
.
.
Rania terbangun tengah malam. Ia mengucek matanya saat merasa perih karena menyesuaikan dengan pencahayaan di ruangan. Ia pun melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Ternyata masih larut. Iapun kembali merebahkan tubuhnya, namun ia membeku saat menyadari suaminya tidak ada di sebelahnya.
Dengan wajah bingung serta rasa kantuk yang telah hilang, Rania kembali duduk dan memanggil-manggil suaminya. Ia melihat ke arah kamar mandi yang pintunya tertutup.
"Mas!! Mas di kamar mandi, ya?" Sahutnya bertanya. Namun, tak ada jawaban. Rania pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Benar, ternyata kosong. Lalu kemana suaminya?
Rania mencoba mencari Giang ke luar kamar. Ia kemudian menuruni anak tangga hingga sampai di lantai dasar. Rania melihat lampu dalur menyala. Matanya menyipit memastikan.
"Apa Mas Gian di dapur?" Gumamnya.
Rania pun bergerak ke arah dapur. Ia tertegun saat sampai di ambang pintu dapur melihat suaminya itu tengah menikmati buah-buahan.
"Mas?" Ujarnya.
Gian yang sedang fokus dengan makanannya itu pun berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia menatap sang istri dengan wajah polos.
"Hmmmm?" Gumamnya.
"Mas ngapain makan buah malam-malam?" Tanya Rania.
"Lagi pengen makan buah." Katanya dengan wajah setengah mengantuk.
"Ihhh,, itu buahnya kan dingin. Nanti sakit perut loh, mas." Rania bergidik melihat suaminya itu.
"Enggak, sayang. Ini udah mas diemin dulu buahnya sebelum dipotong." Jawab Gian, Rania hanya ber-oh ria menanggapinya.
Rania kemudian menghampiri Gilang dan ikut duduk di samping suaminya itu. Ia membiarkan saja Gian menyantap buah yang terlihat sangat segar tersebut tanpa berminat untuk mencicipinya. Rania kini terpikir kembali perihal masalah Tari.
Perbincangan bersama sahabat-sahabatnyaa masih terngiang-ngiang di ingatan Rania. Apalagi Debby yang mendengar sendiri lelaki misterius itu mengakui Tari sebagai istrinya. Apa sebenarnya yang terjadi. Begitu banyak teka-teki yang sepertinya tengah mereka alami.
"Sayang,, Kamu kenapa melamun?" Ujar Gian yang menyadari keterdiaman istrinya.
"Nggak kenapa-napa, mas." Jawab Rania. "Cuma kepikiran sama Tari."
"Tari lagi? Mas jadi penasaran sekarang dengan masalah yang terjadi sama sahabat kamu itu. Kayaknya kamu kepikiran terus." Kata Gian yang kini menggenggam tangan Rania yang diletakkannya di atas meja.
Rania menatap Gian lekat. Ingin sekali ia mengutarakam kegundahan hatinya pada suaminya itu. Namun, masih berat baginya untuk berterus terang jika sebenarnya ia sangat tidak tenang karena masalah yang bertubi datang diantara dirinya dan sahabat-sahabatnya.
Ia hanya bisa menghela napas berat saat Gian mengusap puncak kepalanya. Suaminya memang sangat tau apa yang ia butuhkan. Rania cukup lega dan merasa tenang karena Gian yang tidak menuntutnya untuk selalu mencurahkan isi hatinya jika ia belum mau. Gian selalu mencoba mengerti dirinya. Walau Rania terkadang merasa masih bersikap kekanakan.
Tak salah cinta itu hadir di hatinya untuk lelaki yang bersamanya kini. Meski banyak liku yang harus mereka lewati, kini mereka bisa bersatu.
.
.
.
Matahari sudah mulai terbit saat Tari selesai memasak di dapur rumah milik suaminya. Ya, untuk pertama kalinya Tari memasak setelah tinggal beberapa hari ini di rumah mewah itu.
Tante Leni memasuki dapur setelah mencium aroma lezat yang mengundangnya. Ternyata benar, baunya dari dapur. Taadinya ia penasaran siapa yang memasak, ternyata Laila. Tante Leni tersenyum saat mendapati menantunya itu tengah berkutat dengan alat masak di ruangan penuh dengan aroma rempah itu. Melihat Tari yang sedang memasak, Tante Leni semakin tersentuh.
"Eh, tante. Selamat pagi, tante. Maaf, kalau suaranya bikin tante terganggu." Ucap Tari tak enak hati.
"Enggak kok, nak. Tante memang pengen aja ke dapur sekarang. Ternyata kamu lagi masak. Biar tante bantu, ya." Tante Leni melemparkan senyum tulusnya.
"Makasih, tante." Ucap Tari lagi.
Ia bersyukur akan pertemuannya dengan wanita yang Tari perkirakan usianya sekitar 48 tahun ini. Bagaimana tidak. Ia melihat sendiri suaminya begitu tunduk dan tak membantah sedikitpun pada wanita ini. Meski Tari tahu, Tante Leni bukanlah ibu kamdung suaminya. Namun, sepertinya mereka sangat dekat, sehingga yang Tari lihat suaminya yang kejam itu hanya bisa luluh pada sang tante.
Tapi, tak dapat Tari pungkiri bahwa ia benar-benar sedih dengan nasib pernikahannya. Mungkin memang sudah jalan dari Allah, dan harus ia terima dengan lapang dada. Menjalani kehidupan pernikahannya ke depan dengan kelapangan hati dan kesabaran. Tari berharap, suaminya dapat luluh suatu saat nanti.
Rafik menuruni anak tangga saat Tari menghidangkan makanan di meja. Tante Leni yang kebetulan membawa Sayur capcay dari dapur melihat Rafik yang sedang mengancingkan lengan kemejanya.
"Fik. Kamu mau ke kantor?" Bu Leni menyahut.
"Iya, tante." Jawabnya singkat dan hendak berlalu ke arah pintu keluar.
"Eh,, tunggu. Kamu sarapan dulu. Istri kamu udah masak banyak ini, Fik. Ayo!" Titah Bu Leni.
"Enggak, tante. Aku buru-buru. Nanti makan di kantin kantor aja." Jawabnya. Tari Hanya menunduk dengan wajah murung melihat penolakan suaminya. Sebisa mungkin ia menahan air matanya yang mudah sekali luruh semenjak beberapa hari yang lalu.
"Mm,, tante. Sebaiknya kita makan dulu aja. Nanti biar aku anterin makanan buat Mas Rafik." Kata Tari memecah keheningan.
Bu Leni menatap lekat wajah sang menantu. Tari memang tersenyum, namun ia bisa merasakan jika senyum itu palsu dan ada kesedihan di wajah teduh gadis itu. Dalam hati Bu Leni benar-benar merutuki sikap keponakannya itu. Ia semakin yakin ada yang tidak beres.
Saat mereka memulai sarapan, terdengar suara seseorang dari pintu depan. Mereka serempak melihat ke arah sumber suara.
"Assalamu'alaikum, tante Leni, Tari." Sahut seseorang di luar sana yang memasuki rumah dengan langkah cepat. Dialah Resa, kakak ipar Rafik yang diikuti oleh Rafik di belakang wanita berusia 29 ahun itu.
"Waalaikumussalam, Resa. (Mbak Resa)" Jawab Bu Leni dan Tari bersamaan.
"Tante,, lihat Rafik nih. Masa aku nggak boleh masuk kesini?" Adunya pada wanita yang sudah sangat dekat dengannya itu.
"Rafik.. Ada apa." Tegur Bu Leni penuh tanya pada Rafik.
Rafik hanya mengatup kuat giginya melihat sikap kakak iparnya dan juga respon sang tante. Resa pasti akan menggunakan tante Leni sebagai tameng untuk melawan dirinya.
"Kak. Mendingan kakak pulang, deh. Mas Nabil pasti nyariin sekarang." Ujar Rafik.
Resa mendelik malas. "Diam, kamu. Aku kesini mau ketemu Tante Leni sama Tari. Kamu kalau ke kantor, ya pergi aja. Mas Nabil juga udah pergi ke kantor, loh." Ucap Resa seperti anak kecil.
Rafik berdecak. Ia melemparkan tatapan tajam ke arah Tari. Memberi isyarat untuk diam saja tanpa berbuat ulah yang akan membuat Tante Leni curiga. Tari sendiri hanya mengulum bibirnya disertai senyum tipis.
.
.
.
Bersambung............
.