Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Keputusan yang Tidak bisa diganggu gugat



Seorang pelayan mengantar minuman ke Deon yang masih mengobrol dengan Sebastian. Sementara Ares dan Sea masih berada di meja yang sama. Agatha dan suaminya ngobrol dengan Hilda. Tamu yang datang masih betah menikmati hidangan yang disiapkan keluarga Sebastian.


Di meja yang lain, 3 pemuda dan pemudi terlihat mengobrol. Sea, Ares dan Ona.


Namun, tiba - tiba saja Sea merasa kepalanya pusing.


“Na, kok kepalaku tiba - tiba pusing ya”


“Kecapekan kali Se, Istirahat aja dulu, kamu seharian ini pasti sibuk” jawab Ares


“Nggak kok Res, gak ngapa -ngapai juga bantu bantu dikit doang kok” Jawab Sea yang semakin merasa pusing


Ares yang melihat Sea semakin pucat menyruh Ona membawa Sea IStirahat.


Dengan memapah Sea, Ona membawa Sea ke salah satu kamar tamu yang ada di lantai bawah. Membaringkan Sea, Ona bergegas mengambil minuman.


“minum dulu Se, sebentar aku panggilkan tante Hilda” kata Ona


“Nggak Usah Na, Istirahat sebentar juga bakalan baikan kok” tolak Sea yang tidak ingin orang tuanya khawatir. Sementara acara syukuran masih berlangsung.


Melihat Sea yang sepertinya sudah menahan kantuk dan pusing akhirnya membuat Ona diam tidak mengganggu. Menutup tubuh Sea dengan Selimut Ona beranjak menuju ruang acara.


“Gimana Sea, udah mendingan” tanya Ares begitu Ona datang


“ia sepertinya kelelahan, tidurnya pulas, takut ganggu aku keluar’ jawab Ona


Entah bagaimana ceritanya Ona dan Ares sepertinya sedikit dekat. Karena semakin larut, Ona permisi pulang. Dan menyampaikan ke tante Hilda kalau Sea istirahat di kamar tamu.


***


Di dalam kamar Sea masih terlelap dalam tidurnya. Hingga dini hari, Sea merasa perutnya tertindih batu yang besar. Semakin digerakkan yang menindih juga ikut bergerak. Perlahan kesadarannya sedikit pulih.


Namun yang lebih mengejutkan, pintu tiba - tiba saja terbuka, Hilda yang pagi itu berniat membangunkan Sea terkejut dengan dua mahluk yang tidur dengan posisi berpelukan.


Entah bagaimana caranya pakaian mereka tergelatak di lantai.


“Sea… apa yang kau lakukan” Hilda berteriak


Membalikkan badannya,, Sea seakan lupa bagaimana caranya bernafas. Bagaimana tidak, seorang laki - laki dengan dengkuran halus, mengapit tubuh Sea dengan kakinya diperut Sea.


Belum lagi keterkejutannya selesai sudah ditambah dengan kedatangan mamanya.


“Dokter duda” Sea bergumam. Sea dengan kekuatan penuh mendorong tubuh Deon.


Deon terkejut bukan main, “kamu wanita aneh kenapa ada di sini?” tanya Deon dengan marah


‘Heh Seharusnya aku yang tanya kenapa kau ada di sini dokter duda” kau menjebak aku ya


“cihh menjebak, tidak mungkin aku menjebak wanita aneh sepertimu” namun, di saat yang sama kesadaran Deon sepenuhnya pulih. Mengamati ruangan yang sepertinya sangat asing.


“ini bukan kamarku, lalu kenapa aku ada di sini” tanya Deon


Sementara Sea sudah sangat panik, berusaha menutup bagian atasnya yang hanya tertingal dalaman. Sama halnya dengan Deon yang terkejut setengah mati.


“Maaf tante,, ini bukan seperti yang tante kira” Deon memelas


“Sea mama betul-betul kecewa” Hilda sudah menahan amarahnya


“Ma,,, Sea juga nggak tau kenapa tiba - tiba begini, semalam Sea memang istirahat di sini tiba tiba saja..”


“Cukuppp… mama gak mau dengar. Kalian benar - benar mempermalukan keluarga”


Mendengar keributan di ruang tamu, Sebastian dan Clara menghampiri.


Sebastian dan Clara tidak kalah terkejutnya dengan mamanya. Membeliakkan matanya “apa yang terjadi, kenapa bisa”? Sebastian kehabisan kata - kata


“Sea, dokter Deon, pakai pakaianmu dan ikut ke ruang tamu” Sebastian akhirnya menahan emosi yang memuncak. Bagaimana pun juga dia butuh penjelasan. Ingin rasanya dia menghabisi Deon saat itu juga. Namun, dia tahan mengingat pertemanan baik orang tua mereka.


Meninggalkan Sea dan Deon, Hilda mengikuti langkah Sebastian. Hilda benar -benar kecewa dengan kelakuan Sea. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.


Sementara di dalam kamar, Sea segera menyambar pakaian yang baru saja clara berikan. Menuju kamar mandi, Sea menumpahkan kekesalannya dengan menangis.


“Kenapa bisa seperti ini” Sea membenturkan kepalanya ke dinding


Sementara Deon sudah mengenakan pakaiannya, sedikit merasa aneh karena celana yang digunakan tadi malam masih melekat sempurna.


Mendengar Sea menangis membuat Deon merasa sedikit bersalah. 10 menit, 20 menit Sea tidak kunjung keluar. Deon menjadi sedikit khawatir,


“Jangan - jangan wanita aneh itu bunuh diri” Guman Deon. Menggedor kamar mandi tidak ada sahutan


“Hei wanita aneh, keluarlah jangan bunuh diri dulu, aku juga butuh penjelasan kenapa aku bisa ada di sini” Seru Deon sambil menggedor pintu


Sea masih tidak menjawab, semakin Deon menggedor emosi Sea semakin naik ke ubun - ubun. Membuka pintu dengan kasar Sea keluar


“Bisa diam nggak, gara - gara kau mama aku sedih, aku dituduh mempermalukan keluarga” Sea histeris dengan air matanya yang sudah mengalir kencang


“Terus kau maunya apa? Aku juga nggak tau kenapa ada di sini, sekarang aku juga butuh penjelasan, ayo temui keluargamu katakan kita tidak ada apa apa” Jawab Deon Frustasi


Mengikuti langkah Deon, Sea akhirnya menuju ruang tamu dan seakan dunianya akan runtuh mendapati kedua orang tua Deon sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangan mereka.


Kedua belah pihak yang tengah mengobrol serius. Agatha yang melihat kedatangan Sea dan Deon menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Sementara Hilda hanya diam tidak tahu harus mengatakan apapun.


“Duduklah” Perintah Sebastian


Sea dan Agatha duduk berdampingan, selayaknya terdakwa yang siap akan disidang. Menunduk dengan berbagai macam pertanyaan di kepala mereka masing -masing.


“Ma, tante maaf ini benar-benar kejadiannya Deon tidak tau, mungkin ada seseorang yang berusaha menjebak” Deon akhirnya membuka suara dengan lemah


“Sudahlah, kalau saja semua maling mengaku maka apa gunanya ada polisi, kalau saja kalian jujur dari awal kalau kalian ada hubungan, mama tidak akan melarang” Agatha akhirnya angkat suara


“Tante, tante sepertinya salah paham” Sea mencoba menjelaskan namun seperti tidak diberi kesempatan dan langsung dipotong papanya Deon


“Tidak ada penjelasan apapun di sini, apa yang terjadi hari ini sudah cukup membuktikan. Kalian harus menikah” Johan berkata tegas


Semua yang di ruangan tersebut saling pandang, Deon dan Sea membeliakkan matanya. Tidak percaya akan keputusan Johan.


“Bagaimana mungkin pa? ” Deon Ingin menentangnya lagi - lagi Johan menegaskan


“Papa hanya tidak mau kalian mengulanginya, Profesi yang kalian jalani itu mulia, tidak kah ada rasa malu dengan itu. Kalian itu melayani masyarakat, Sea juga seharusnya menjadi contoh, teladan bagi anak didiknya” kata Johan dengan menghela nafas “MAKA MENIKAHLAH”


Bagai disambar petir di siang bolong, Sea hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kata teladan yang diucapkan Om Johan benar- benar membuatnya dicambuk ribuan kali.


“Hari ini bersiaplah, kalian harus menikah, papa hanya takut ketika ini terendus keluar maka hancurlah reputasi kalian, papa tidak mau itu terjadi” Johan kembali menegaskan


“Apa harus secepat itu Pak Johan” Tanya Hilda akhirnya


“Seharusnya begitu Hil, aku juga setuju dengan apa yang dikatakan papa, kita kan tidak tau bisa saja ada orang yang mengambil rekaman atau foto mereka saat bersama” kata Agatha


“Memangnya Selebritis pake ada paparazi segala, ada - ada aja deh tante” Sungut Sea yang masih bisa didengar mereka semua


“Yang dikatakan tante benar Sea, kamu mau terkena sanksi moral, kakak tidak mau itu terjadi, dijadikan bulan bulanan itu tidak enak. Aparat Sipil Negara itu benar - benar harus menjaga sikap” Tegas Sebastian.


Deon hanya bisa pasrah, sepertinya berbicarapun tidak akan mempengaruhi apapun. Keputusan sudah tidak bisa diganggu gugat