Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Episode 78



.


.


Ting...


Ting...


Ting...


Pesan yang masuk bertubi-tubi di grup whatsapp membuat Tari gusar. Ia benar-benar bimbang. Bagaimana sekarang? Apakah ia akan mengatakan semuanya pada sahabat-sahabatnya? Atau ia akan merahasiakan semuanya? Tapi, sampai kapan?


Sepandai-pandai menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga. Dan ia tak mau saat mereka mengetahui semuanya nanti, hubungannya dengan sahabat-sahabatnya menjadi rusak. Tari tak mau itu terjadi. Akan lebih baik jika mereka tahu sekarang.


"Gue minta izin sama dia aja. Apapun yang terjadi nanti, itu resikonya." Gumam Tari.


Tari pun bersiap-siap untuk pergi. Ia harus ikut menongkrong bersama sahabat-sahabatnya. Bagaimanapun sudah 2 hari ia hanya diam dan tak berkomunikasi dengan mereka. Ia sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan sahabat-sahabatnya nanti.


Setelah bersiap dengan pakaian casualnya yang rapi, Tari pun turun dari kamarnya. Ia akan berpamitan pada Mamanya.


Kbetulan sekali Bu Nora yang sedang berada di dapur melihat Tari yang tengah menuruni anak tangga. Wanita paruh baya itu meneliti penampilan sang anak dari atas hingga ke bawah.


"Lho, Ta. Kamu mau kemana, sayang?" Tanya Bu Nora.


"Mm,, Ata mau keluar sebentar, mah. Mau ketemu teman-teman Ata." Katanya.


"Udah izin sama suami kamu?" Tanya Mama lagi. Tari mengangguk.


"Ya, udah. Hati-hati." Pesan Bu Nora.


Tari berniat untuk menyetir mobil sendiri. Namun, saat ia akan masuk ke mobil, seorang lelaki berpakaian hitam menghampirinya.


"Maaf, bu. Bapak meminta saya untuk mengantar anda." Ujar lelaki itu.


"Bapak?" Ucap Tari bingung. "Maksud kamu Papa? Kenapa Papa nyuruh kamu nganterin saya?" Tanya Tari.


"Bukan, bu. Tapi, Pak Rafik yang menyuruh saya."


Seketika Tari merasa darahnya naik. Ternyata orang ini suruhan suaminya. Ya, otaknya sudah terbiasa menyebut Rafik sebagai suami.


"Saya nggak perlu supir. Saya bisa jaga diri sendiri. Jadi kamu nggak usah nganterin saya." Kata Tari menolak.


"Maaf, bu. Saya tidak bisa membantah perintah bapak."


Tari berniat mengabaikan si supir bayaran suaminya itu. Ia hendak membuka pintu mobil namun ditahan oleh si supir. Tari merasa kesal.


"Kamu minggir. Saya mau pergi. Dan saya nggak mau diantar. Minggir!" Ucap Tari kesal.


"Saya bilang Minggir!!" Tari berteriak.


Sang supir mengalah dengan terpaksa. Ia akan berbicara nantinya pada bosnya perihal istri bosnya ini yang tak mau diantar. Sepertinya majikan barunya ini juga sangat sulit dihadapi.


Beralih ke Tari, gadis itu sudah berlalu melajukan mobilnya. Ia menyetir dengan kecepatan cukup tinggi karena kemarahan yang menyelimutinya. Baru sehari ia menjadi istri lelaki misterius itu, hidupnya sudah dibuat tidak nyaman.


.


.


Gian menguap berkali-kali sembari terus mengerjakan pekerjaannya. Matanya terasa berat saat ini karena kurang tidur. Tadi pagi ia sempat malas bangkit dari tempat tidur. Bahkan, Rania sudah kesulitan untuk membangunkannya.


Setelah shalat subuh tadi ia menambah tidurnya sebentar. Namun, rasa kantuknya itu masih terasa.


Adit memasuki ruangannya saat Gian kembali menguap. Sepupu sekaligus sekretarisnya itu menatapnya heran.


"Kenapa lo, Ian?" Tanya Adit.


"Ngantuk gue. Semalam Rania ngidam pengen metik jambu kristal di kebunnya langsung. Ya gue turutin. nyampe rumah jam 12 malam." Katanya menjelaskan.


"Wah,, parah. Anak lo kayaknya seneng bikin susah bapaknya." Adit berbicara sambil terkekeh.


"Abis ini apa lagi ya ngidam Rania? Semoga aja yang lebih susah dan lebih ribet. Hahaha." Gian memutar mata malas mendengar ledekan Adit.


Adit menyodorkan dokumen dengan map berwarna merah. Gian membukanya dan membaca isi dokumen tersebut.


"Udah. Udah gue kasih ke Yasmin juga. " Kata Gian kembali menguap setelahnya.


Adit duduk di sofa dan bersandar disana. Kebetulan pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai. Rencananya ia akan mengambil job pemotretannya hari ini. Karena itu ia bisa santai seperti sekarang.


"Eh, Ian. By the way ya, tadi gue liat si Mak Lampir di depan kantor. Kayaknya mau nyamperin lo lagi, deh." Kata Adit.


Gian berdecak. "Biarin aja lah. Selagi dia nggak sampai ngeganggu gue ya nggak apa-apa. Tapi, gue masih mau cari tahu soal teror yang dikirim ke Rania kemaren. Gue beneran nggak terima dan nggak akan tinggal diam kalau pun emang dia pelakunya."


Gian mengepal erat tangannya. Ia benar-benar kesal dan tak bisa menerima perlakuan jahat yang entah siap pengirimnya, hingga membuat istrinya ketakutan. Dan ia juga heran, darimana orang itu tahu jika istrinya sangat pobia terhadap ular.


"Eh, Rania dimana?" Tanya Adit tiba-tiba.


"Di butik." Jawab Gian sekenanya masih dengan santainya.


Namun, tiba-tiba wajahnya berubah cemas dan ia berbalik menatap Adit yang juga terlihat cemas. Ia baru ingat, jika Antika tak dapat masuk menemuimya, maka gadis itu pasti akan beralih mengganggu istrinya. Gian tak bisa membiarkan itu.


"Dit, gue ke butik dulu." ucapnya bergegas bangkit dan pergi dari ruangannya. Adit hanya menghembuskan napas berat melihat kepergiam sepupunya.


"Semoga aja si Mak Lampir nggak ngelakuin yang aneh-aneh lagi." Gumam Adit sendiri.


Adit lalu keluar dari ruangan Gian. Ia akan langsung pulamg dan pergi ke pemotretannya. Biarlah nanti urusan Antika dirurus belakangan.


.


.


Bugh.. Gian membanting pintu mobilnya dan langsung bergegas memasuki butik. Ia mencari keberadaan istrinya namun tak kunjung bertemu.


"Mmm,, maaf. Rania kemana, ya?" Tanya Gian.


"Mbak Rania ada di belakang, pak." Jawab karyawan itu sopan.


"makasih." Ucap Gian dan berlalu.


Gian melihat di sebuah ruangan yang terbuka, istrinya Rania tengah duduk bersama Dini yang sedang menyuapi anaknya. Gian bernapas lega melihat pemandangan itu. Ia langsung menghampirinya.


"Assalamu'alaikum." Sahut Gian mengalihkan perhatian keduanya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Rania dan Dini.


"Lho, mas. Kamu datang?" Tanya Rania heran. Ia langsung berdiri menghampiri suaminya. Gian mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri begitu istrinya itu sampai di hadapannya. Untung saja Antika tak berbuat apa-apa lagi pada istrinya.


"Mm,, Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Gian membuat Rania mengernyit bingung.


"Iya, baik. Memangnya kenapa, mas?"


"Oh, enggak. Aku cuma mau mastiin aja istriku dan calon bayi kita ini baik-baik aja." Jawab Gian mengada.


Rania hanya tersenyum. Ada-ada saja suaminya. Terlalu berlebihan menurutnya. Namun, disisi lain ada sepasang mata yang menatap kemesraan mereka berdua dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan. Sedikit terharu melihat kebahagiaan keduanya. Tapi, juga terselip rasa sesak di dadanya.


Orang itu menatap balitanya lagi yang juga menatapnya. Biarlah waktu berjalan dan menjelaskan apa yang akan terjadi nanti.


"Oh, iya mas. Aku mau ngumpul sama teman-teman di Resto. Boleh, kan?" Tanya Rania yang diangguki oleh Gian.


"Boleh, kok. Tapi aku antar ya." Pinta Gian.


"Oke. Ayo, Din. Kita jalan sekarang aja." Kata Rania pada Dini.


"Iya, Nia." Dini langsung mengemaskan perlengkapannya dan Aina.


Lalu mereka berangkat menuju Restoran.


.


.


Bersambung.....


.


.