Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Tanya Hatimu



Sea menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya diikuti Deon.


Deon mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar Sea. meski tidak sebesar kamar tidur miliknya di rumah utama keluarha Papa Johan.


Rapi dengan nuansa yang warna yang lembut. Tidak seperti kebanyakan kamar wanita pada umumnya dengan nuansa pink, tetapi lebih ke warna cream dipadukan abu-abu.


Di dinding terdapat beberapa foto yang ditempel. Pandangan Deon tertuju pada foto gadis kecil yang cantik.


"Wajahmu terlihat cantik dan manis waktu masih kecil" Ucap Deon.


"Jadi maksud kamu sekarang aku sudah jelek ya" Jawab Sea.


"Ya boleh ia boleh tidak" Canda Deon.


"Ck.. jawaban apa itu" kesal Sea. "Baik dulu maupun sekarang aku masih cantik, karna aku perempuan" Ucap Sea.


"Sama artinya kamu mengatakan kalau suamimu tampan karena dia lelaki" Jawab Deon pula dengan wajah sumringah.


"Ia, aku tahu kamu ingin mengatakan itu" Deon berkata dengan percaya diri.


"Siapa yang memuji kamu, percaya diri sekali". cebik Sea.


Deon menganggapi ocehan Sea dengan tawa kecil.


"Sea,, apa kamu tidak lelah, berdebat saja melelahkan apalagi tadi kamu tadi ujian, mari istrirahat sebentar, aku mengantuk sekali" Kata Deon.


Sea segera beranjak ke ranjang, hendak mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, diikuti Deon juga merangkak ke ranjang.


Sea berbaring miring membelakangi Deon.


Sea benar-benar mengantuk.


baru saja dia memejamkan matanya, Deon memanggil nama Sea.


"Se,, apa kamu benar-benar tidur?" tanya Deon


"Memangnya mau apalagi kalau sudah berbaring begini, main balet" jawab Sea kesal. Kesal karena tidak bisa benar-benar tidur.


"Berbaliklah arah sini, tidak nyaman tidur dengan melihat punggung" jawab Deon.


"Tidak mau, aku mengantuk, kalau kamu tidak bisa tidur tidak usah tidur"jawab Sea.


Namun Deon tidak kalah akal, dia segerae menarik Sea dan memeluk sea dari belakang.


Sea yang dipeluk tentu saja terkejut, dan membalikkan badannya menghadap Deon.


Bukannya melepas pelukannya, Deon semakin menarik Sea. Membenamkan wajah Sea di dadanya yang bidang.


"kamu apa-apaan sih, peluk peluk segala" Sea berusaha melepaskan dirinya.


"Biarkan seperti ini saja, suami memeluk istri tidak masalah bukan?" Jawab Deon.


Sea akhirnya diam tidak mendebat Deon. Didebat seperti apapun Deon sudah pasti tidak mau kalah.


Deon mulai memejamkan matanya, namun teringat dengan permintaan mama Hilda agar memanggil suaminya dengan sopan.


"Se, kamu tidak lupa bukan permintaan mama Hilda, panggil suami mu dengan benar" Deon mengingatkan Sea.


"Apa kamu sudah memikirkannya" Deon mendusel dusel dagunya ke rambut Sea.


Sea mengangkat wajahnya menatap Deon.


"ada banyak panggilan yang cocok untukmu, Dokter mantan duda misalnya" jawab Sea.


"Kamu benar-benar membuat moodku buruk se,panggilan macam apa itu" Kesal Deon.


"Mood buruk tetapi pelukannya tidak lepas" Cebik Sea.


"Pilih panggilan yang lebih benar" Kesal Deon.


"Nanti aku pikirkan lagi, kita istirahat saja, bukankah nanti kamu masig harus bekerja" Sea mengingatkan suaminya.


"mmm, Se... apa kamu menyesal menikah denganku" tanya Deon dengan sendu.


"Maksudku, menyesal menikah apalagi dengan aku yang sudah duda sebelumnya" Tanya Deon lagi.


"Pertanyaannya jangan aneh aneh dokter, sebaiknya tanyakan dulu ke hati kamu, apa kamu menyesal menikah denganku" Tanya Sea kembali.


bersambung


*****


Reader sayang mohon like, komen nya yah agar penulis semakin rajin updatenya.