
Happy Reading....
Suara mobil di depan gerbang membuat Tari berlari ke arah jendela. Ia melihat disana sebuah mobil melewati gerbang. Itu adalah mobil milik kakak iparnya yang tak lain adalah Nabil. Mungkin ini kesempatan untuknya. Ia bisa meminta bantuan Nabil agar bisa terlepas dari aturan yang dibuat oleh Rafik.
"Aku harus bicara sama mas Nabil. Iya,, aku harus bicara." Gumam Tari menyeka air matanya.
Tari berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Ia benar-benar tak sabar dengan kesempatan yang ada. Sesampai di pintu ia langsung membukanya. Terlihatlah sepasang suami istri yang tengan menatap Tari dengan tatapan penuh tanya.
"Mbak, mas." Ucap Tari.
"Tari? Kamu kenapa begini?" Tanya Resa terkejut.
"Mbak.." Ucap Tari diiringi dengan derai air matanya. Ia langsung berhambur ke pelukan kakak iparnya itu. Ia tak sanggup menahan kesedihannya lagi.
"Tari, apa yang terjadi? Apa yang sudah dilakukan Rafik sama kamu?" Tanya Nabil tak sabar.
Tari mengurai pelukannya dengan Resa. Ia menatap sendu Nabil yang juga menatapnya prihatin.
"Mas Rafik,, Mas Rafik udah mutusin semua pekerjaan aku, mas. Dia udah nggak bolehin aku ngajar lagi." Kata Tari dengan tersedu.
"Apa? Keterlaluan dia." Ucap Nabil marah.
Ia sudah tak bisa menahan lagi. Adiknya memang sangat keterlaluan. Mengapa Rafik kini malah menyakiti Tari. Apa ia benar-benar ingin membalaskan sakit hatinya dengan cara ini? Nabil benar-benar tak habis pikir dengan pikiran dan tindakan adiknya.
"Tari. Sebaiknya kita masuk dulu. Kita bicara di dalam." Ajak Nabil.
"Iya, Tari. Biar nanti kita bicarakan masalah ini dengan Rafik."
Mereka pun masuk ke dalam. Resa menggiring Tari untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Ia benar-benar prihatin dengan keadaan yang dialami adik iparnya ini. Bagaimana mungkin Rafik bisa dengan tega berbuat seperti ini pada Tari.
Nabil menghela napas panjang. "Tadinya mas juga bingung kenapa ada banyak penjaga disini. Mas kira mereka hanya dipekerjakan oleh Rafik untuk dirinya sendiri. Ternyata mereka menjaga kamu disini." Nabil mulai buka suara kembali dan kemudian ia hening memijat pangkal hidungnya.
Resa yang melihat kegusaran di wajah suaminya kini juga merasa risau.
"Tar, jujur mbak sebenarnya ingin tau apa yang dulu terjadi sama kalian? Nggak mungkin karena penolakan itu aja Rafik bisa sampai berbuat seperti ini sama kamu?" Tanya Resa.
Tari sesenggukan. "Aku juga nggak tau, mbak. Yang aku tau dulu memang aku pernah menolak Mas Rafik. Tapi, saat Mas Rafik membawa aku ke rumah Mama, dia sempat bilang kalau aku nggak akan bisa main-main sama dia. Dia juga bilang, keberanian aku yang udah salah. Tapi aku nggak tau maksud mas Rafik sebenarnya apa, mbak." Jelas Tari.
Resa menatap Nabil yang juga menatapnya. Mereka tahu sekarang apa yang harus dilakukan.
"Ya udah. sekarang kamu mau nggak ikut mbak sama mas Nabil? Mungkin ada baiknya kamu ke rumah kita kan. Biar kamu nggak sendirian disini." Kata Resa.
Tari mengangguk. Ia tak peduli jika nanti Rafik marah. Lelaki itu sudah sangat keterlaluan padanya. Baru beberapa hari menjadi istrinya, namun hidupnya sudah sangat dipersulit.
Mereka pun berniat pergi dari rumah. Namun, saat di akan memasuki mobil, gerak Tari terhenti karena salah satu penjaga mencegahnya.
"Tunggu!" Sahut lelaki berpakaian kemeja hitam itu.
"Mohon maaf, pak. Ibu dilarang pergi oleh bapak."
"Kalian tau siapa saya?" Tanya Nabil tegas.
Penjaga itu diam. "Saya ini kakaknya bos kamu. Kalau kamu mau ngadu, silahkan ngadu. Suruh dia datang ke rumah saya nanti." Kata Nabil.
Penjaga itu pun menyingkir saat Rafik masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya. Setelahnya penjaga itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon.
Sesampai di depan kediamannya, Nabil memberhentikan mobilnya di depan gerbang. Ia tak langsung masuk ke dalam.
"Mm,, kalian masuk dulu aja. Aku harus ke kantor." Kata Nabil.
Tari dan Resa pun keluar. Nabil kembali melajukan mobilnya. Baru saja Resa menyingkap gerbang, sebuah mobil kembali berhenti di depan mereka. Wajah Tari langsung berubah tegang. Sedangkan Resa menatap orang yang keluar dari mobil itu dengan wajah kesal.
"Kak Resa ngapain bawa istri aku kesini?" Ucap lelaki itu langsung tanpa basa-basi.
Ia buru-buru menghampiri Tari dan menarik tangannya. Sementari Tari menepisnya.
"Kamu jangan keterlaluan, ya." Ucap Resa marah.
"Dia ini istri aku, kak. Jadi, terserah aku mau ngapain." Sergah Rafik.
Tari merasa ada yang berbeda dari cara Rafik berbicara. Mengapa saat dengan dirinya, Rafik begitu dingin dan nada bicaranya selalu tegas. Namun, dengan Resa tersirat kesopanan saat ia melontarkan setiap kata-katanya.
"Kak. Aku udah punya rumah sendiri. Jadi, akan lebih baik kalau istriku ini tinggal di rumah kami." Kata Rafik lagi.
"Itu bukan tinggal, tapi kamu mengurung Tari di rumah kamu. Kamu kenapa sih? Kenapa kamu nyuruh Tari berhenti kerja?" Ucap Resa semakin emosi.
"Aku punya alasan untuk itu semua kak. Yang pasti kalau Tari berhenti kerja, itu bakal bikin dia punya lebih banyak waktu di rumah dan nggak perlu capek-capek kan." Jawab Rafik enteng. Masih. Masih dengan intonasi yang tenang. Dan Tari heran dengan hal itu.
"Kak. Ayolah,, Aku bawa Tari pulang." Ucapnya dan menarik tangan Tari. Akhirnya ia bisa menggengam tangan Tari.
Dengan tatapannya yang lekat pada istrinya itu, membuat Tari seketika tergetar. Ia teringat dengan ancaman Rafik sebelum pernikahan. Oh, tidak. Ia hampir melupakannya.
"Mm,, mbak. A,, aku.. Aku ikut pulang sama,,mas Rafik aja." Ucap Tari tiba-tiba dengan gugup.
Resa dibuat melongo karenanya. Ia menatap Tari penuh tanya dan beralih menatap Rafik dengan wajah kesal. Padahal tadi Tari menangis tersedu karena perlakuan Rafik padanya, namun sekarang gadis malah menurut saat Rafik ingin membawanya pulang.
"Tari,,," Resa ingin mencegah, namun melihat wajah kalut Tari membuatnya bingung harus bagaimana.
Resa akhirnya membiarkan mereka pergi. Meski sebenarnya berat baginya. Biarlah semuanya berjalan dulu. Nanti ia bisa pikirkan harus bertindak bagaimana. Kini ia menatap kepergian mobil Rafik yang kian menjauh.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi. Orang itu adalah Debby. Gadis itu benar-benar tak menyangka dengan apa yang terjadi. Ia rasanya tak ingin percaya semua itu. Ia juga tak ingin percaya dengan apa yang ia lihat. Mungkin saja itu bukan Tari, atau mungkin ia hanya berhalusinasi. Tidak,,,, Tari belum menikah. Tidak mungkin sahabatnya membohongi mereka kan? Tidak,,, pasti ada yang salah.
Debby masih mencoba menormalkan detak jantungnya yang terasa tak menentu. Semua yang baru saja ia saksikan benar-benar tak terduga dan sulit untuk dipercaya. Apalagi ia mendengar dengan jelas, lelaki itu mengatakan bahwa Tari adalah istrinya.
Ya, Debby tahu laki-laki itu. Lelaki itu adalah anak tetangga tantenya. Dan Debby sedang berada tepat di seberang kediaman Nabil. Di rumah tantenya. Dan ia harus menyaksikan hal itu.
Bersambung....