Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Episode 79



.


.


Rania turun dari mobil setelah pamit pada Gian. Ia lalu membantu Dini membawa tas Aina saat keluar dari mobil. Dini cukup kesulitan karena menggendong Aina dan membawa beberapa perlengkapan balita itu.


Setelah Dini berada di luar, Rania melambaikan tangan pada Gian yang akan kembali ke kantor. Suaminya lalu berlalu meninggalkan tempat itu.


Kini, Rania dan Dini berjalan bersamaan memasuki Resto. Di dalam sudah ada Anggi dan Debby yang menempati salah satu meja di dekat jendela. Rania dan Dini menghampiri keduanya.


"Hai,, gaes.." Sapa Rania.


"Hai.." Balas Anggi dan Debby.


"Ayo duduk Ran, Din." Ujar Anggi.


"Ya ampun, Din. Lo kurusan, deh sekarang." Kata Debby dengan wajah prihatin.


"Tuh, kan. Bener yang aku bilang, kan. Kamu emang kurusan, Din." Rania menimpali.


Dini hanya tersenyum simpul. Ia memangku Aina, mendudukkan balita itu di pangkuannya. Baginya komentar dari sahabat-sahabatnya mengenai berat badannya yang menurun hanya bisa ia respon dengan hembusan napas berat. Jika tidak, lalu ia harus bagaimana?


"Din. Lo masih kuat kan?" Tanya Debby dengan tatapan penuh tanya.


Dini menatapnya. "Gue kuat kok." Jawabnya tersenyum. Ia paham maksud dari pertanyaan Debby.


Debby hanya bisa pasrah. Ia menatap Rania dan Anggi bergantian. Dini benar-benar berubah. Sifatnya yang kekanak-kanakan dulu sudah berganti dengan rasa keibuan yang begitu nyata. Dini merawat Aina seperti anaknya sendiri. Bahkan, tak sedikitpun pergerakan Aina ia lepaskan dari pantauannya. Mereka tahu bahwa sahabat mereka telah jatuh hati pada balita kecil ini dan benar-benar tulus merawatnya.


Mereka lalu memesan makanan dan melupakan pembahasan sendu mereka tadi. Tujuan awal mereka adalah untuk menghibur diri dan melepas penat, dan mereka tak mau semua itu berlalu begitu saja dengan kesedihan dan kegundahan mengingat kisah hidup masing-masing.


Setelah makanan yang mereka pesan datang, Kini mereka mulai menyantapnya satu persatu sembari menunggu kedatangan member yang lain.


Dari tempat mereka, Debby tiba-tiba terpaku melihat seorang gadis datang menuju ke arah mereka. Gadis itu terlihat kaku dan canggung. Tari, sahabatnya itu terlihat berbeda.


"Tari?" Gumam Debby yang dapat didengar oleh Anggi, Dini dan Rania. Ketiganya mengikuti arah pandang Debby.


"Eh, Ata." Ucap Anggi mengelap bibirnya dengan tisu.


"Ha,, hai." Sapa Tari gugup.


"Hai."


"Ata lo kenapa tegang gitu?" Kata Anggi to the point.


"Duduk, Tar." Ajak Rania.


Tari duduk di samping Rania masih dengan wajah ditekuk. Entah lah. Mereka semua menjadi bingung dengan sikap sahabatnya.


"Mm,, mending kamu pesen makanan, Tar. Aku panggil Lula dulu." Kata Rania.


Rania memanggil salah satu pelayan yang segera menghampiri mereka. Setelah memesan, Lula kembali ke dapur untuk mengambil pesanan pelanggannya itu.


Masih ada kecanggungan di wajah Tari yang terlihat jelas oleh Anggi. Karena posisi mereka berseberangan.


"Ta. Lo kenapa, sih?" Tanya Anggi.


Tari gelagapan karena pertanyaan Anggi. "Eh, enggak. Nggak apa-apa." Ia melenan salivanya susah payah.


Anggi menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut. Lalu, ia tiba-tiba menggelemg pelan. Mungkin nanti Tari akan bercerita sendiri pada mereka.


"Haii,, gaes... Aduuhh gue kangen banget." Sahut seseorang yang menghampiri mereka.


"Hmmm,, yang abis jalan-jalan. Travelling terus, mbak." Ledek Anggi yang membuat Winda menyengir.


"Oleh-oleh nggak ada, nih?" Tanya Anggi.


"Hehe. Ada, sih? Tapi lupa bawa. Gue tadi dari kantor langsung kesini." Kata Winda.


"Ya ampun, Ataaa." Kata Winda tiba-tiba saat baru menyadari keberadaan Tari. Ya, ia ikut resah saat Rania dan Anggi mengabarkan jika Tari tak ada kabar selama 2 hari kemarin. Dan sepertinya sekarang saat yang tepat untuk mereka mendengar penjelasan sahabatnya itu.


"Lo kemana aja dua hari nggak ada kabar, Ta? Kita bingung lho." Kata Winda.


"Mm,, itu. Gue,,, gue..."


"Ini pesenan mbak Tari." Sahut Lula tiba-tiba. Dan Tari bisa sejenak bernapas lega.


"Makasih, La." Ucap Tari.


"La, gue udang goreng satu, ya. Terus sama jus mangga." Winda memesan.


"Oke, mbak." Lula pun berlalu pergi.


.


.


Semuanya telah selesai menyantap makanan. Dini mengelap area bibir Aina karena belepotan bubur. Ia sudah selesai menyuapi Aina makan sembari dirinya memakan makan siang untuk dirinya juga.


"El, lo beneran mau nikah sama Vano? Apa lo nggak mau berubah pikiran, gitu?" Tanya Winda.


Ya, Elina sudah datang tadi terakhir kali. Hanya Yanti yang tidak hadir hari ini, karena bumil tua itu sedang berkunjung ke rumah mertuanya.


"Gue yakin. Karena, Vano juga udah berhasil bikin gue percaya sama dia." Jawab Elina ringan.


"Yahh,, syukur deh kalau emang lo percaya. Kita cuma busa ngedoain hubungan lo dan Vano ke depannya baik-baik aja dan nggak ada masalah." Kata Winda lagi.


"Iya. Kalau kalian nanti nikah, kita doain supaya jadi keluarga bahagia, sakinah, mawaddah ya, El." Debby ikut menimpali.


Elina tersenyum. Ia bahagia sekarang. Karena, hubungan dengan Vano sudah membaik. Lelaki itu sudah menjelaskan semua permasalahan mereka dulu padanya. Elina kini sudah bisa menerima Vano yang sebenarnya sangat ia cintai. Dan cintanya yang tidak bertepuk sebelah tangan, membuat Elina kini bisa tersenyum lepas tanpa beban seperti dulu.


"But,,," Anggi berujar tiba-tiba. Ia menatap Tari intens.


"Ta. Lo kasih kita penjelasan. Kemaren lo kemana? Kenapa lo nggak ada kabar?" Tanya Anggi.


Tari terbelalak kaget mendengar pertanyaan Anggi yang bertubi-tubi. Ia merasa tercekat.


"Gue,, Gue,," Tari semakin takut. "Gue,, sebenarnya..."


"Bang Dino?" Sahut Debby tiba-tiba.


Semua mata tertuju ke arah pandang Debby. Ternyata ada Dino, kakak Dini yang memasuki Resto bersama istri dan anaknya. Diam-diam Tari menghela napas panjang dan melepasnya. Syukurlah Dino muncul, dengan begitu ia bisa terselamatkan dari interogasi teman-temannya walaupun hanya sementara.


Setidaknya ia masih bisa menyiapkan mentalnya hingga ia benar-benar siap untuk menjelaskan semuanya pada mereka.


.


.


Reno menatap jalanan yang penuh hiruk pikuk dan sesak karena macet. Seperti inilah setiap hari dan ia sudah terbiasa dengan keadaan jalanan seperti sekarang. Toh sudah jelas ciri khas Ibukota adalah kemacetan.


Sembari menikmati kebosanannya di tengah hingar bingar kendaraan, mata Reno tiba-tiba membulat lebar saat melihat objek di luar sana. Beberapa meter dari posisi mobilnya sekarang ada seorang gadis terjatuh di trotoar. Sepertinya gadis itu sedang buru-buru.


Ia memperhatikannya dengan seksama karena ia merasa mengenal gadis itu. Dan benar saja, ia benar-benar mengenal siapa gadis itu.


Heelsnya patah. Reno menggeram melihatnya. Apa yang sedang mengganggu gadis itu hingga harus berlari dan membuatnya terjatuh. Gadis itu terlihat kesal karena melihat tumit sepatunya yang patah. Ia menariknya dan melemparnya.


"Ckkk,," Reno berdecak melihat hal itu.


Tepat saat gadis itu melempar tumit sepatunya, kemacetan mulai berkurang dan Reno melajukan mobilnya. Ia lalu berhenti di dekat gadis itu dan menurunkan kaca mobilnya.


Gadis itu menatapnya dengan napas tersengal dan wajah memerah.


.


.


Bersambung....


.


.