Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Perhatian Kecil



Semalaman Deon menjagai Sea yang demam, menjelang pagi Deon ketiduran sejenak. mengerjabkan matanya, kemuduan menempelkan punggung tangan ke kening Sea, "sepertinya sudah menurun" gumam Deon.


Deon segera beranjak hendak membuatkan bubur untuk Sea. ya, bagaimanapun juga, bukankah penghuni apartemen ini juga hanya mereka berdua yang huni.


Di kamarnya Sea mengerjabkan matanya, dia merasakan benda yang menempel di keningnya, setelah disentuh dia akhirnya tahu kalau itu handuk yang dikompreskan di keningnya, yang tentu saja dia tahu itu Deon yang melakukannya.


pintu kamar terbuka, dan Deon muncul dengan membawa semangkok bubur meletakkan dekat sea kemudian bertanya "kamu sudah bangun? apa sudah mendingan?" sembari menempelkan punggung tangannya di kening Sea.


"Sepertinya sudah mendingan, maaf jadi merepotkanmu, terima kasih". Sea berucap dengan tulus.


"it's okay, santai saja, bukankah aku seorang dokter, pasien yang tidak kenal saja aku pasti akan rawat dengan tulus, apalagi kamu yang sudah tentu ikut menghuni apartemen ini" jawab Deon


mendengar jawaban Deon, Sea terperangah, "apa dia tidak terbentur sesuatu tadi malam, kenapa pagi ini kelihatan sangat berprikemanusiaan?" tanya Sea dalam hati


Melihat Sea hanya diam, Deon mengerutkan keningnya, "sudah, jangan terlalu berbesar kepala, aku melakukannya hanya sebagai rasa kemanusiaan"


Sea memutar matanya malas, "Tadinya aku mau benar benar berterima kasih dengan tulus, tapi sepertinya tidak jadi, aku pikir kamu melakukannya dengan tulus" jawab Sea


Melihat Sea yang sudah memiliki tenaga mendebatnya, memilih menyuruh Sea makan bubur yang sudah dibuatnya, "sepertinya kamu sudah memiliki tenaga untuk berdebat, makanlah agar kamu semakin kuat untuk berdebat"


Dengan mengerucutkan bibirnya, Sea meraih bubut yang dibawakan Deon, suapan pertama "lumayan enak' gumam sea dalam hati. sampai tidak terasa bubur itu tandas tak bersisa.


"kamu itu seperti tidak makan berbulan bulan, dan ya tidak dipungkiri yang memasak juga dokter tampan sepertiku sudah pasti kamu Makan dengan bangganya" Deon kembali dalam mode narsisnya.


"Terserah mengatakan apa yang penting aku kenyang, ahh yaa untuk hari ini dan makanan ini sepertinya aku benar benar tulus mengucapkan terima kasih" kata Sea.


"Ya, memang sudan seharusnya kamu berterima kasih padaku, sudah siap makan, ini makanlah obatnya lagi, hari ini sepertinya aku harus ke rumah sakit, kamu tidak apa apa sendiri kan? tanya Deon


"Tidak apa apa, sepertinya hari ini alu mau istirahat saja" jawab Sea.


Namun, karena pusing kian mendera, Sea merasa oleng dan hendak terjatuh, tidak sengaja menarik pinggiran sprei yang digunakan alhasil "prank... "gelas yang tadi sea letakkan di atas nampan ikut tertarik mengakibatkan jatuh.


"bruukk," sea juga ikutan jatuh... beruntung Deon yanh mendengar langsung berlari melihat keadaan Sea.


"kamu kenapa, kok bisa terjatuh" segera Deon mengangkat Sea.


"Tadi mau ke kamar mandi, ehh tiba tiba pusing lagi" jawab Sea.


"ya udah, ayo biar aku antar" Deon akhirnya menuntun Sea, sesampainya Sea segera menuntup pintu.


"tidak usah dikunci, nanti kalau kamu kenapa napa di dalam susah kan?" Kata Deon


tidak berselang lama Sea keluar, dengan segera Deon memapahnya.


"apa masih pusing?" tanya Deon, kekhawatiran jelas terlihat di wajah Deon.


"Nggak apa apa kok, udah mendingan, tadi mungkin karena tiba tiba berdiri makanya pusing gitu" jawab Sea.


"Jawaban macam apa itu, jelas jelas mamu terjatuh, ya sudah kamu tiduran aja istirahat dulu".


Deon membantu Sea ke ranjang tempat tidurnya, ketika hendak sudah berbaring "terima kasih Deon" ucap Sea tiba tiba


Deon memandang wajah Sea dengan lekat tanpa memalingkan pandangannya dari wajah Sea.


Dua pasang mata saling memandang...