Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Makan malam bersama



Makan malam hari ini lebih hangat dari sebelumnya. Bibi Nur akhirnya ikutan makan malam bersama. Meski canggung akhirnya Bibi Nur mengiyakan ajakan Sea yang sedikit memaksa. Deon juga sedikit membuka suara bernada ajakan yang tidak bisa ditolak agar Bibi Nur akhirnya kini makan malam bersama. 


Keluarga Deon maupun keluarga Sea memang membiasakan makan bersama dengan pelayan. Tidak pernah membedakan.


Deon makan dengan lahap, dia memang mengakui masakan Sea benar - benar masakan rumah yang cocok di lidah Deon.


“Apa kamu mau nambah lagi”? Tanya Sea


“Tidak, terima kasih sepertinya perutku sudah penuh” Jawab Deon


“Bibi, bagaimana?” tanya Sea


“Bibi juga sudah kenyang, masakan Nak Sea memang Enak” Puji Bibi Nur


Sea tersipu mendengar pujian Bibi Nur.


Setelah selesai Sea hendak membantu bibi Nur membersihkan sisa peralatan makan, namun segera bibi tolak.


“Seharian bibi tidak ada bekerja, biar bibi saja yang membersihkan nak Sea”


Akhirnya Sea mengalah “Bi, tadi kan sea masak lebih, bibi bisa bawa pulang ke rumah, agar bibi tidak repot - repot masak lagi”


“Ah, iya.. Terima kasih nak… tapi bukankah bibi sudah makan di sini? jawab bibi


Ya, berkat obrolan tadi siang, Sea tahu kalau bibi hanya hidup berdua dengan suaminya, berpuluh tahun berkeluarga tetapi Tuhan belum mengaruniakan anak kepada mereka.


“Tidak apa - apa bi, jangan sungkan- sungkan, Sea sebenarnya suka bibi menginap di sini, tapi kan paman di rumah sendirian” jawab Sea


Bibi Nur tersenyum tulus “Kamu baik sekali nak Sea, bibi doakan keluarga nak Sea diberkati oleh Tuhan, amin”


Deon yang mendengar doa bibi Nur tanpa sadar dan refleks mengucapkan “amin”.


Sea menoleh ke arah Deon dan sepertinya Deon kelihatan salah tingkah.


Setelah selesai semua bibi Nur pamit dengan membawa makanan untuk suaminya.


“Tadi kamu mengaminkan doa bibi Nur, apa kamu mendengar apa yang kami obrolkan?” tanya Sea


Deon gelagapan, dia memang mencuri dengar apa yang menjadi perbincangan Sea dan bibi Nur.


“Doa yang baik baik kan tidak apa-apa diaminkan” Jawab Deon akhirnya berusaha menutupi kecanggungannya


“Apa kamu sudah mulai merasakan peranmu sebagai suami?” tanya Sea dengan nada meledek


“bukan kah sebenarnya juga aku suamimu dan kamu istriku, itu sah dimata hukum dan negara, jadi apa salahnya” Jawab Deon dengan tenang.


“Aku rasa ada yang salah denganmu, jangan - jangan kamu merencanakan sesuatu?” selidik Sea


Deon mendorong kening Sea dengan telunjuknya, “Pikiran kamu negatif terus ke aku, bisa tidak sekali saja positif”


“Ya bukan begitu, kamu kan memang kadang punya ide yang aneh - aneh!”


“Apa maksudmu?” Deon mulai tidak nyaman


“Apa kamu lupa, beberapa waktu yang lalu kamu kan berniat punya anak dengan inseminasi, apa itu tidak berlebihan?” Sea mendengus


“Jadi, maksudnya kamu mau kita buatnya secara alami? Apa kamu sudah siap?” Deon mulai menggoda Sea


“Hei, bukan begitu maksud ku”, aa-aku”....


Belum sempat Sea menyelesaikan ucapannya, Deon merapatkan tubuhnya ke Sea..


“Aku apa,, hmmmmm” Deon semakin menggoda Sea


“Ishhh,,, kamu apa - apaan sih, minggir aku mau ke kamar!” Ketus Sea sambil mendorong Deon


Namun, Deon masih ingin menggoda Sea, ketika Sea berjalan meninggalkan Deon, Deon segera menarik tangan Sea, karena terkejut dan kurang keseimbangan Sea hampir terjatuh beruntung Deon segera menangkat Sea dan memeluk tubuh ramping Sea.


Jantung Deon berdegub kencang, melihat wajah cantik Sea dengan jarak sedekat itu membuat akal sehatnya seakan hilang tidak tersisa.