Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 94



.


.


Perubahan cuaca yang benar-benar tak menentu. Tadi langit sangat cerah, bahkan panas matahari terasa begitu menyengat. Namun, kini hujan deras mengguyur ibukota.


Tari menghembuskan napas berat melihat halaman gedung kantor suaminya yang diguyur air hujan yang begitu deras. Baru satu jam yang lalu ia merasakan hawa panas kota ini.


Berdiri di teras, Tari menggosok-gosokkan telapak tangannya ke lengannya yang tertutup kain. Ia menunggu hujan reda karena harus segera pergi dari tempat itu. Tadinya ia berniat untuk bertemu Anggi, guna memberi penjelasan pada salah satu sahabatnya itu. Namun, sepertinya ia akan terlambat karena menunggu hujan reda.


"Permisi." Sapa seseorang di belakang Tari yang membuatnya berbalik. Tari hanya diam mendapati seorang lelaki berpenampilan kantoran menatapnya dengan tersenyum.


"Kenapa berdiri disini, mbak?" Tanyanya.


"Eh, itu. Saya nunggu hujannya reda, mas." Jawab Tari.


Lelaki itu terlihat meneliti penampilan Tari sembari memikirkan sesuatu.


"Kamu mau pergi?" Tanya lelaki itu lagi.


"I,, iya, mas." Tari menjawab dengan melirik lelaki itu sekilas. Ia terlihat enggan untuk menatap lelaki itu lama.


"Kamu bareng saya aja." Ucapnya menawarkaan. Ia melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Tari sedikit tersentak dengan ucapan lelaki itu. Ia menggeleng pelan. "Enggak, mas. Makasih. Saya nunggu hujannya reda aja."


"Ekhemm,,," Suara deheman itu membuat keduanya menoleh. "Kamu masih disini? Ikut saya aja." Ucap lelaki itu.


Tari hanya mampu menuruti saja perkataan lelaki yang tak lain adalah suaminya itu. Ia berjalan mengekori Rafik.


"Bro,, lo mau kemana? Gue mau bahas sesuatu yang penting, loh!" Lelaki yang bersama Tari tadi menyahut.


"Nanti sore aja." Ucap Rafik tanpa menghentikan langkahnya.


Lelaki itu hanya bisa menghembuskan napas berat sembari menatap kepergian sahabatnya yang membuatnya bingung saat ini. Pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan. Salah satunya Mengapa gadis itu menurut saja apa yang dikatakan Rafik, sementara ia menolak saat dirinya menawarkan untuk mengantarnya.


Ia tak memikirikan hal itu. Ia akan kembali ke kantornya sekarang, meski sedang hujan. Toh ia mengendarai mobil.


Flashback ....


Selepas mereka selesai makan siang dengan Rafik yang menyuapi Tari, gadis itu berniat untuk segera pergi dari kantor suaminya. Ia baru menyadari di luar sedang hujan saat ia sampai di lobi.


Sementara itu, Rafik merasa gelisah di dalam ruangannya. Ia ingin sekali mengantar sang istri, namun ia tak mungkin dengan terang-terangan bersikap baik pada Tari sekarang. Alhasil, ia memantau gerakan sang istri lewat CCTV.


Hingga beberapa menit berlalu, Rafik memgernyitkan dahinya melihat seorang lelaki menghampiri istrinya. Jantungnya berdetak cepat. Ia tak suka melihatnya, apalagi saat mereka terlihat berbincang berdua.


"Fathan! Ckk..." Rafik berdecak sembari mengepal tangannya.


Ia pun memilih pergi menghampiri sang istri. Akan lebih baik jika ia mengantar Tari pulang. Ia juga tak tega melihat wajah Tari yang terlihat sendu.


Flashback off...


.


.


Sore hari Rania sudah berada di restoran Reno. Ia duduk termenung di tengah hiruk keramaian. Reni datang menghampirinya dengan membawa sepiring puding mangga.


"Nih,, menu baru. Cobain dulu, deh." Ujar Reno yang tak ditanggapi oleh sang adik.


"Ckk,, dek. Kenapa sih? Nih, coba dulu. Biar moodnya jadi bagus." Saran Reno lagi menghibur sang adik.


Rania menghela napas berat. Ia lalu menuruti permintaan abangnya.


"Idenya Aldo." Akunya. Rania hanya ber-oh ria menanggapinya.


Reno tersenyum senang karena penilaian baik yang diberikan sang adik. Ia selalu begitu, meminta pendapat sang adik tentang resep menu baru untuk Restoran. Karena kemajuan restoran 3R ada campur tangan adiknya disana.


Hari ini Reno merasa heran dengan sikap Rania yang lebih banyak melamun.


"Dek, kenapa sih?" Tanya Reno. "Abang lihat dari tadi kamu bengong aja. Jangan mikir yang rumit-rumit. Kasihan calon keponakan Abang." Ingatnya memegang bahu Rania yang tertutup hijab.


Rania hanya tersenyum menanggapinya. Seketika ia teringat kandungannya. Rania menyentuh perutmya yang masih datar itu. Hampir saja ia lupa jika Reno tak mengingatkannya.


"Eh, itu Gian datang." Ujar Reno saat melihat mobil Gian berhenti di depan Restoran.


Gian langsung menghampiri mereka, dan bersalaman ala sahabat dengan Reno. Ia lalu beralih ke sang istri dan mencium kening Rania.


Menyadari keheningan diantara mereka, Gian menatap Rania yang tanpa ekspresi. Ia merasa heran, apa mungkin istrinya masih memikirkan masalah tentang Tari tadi siang.


"Sayang, kamu udah makan?" Tanya Gian.


Rania menggeleng dan itu membuat Gian beralih memandang Reno, seakan bertanya kenapa istrinya? Teno yang ditatap seperti itu hanya menggedikkan bahu sembari menggeleng pelan.


"Eh, No. Gue pengen es krim stroberi pake toping jambu biji. Kayaknya enak, deh." Ujar Gian tiba-tiba. Reno uang mendengar hal itu spontan menatapnya sinis.


"Mulai lagi kan, lo." Ucap Reno memberengut sebal. Sahabat sekaligus adik ipranya ini benarbenar menyebalkan. Karena Gian sering mengidam yang aneh.


Contohnya saja seperti sekarang. Es krim stroberi dengan toping jambu biji. Belum pernah Reno melihat es krim dengan toping buah tersebut.


Beberapa hari yang laalu pun Gian pernah mengidam jus sirsak dicampur belimbing muda. Mana mungkin minuman itu enak. Reno sampai geli karena harus membuatkan minuman unik tersebut.


"Disini nggak ada stok jambu biji, Ian. Kalau memang lo pengen banget, tahan sampai besok ya. Gue mohon banget." Ucapnya dengan tatapan sebal.


Gian berpikir sebentar, lalu ia berdecak. "Kalau gitu, gue mau puding singkong aja." Ucapnya dengan wajah berbinar.


Reno menepuk keningnya. Ia sungguh merasa gemas sekaligus kesal dengan tingkah adik iparnya itu.


"Mas,,, iiihh... Puding singkong apaan, sih? Jangan yang aneh-aneh, deh." Kali ini Rania yang protes. Entah mengapa ia merasa mual membayangkan makanan yang disebutkan oleh suaminya itu.


"Loh, kenapa sayang? Ini mungkin bawaan baby, loh. Aku cuma ngikutin naluri aku aja." Katanya mengelak.


"Tapi kok aku mual ya ngebayanginnya?" Ucap Rania bergidik.


Reno langsung lepas tertawa mendengar perkataan sang adik. "Ada-ada aja anak kalian. Masa ngidam emak sama bapaknya nggak sinkron." Ujarnya, lalu kembali tertawa.


Rania yang melihat reaksing abangnya merasa jengkel. Tiba-tiba saja ia merasa ikut menginginkan puding singkong. Ia pun tersenyum smirk menatap ke arah Reni yang masih terbahak.


"Tapi, kayaknya enak juga deh,,,,," Rania menggantungkan ucapannya membuat Reno seketika berhenti tertawa. Tatapannya terlihat was-was.


"Puding singkong." Sengaja Rania menekan kata Puding Singkong dan tersenyum setelahnya.


Gian menatap bingung istrinya itu. Belum lima menit istrinya mengeluh mual mendengar kata Puding singkong, lalu sekarang malah Rania ikut-ikutan mengidam nya.


.


.


Bersambung....


.


.