
Sea mencoba menguasai keadaan jantungnya. Jujur saja setiap berdekatan dengan suaminya membuat Sea tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Apa harus seperti itu" Tanya Sea dengan mencebikkan bibirnya.
"Ya harus, aku harus memastikan istriku baik-baik saja" Jawab Deon dengan wajah menahan tawa.
Beruntung Sea duduk dengan posisi membelakangi Deon.
Deon menyelesaikan pekerjaannya mengeringkan rambut Sea.
Deon mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. kemudian menyodorkan ke Sea.
"Minumlah agar tubuhmu segera fit dan segar kembali," Ujar Deon
Dari bentuknya Sea tahu itu adalah vitamin.
Sea menerimanya kemudian segera meminumnya dan menerima air mineral yang disodorkan suaminya.
"Hari ini kita tidak usah keluar, kita menikmati liburan di kamar saja" Titah Deon.
"Kenapa?, tapi aku ingin sekali keluar menikmati keindahan Bali" Protes Sea.
"Pemandangan di sini tidak jauh lebih indah dari pada di luar" Deon tidak mau kalah.
Sea mencebikkan bibirnya, sungguh suaminya ini tidak peka akan keinginan Sea.
Deom membuka gorden kamar, sehingga menampakkan pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Membuka kaca kamar agar udara bebas masuk ke ruangan mereka.
Sea mengikuti Deon dan benar apa yang dikatakan suaminya.
Memeluk Sea dari belakang, Deon menyenderkan kepalanya ke leher Sea.
Tubuh Sea tentu saja dengan cepat bereaksi dengan cepat. Hembusan nafas hangat Deon membuatnya tidak bisa bernafas dengan teratur.
Mungkin ini yang menyebabkan mama Hilda selalu menasihati Sea agar berpacaran tidak melangkah terlalu jauh.
Ternyata jika sudah dilakukan sekali, maka akan menjadi candu.
"Pemandangan diluar memang indah, tapi ciptaan Tuhan yang di hadapanku jauh lrbih indah lagi" Deon menggesekkan dagunya ke bahu Sea.
"Ishh gombal, geli mas" Sea menahan rasa gelinya.
"Apa kamu tidak percaya, kalau kamu jauh lebih indah dari apapun"
Deon menghadapkan tubuh Sea ke hadapannya.
Sea yang paham akan keinginan suaminya hanya bisa pasrah. Lebih tepatnya menerima dengan suka rela.
Hasratnya juga sudah tidak bisa dibendung. siapa yang bisa menahan kalau tangan sang suami sudah menjalar ke mana-mana?;
Deon mengangkat Sea dan mendudukkannya di pangkuannya. kecupan dan hawa panas ruangan kembali memanas.
Tanda kepemilikan sudah tercetak begitu jelas di sekujur tubuh Sea.
Sea yang tidak mahir mengimbangi kelihaian Deom sesekali tanpa sengaja menggigit bibit dan lidah Suaminya.
Tapi bukan masalah bagi suaminya, kesenangan tersendiri baginya, dan menandakan Sea hanya melakukan hal sejauh itu hanya dengannya.
"Sayang, sepertinya kamu harus belajar lebih giat lagi untuk membalasnya" Deon berbisik di telinga Sea.
Sea hanya membalasnya dengan *******.
Sea tidak mampu mendeskripsikan perasaannya saat ini, yang ada hanya ingin mendesah.
Sesuatu yang kokoh dan tegak Sea rasakan di bawah bokongnya.
Dengan perlahan Deon sudah melepas apa yang Sea kenakan. Mengangkat Sea ke sofa Deon ingin mengulangi kegiatan panas mereka.
Inti Sea kian berkedut meminta sesuatu yang lebih. Bila saja bisa Sea ingin mengeluarkan kata-kata yang bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan.
"Mas" Mata Sea kini berkabut gairah, meminta Deon agar segera memasukinya.
"As you wish sayang" Deon mulai menancapkan sesuatu yang memang sudah mencari sarangnya.
Keduanya hanyut dalam permainan, seakan tidak ada hari esok mereka melakukannya berulang ulang.
Sea meremas rambut Deon yang menghentaknya semakin kuat.
Kenikmatan yang mereka dapat tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Deon mendapatkan pelepasannya dengan sempurna bersamaan dengan Sea yang lebih berani mengeluarkan erangan seksi dari mulatnya.
Selayaknya pengantin baru mereka hanya berhenti sejenak kemudian melanjutkan kembali kegiatan yang berpeluh keringat itu.
Tidak puas hanya di sofa mereka melanjutkannya di bath up.
Sea tidak habis pikir dengan suaminya yang tidak ada lelahnya.
Tubuh Sea serasa remuk digempur suaminya habis-habisan.
Melihat sea yang kelelahan, Deon menyudahi mandi plus plus mereka dan mengangkatnya ke luar kamar mandi.