Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 91



Siang yang sangat panas tak menghentikan Tari dari niatnya. Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju kantor sang suami. Ya, Tari bertekat untuk memulai menjalani kehidupan pernikahannya layaknya kehidupan pernikahan pada umumnya. Ia akan mencoba menerima dengan ikhlas pernikahannya ini.


Mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya, sepertinya ide yang bagus. Mungkin saja mereka bisa bersikap harmonis setelah ini.


Tari teringat perkataan ibu mertuanya tadi. Rafik suka mengkonsumsi buah seyelah makan. Dan buah yang disukai lelaki itu adalah pisang. Tari pun singgah sebentar di kedai buah.


Saat tengah melihat-lihat pisang yang ingin ia beli, sebuah sapaan mengejutkannya.


"Tari?" Sahut seseorang.


"Anggi?" Balas Tari dengan wajah tegang.


"Ta,, lo disini? Beli buah ?" Tanya Anggi heran. Ia tahu Tari memang sangat suka buah Ceri dan Mangga. Akan tetapi Anggi melihat dengan jelas disini hanya menjual Pisang dan Semangka. Lalu, untuk siapa kira-kira sahabatnya membeli buah pisang?


"I,, iya. Gue,,, beli buah." Jawabnya gugup.


"Ini, mbak." Ujar Penjual buah tersebut membuat Anggi semakin bingung.


Anggi hanya diam saat Tari tengah bertransaksi dengan penjual buah tersebut. Namun, ia belum beranjak. Karena ada banyak pertanyaan yang muncul ingin ia keluarkan.


Melihat Tari sudah selesai, Anggi langsung mencekal tangannya yang ingin pergi.


"Ta!" Ujarnya. "Apa yang lo sembunyiin dari kita?" Tanya Anggi tanpa basa-basi."


Tari semakin menegang. Ia menelan salivanya yang terasa mencekat di tenggorokannya.


"Kenapa? Lo kenapa jadi gugup? Ayo jujur, Ta. Lo berubah! Sekarang lo nggak kayak Tari yang kita kenal. Lo pasti ngerahasian sesuatu kan dari kita?" Anggi mendesaknya dengan begitu banyak pertanyaan. Tatpan Anggi yang dalam membuat Tari semakin tegang. Ia bingung sekarang.


"Nggi, Gue,," Tari menghela napas panjang dan melepasnya. "Gue,, nggak bisa ngomong apapun sekarang, Nggi." Ucap Tari. Sebisa mungkin ia bersikap tenang meski hatinya tengah gusar.


"Nanti, kita ngobrol. Banyak hal yang sebenarnya pengen gue ceritain sama kalian. Tapi,,, kasih gue waktu..." Tari berucap dengan pasrah.


"Ta,,," Anggi menunjukkan wajah risaunya. Entah mengapa ia merasa sesak sekarang. Tatapan Tari menunjukkan begitu berat beban yang ia hadapi sekarang. Namun, ia akan mencoba memahami sahabatnya itu. Setidaknya Tari mau mengakui jika dirinya sedang ada masalah.


"Nggi. Gue harus pergi sekarang. Gue janji, dalam waktu dekat gue bakalan jujur ke kalian tentang sesuatu hal, yang sekarang belum waktunya kalian tau." Ucap Tari menggenggam erat tangan Anggi. Gadis itupun mengangguk mengerti.


"Udah dulu, ya. Assalamu'alaikum" Pamitnya yang kemudian berlalu meninggalkan Anggi yang masih terpaku.


Tari memasuki mobil. Anggi hanya melihatnya dengan wajah yang sulit diartikan. Yang pasti, Anggi tahu jika mobil yang dipakai Tari sebelumnya tak pernah sahabatny itu pakai.


"Ada apa, ya?" Gumam Anggi lirih.


Sementara Tari, air matanya tak tertahan lagi. Perasaannya bercampur aduk. Yang pasti kini ia merasa bersalah karena telah membohongi sahabat-sahabatnya dengan masalah sebesar sekarang. Ia menghapus air matanya yang telah mengalir membasahi pipinya.


"Maafin gue. Gue janji, setelah ini gue akan jujur sama kalian." Bisik Tari dalam hatinya.


.


.


Hari ini Gian mengikuti rapat di kantor koleganya. Sudah jam makan siang. Rapat pun berakhir. Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan dan mengakhiri rapat hari ini.


Gian sebenarnya cukup tertarik mengetahui sisi pribadi kliennya. Bukan karena ia ingin terlalu mencampuri, namun entah mengapa ia sangat penasaran. Ada sesuatu yang terasa menarik hatinya untuk lebih mengenal lelaki di hadapannya ini.


"Hmm,,, maaf kalau saya lancang, Pak Rafik. Tapi, apa anda sudah menikah?" Tanya Gian. Raut wajah lelaki itu yang tak lain adalah Rafik terlihat biasa saja. Tak ada kecemasan. Bahkan, ia terkesan senang-senang saja saat Gian bertanya.


"Oh, tidak masalah, Pak Gian. Saya memang sudah menikah. Tapi, tidak mohon maaf karena tidak mengundang anda." Jawab Rafik.


"Oh,, tidak apa-apa." Kata Gian.


Melihat jam di tangannya, akhirnya Gian pun pamit untuk pergi. Ia teringat jika tadi Rania memiliki pesanan yang harus ia penuhi.


Rafik mengantar Gian hingga ke depan pintu ruangannya. Setelahnya ia meninggalkan ruangan pemilik gedung 12 lantai itu dengan hati yang entah mengapa terasa berat untuk pergi. Ia memasuki lift. Lalu turun ke lantai dasar.


Sesampai di lantai dasar, Gian keluar dari ruangan kecil yang dapat bergerak turun naik itu sembari mematut-matut kantor tempat ia berpijak sekarang. Sembari berjalan, sayup-sayup Gian mendengar ada suara-suara yang cukup meribut di lobi. Ia pun semakin dekat, dan semakin jelas pula suara tersebut.


",,,,,, Ya nggak bisa begitu loh, Ren. Nggak sembarang orang boleh masuk ke ruangan bos." Kata salah satu resepsionis.


"Ya, kan kita bisa pastiin dulu, ada perlu apa mbak nya." Kata wanita yang dipanggil Ren itu.


"Ckk,,, Udah lah. Udah banyak kok cewek yang ngaku-ngaku sok akrab dan sok dekat banget sama bos. Gue yakin dia ini juga salah satunya. Dan lo ingat kan yang kemaren?"


Wanita bernama Ren itu hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Ia tahu kemaren baru saja partnernya yang lain dimarahi oleh Rafik karena tak bisa mencegah wanita yang mengejar-ngejar Rafik masuk ke ruangan CEO itu.


Ia pun mencoba mendekati gadis berhijab yang memegang sebuah paper bag dan kantong buah di tangannya.


"Mbak. Maaf ya kalau teman saya nggak sopan." Kata perempuan bernama Ren itu.


"Iya, nggak apa-apa. Kalau emang saya nggak boleh ke ruangan Pak Rafik, saya mau titip ini aja." Katanya.


Perempuan yang marah-marah tadi pun mendelik malas. Hal itu tak luput dari penglihatan Gian yang masih menonton adegan itu. Ia geram melihat Tari diperlakukan seperti itu. Dan juga ia penasaran sebab apa gadis berhijab itu ada disini.


"Tari!" Sahut Gian mengejutkan ketiganya.


"Bang Gian?" Ucap Tari tercekat.


Ia seketika menjadi panik. Ia tak menyangka akan bertemu Gian di kantor suaminya. Hah,, dunia serasa hanya seluas daun kelor.


Bersusah payah Tari menelan salivanya. Perlahan Gian mendekat, membuat jantugnya semakin berpacu cepat.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Gian. Lelaki itu melirik benda yang dipegang gadis itu. Indera penglihatannya menangkap jelas isi kantong buah tersebut adalah Pisang.


"Beberapa kali pertemuan dengan Pak Rafik, saya pernah dengar kalau dia suka buah pisang. Apa ini dia pesan sama kamu atau,,," Ada sarat akan pertanyaan dari nada bicara Gian.


"Oh,,, ini,,," Tari tak tau akan berkata apa lagi.


.


.


Bersambung.....


.


.