
Di ruang kerjanya, Rafik tengah berkutat dengan dokumen-dokumen yang baru diberikan oleh Sekretarisnya tadi siang. Ia mencoba untuk fokus, namun malah semakin sulit. Bayangan CCTV tadi siang masih terus menghantui pikirannya.
Ia berdecak mengingat sikap Fathan yang sepertinya tertarik pada istrinya. Huhh,,, menyebalkan sekali.
"Ckk,, Apa sih ini? Nggak becus banget bikin dokumen seperti ini." Rafik melempar dokumen tersebut ke meja. Sudah yang kesekian kalinya ia marah karena kesalahan kecil pada dokumen tersebut. Padahal biasanya ia hanya akan meminta karyawannya memperbaiki berkas itu.
Tok tok... Hingga suara pintu diketuk membuat ia berusaha bersikap biasa saja, merubah ekspresi wajahnya yang terlihat marah.
"Masuk!" Sahutnya.
Pintu terbuka. Terlihat Tari membawa nampan yang diatasnya ada sebuah cangkir putih. Ia terheran karena apa yang dilakukan istrinya.
"Mas, ini aku bikinin Coklat Panas. Kata Tante Leni,,,," Tari tak jadi meneruskan ucapannya karena Rafik menyanggahnya.
"Bawa kesini!" Ucapnya cepat.
Tari pun menuruti perkataan Rafik dan meletakkan cangkir tersebut di meja. Lalu ia pamit keluar dari ruangan itu tanpa berkata apapun. Sementara Rafik hanya menatap kepergian gadis itu dengan wajah datar.
Pernikahan seperti apa ini? Apakah ia salah telah mengambil keputusan dengan menikahi Tari secara paksa? Sekarang bahkan, gadis itu tak pernah lagi menunjukkan senyumnya jika mereka tengah berhadapan. Yang ada hanya wajah takut dan tak suka.
Lagi-lagi pintu diketuk. Namun, kali ini Rafik terlihat lebih santai karena mendengar sahutan dari luar.
"Fik,, Tante masuk, ya!" Sahut Tante Leni dari luar.
Pintu terbuka, Tante Leni memandang Rafik dengan sedikit senyum. Wanita paruh baya itu pun mendekat dan duduk di sofa.
"Kamu nggak mau cerita sama Tante? Apa sekarang kamu udah nggak butuh Tante lagi ya buat dengerin curahan hati kamu." Sindir Tante Leni.
Bukan karena ia berniat menekan Rafik, ataupun mencampuri urusan keponakannya terlalu jauh. Namun, Rafik memang sangat dekat dengan Tante Leni sejak dulu. Ia selalu bercerita tentang apapun yang ia rasakan pada Tante Leni, selagi hal itu menurutnya wajar ia ceritakan.
Dan kini tentu saja Tante Leni merasa penasaran pada keponakannya itu. Mengingat Rafik yang menikah diam-diam menurutnya, karena memang hanya Nabil dan Resa yang tahu. Sedangkan dirinya tidak.
"Fik!" Tante Leni menatap Rafik lekat, dengan wajah memohon.
"Tante harap kamu nggak menyembunyikan apapun yang akan berdampak buruk untuk keluarga kita. Terutama dampaknya untuk rumah tangga kamu yang baru berumur beberapa hari." Nasehat Tante Leni.
Hanya helaan napas yang terdengar dari bibir pemuda itu. Hal itu membuat Tante Leni merasa yakin jika ada yang tidak beres dengan keponakannya itu.
Kini mereka hanya diam, hingga Rafik tiba-tiba bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Tante Leni. Ia duduk di samping wanita paruh baya itu, lalu meraih tangannya dan menggenggamnya.
"Tante! Apa yang ingin tante tau?" Tanyanya lembut.
"Banyak, nak!" Jawab Tante Leni. "Bagaimana kamu bisa menikah dengan Tari. Sedangkan tante tau, kalau kamu nggak pernah dekat dengan perempuan manapun selain keluarga kita."
Tante Leni terlihat menahan diri sebentar, lalu ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Tante bisa melihat kalau Tari itu gadis yang baik, nak. Tante nggak mau kamu menyakiti dia." Kata Tante Tari dengan penekanan di kalimat terakhirnya.
"Tante, aku nggak ada niat buat nyakitin dia." Rafik mencoba menyangkal tuduhan Tantenya itu.
"Tapi, itu buat kebaikan dia..."
"Tapi, nggak begitu caranya Rafik! Nggak ada wanita yang mau diperlakukan begitu,,, Nggak ada!" Tegas Tante Leni.
Rafik memejamkan mata mendengar perkataan Tante Leni. Benar,, Tari pasti terluka karena perlakuannya. Memaksanya menikah secara tiba-tiba, lalu mengekangnya dengan alasan patuh pada perintahnya sebagai suami.
Ia menghela napas dalam. Ingin sekali ia berbicara pada Tante Leni. Namun ia sadar, sekarang belum waktunya.
Ia belum siap dengan reaksi Tante Leni saat mengetahui banyak hal yang selama ini ia tutupi begitu rapat. Entah bagaimana reaksi wanita paruh baya ini nantinya, Rafik belum siap. Bisa saja Tantenya ini mengalami Syok berat, atau akan sangat marah padanya.
"Aku minta maaf, Tante. Ada banyak hal yang mau aku kasih tau ke tante, tapi bukan sekarang. Aku janji, pasti aku akan cerita semuanya sama Tante." Ujarnya setelah bungkam begitu lama.
Tante Leni menatapnya pasrah. Mungkin ia memang harus memberi waktu untuk Rafik. Sepertinya keponakannya ini memiliki beban yang sangat berat mengganggu pikirannya.
.
.
Tari menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia menyandarkan punggungnya disana. Ada rasa sakit di dadanya saat Rafik bersikap dingin dan bisa dikatakan kasar. Toh selama beberapa hari hidup bersama, Rafik tidak pernah bersikap lembut dan menunjukkan kasih sayangnya.
Setelah bertemu Tante Leni, Tari tadinya berubah pikiran dan akan mencoba menerima pernikahan ini. Namun, saat ia mengantar minuman untuk suaminya tadi, hatinya kembali ragu. Rafik begitu dingin.
Pernikahan seperti apa ini? Mengapa sangat jauh dari apa yang ia impikan selama ini. Sangat jauh.
Ia selalu mengimpikan dinikahi oleh lelaki yang mencintai dan menyayanginya. Memperlakukannya dengan baik, layaknya seorang ratu. Memang begitu kan yang diimpikan setiap wanita.
Tapi, sepertinya tak semua harapan adalah apa yang ditakdirkan untuk kita. Tuhan memiliki kehendak lain. Tapi, mengapa harus membuatnya mengeluarkan air mata terus?
"Yaa Allah,, aku hanya berharap pernikahan ini menjadi pernikahan yang aku impikan selama ini. Bukan sebuah surga yang tidak aku inginkan. Aku ingin dicintai dan mencintai suamiku, bukan hidup dalam kehampaan dengan saling mendiamkan seperti ini." Ucapnya lirih.
Air matanya kembali mengalir begitu saja tanpa bisa ua cegah. Tari merasa kesal dengan dirinya yang sekarang. Mengapa kini ia sangat cengeng? Tak bisakah hatinya kembali kuat seperti dulu?
"Enggak. Aku nggak boleh begini? Walau bagaimanapun Mas Rafik udah jadi suamiku. Dan aku harus bisa menerima pernikahan ini dan belajar mencintai suamiku." Ia menghela napas berat.
"Walau pun nanti dia tidak memperlakukan aku dengan baik, setidaknya aku sudah menjadi istri yang berbakti pada suami. Aku sudah berusaha membuat surga dalam rumah tanggaku."
Berusaha untuk tetap kuat, namun kenyataannya ia tetaplah seorang wanita yang memiliki hati yang lembut. Bahkan, saat berbicara sendiri mengungkapkan harapannya, Tari tak bisa mencegah air matanya menetes.
Ia melihat jam di dinding. Sebaiknya ia tidur. Mungkin setelah beristirahat malam ini ia bisa melupakan sementara beban pikirannya.
Ceklek... Gerakan Tari yang hendak menarik selimut terhenti mendengar pintu terbuka. Namun, hanya sesaat. Setelahnya ia kembali melanjutkan menarik selimut hingga sebatas dadanya, mengabaikan Rafik yang memasuki kamar.
.
.
Bersambung..