kata Gian.
Kalimat panjang Gian itu sukses membuat sebutir bulir bening jatuh dari pelupuk mata Rania. Huh,, ia merasa cengeng sekarang.
Gian menjangkau sang istri untuk mengelap air matanya. Gilang berpindah ke samping Rania yang memang kursi yang mereka duduki itu panjang. Ia merengkuh tubuh sang istri, membawa ke dalam pelukannya.
"Ssttt,,,"Ia mengusap punggung Rania.
"Tega banget ya mas, Tari ngerahasiain pernikahannya dari kita? Apa kita nggak boleh tau? Apa dia udah nggak anggap keberadaan kami lagi sebagai orang penting di hidupnya?" Curhat Rania.
"Jangan ngomong gitu, sayang. Nanti jatuhnya kamu suudzon. Tari pasti punya alasan kenapa dia bisa melakukan hal ini? Kamu pasri kenal sahabat kamu gimana?" Gian mencoba memberi penerangan untuk Rania. Ia tak ingin istrinya menjadi salah tangkap dalam masalah ini.
"Sebaiknya kamu bersikap seperti nggak terjadi apa-apa aja. Kamu pura-pura nggak tau aja dulu. Tari bilang sendiri sama aku kalau dia pasri akan cerita sama kalian semua masalah yang terjadi sekarang. Makanya kamu tunggu aja, ya." Lagi Gian berusaha menjernihkan pikiran sang istri.
Rania mengangguk di dalam pelukan sang suami. Meski sebenarnya ia merasa sakit setelah mengetahui fakta yang disembunyikan Tari dari dirinya dan sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, apa yang dikatakan Gian memang benar. Ia akan menunggu Tari sendiri nanti bercerita padanya.
.
.
Bersambung....
.
.