Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 96



Huek,, Huek,, Suara muntahan itu membuat Gian terusik dalam tidurnya. Ia bangun dan memastikan keberadaan sang istri. Ternyata Rania tak ada di tempat tidur. Dan itu berarti istrinya tengah muntah di kamar mandi.


Gian pun bergegas menghampirinya, setelah kesadarannya terkumpul dengan paksa.


"Rania? Sayang!" Ucapnya mendapati Rania yang menunduk di depan wastafel.


Ia membantu sang istri dengan memegang rambutnya yang tergerak, yang dengan susah payah dipegangnya. Setelah beberapa saat, Rania pun berhenti muntah.


Ia mencoba mengatur napasnya, sembari menghilangkan denyut di kepalanya akibat baru saja muntah. Setelahnya ia menyadari tubuhnya yang lemas. Untung saja ada tubuh kokoh suaminya yang menahannya saat Rania merasa oleng.


"Lemas banget, mas." Gumamnya dengan suara lemah.


Gian memeluknya dan memberi elusan di bahu dan lengan sang istri. Ia merasa prihatin, betapa sulitnya Rania menjalani morning sick ini. Dan itu akan dialami sang istri hingga beberapa bulan ke depan.


Oh,, tak bisakah semua beban berat itu dipindahkan ke dirinya? Biarlah ia saja yang merasakannya. Begitulah pikir Gian. Ia sungguh tal tega melihat Rania yang harus mengalami masa sulit selama kehamilannya. Biarlah dirinya saja.


Ia menggiring Rania ke ranjang dan membantu sang istri untuk kembali berbaring. Rania pun memeluk tubuh Gian dengan erat, seakan tak rela melepasnya.


"Jangan pergi ya, mas! Disini aja." Pintanya memohon.


"Tapi, apa kamu nggak mau minum sesuatu? Aku bikinin teh, ya?" Tawarnya.


"Enggak. Aku maunya sama mas aja, disini." Jawabnya dengan manja.


Gian menghela napas, ia menuruti saja. Demi menjaga perasaan sang istri, dan mungkin ini juga keinginan calon bayi mereka.


Rania yang tadinya hening berada di pelukan Gian, tiba-tiba berujar yang membuat Gian tercekat.


"Mas,, kayaknya kalo Bang Reno bikin Pancake, enak deh." Ujarnya.


Gian menelan salivanya yang terasa mencekat. Mulai lagi deh ngidamnya. Mana mungkin Reno bisa membuat Pancake. Memasak telur ceplok saja kakak iparnya itu tidak berhasil. Apalagi Membuat makanan yang lebih rumit.


"Kamu yakin?" Tanya Gian memastikan.


Rania mengangguk. Gian terdiam sejenak. Ia berpikir apakah mungkin bisa Reno melakukannya. Dan apa kakak iparnya itu mau?


"Aku telfon Reno dulu, ya." Ucapnya melepas tubuh kecil sang istri.


Gian segera menghubungi sahabat sekaligus kakak iparnya itu. Mengutarakan maksudnya yang ingin dibuatkan Pancake untuk sang istri, yang tak lain adalah adik Reno sendiri.


Awalnya Reno keberatan karena tidurnya sedang nyenyak. Terlepas dari itu juga karena fakta bahwa dirinya tak terlalu paham dengan dapur dan semua cara memasak dengan benar. Dan sekarang sang adik yang tengah hamil itu memintanya membuatkan Pancake. Yang benar saja.


"Lo tega bikin Rania sedih, Ren? Dan apa lo mau nanti keponakan lo ileran?" Kata Gian dengan niatnya mendesak Reno agar mau memenuhi ngidam Rania.


Reno berdecak di seberang sana. "Huuuffffttt,, Oke. Gue bakalan bikin Pancake. Tapi gue nggak janji kalau rasanya akan seenak Pancake yang orang lain bikin" Ucap Reno pasrah.


"Nggak apa-apa, deh. Gue tunggu, ya!" Kata Gian yang kemudian menutup panggilannya. Ia kembali beralih pada Rania dan mengusap kepala istrinya itu.


"Gimana, mas? Bang Reno mau, nggak?" Tanya Rania dengan tatapan penuh harap.


"Iya. Dia mau kok." Jawab Gian.


Rania pun bersorak antusias. Ia kemudian beranjak ke kamar mandi, membuat Gian keheranan.


"Kamu mau ngapain bawa handuk?" Tanya Gian.


"Mau mandi." Jawabnya.


"Mandi? Jam segini mandi?"


Rania mengangguk dengan wajah lucu. "Gerah. Kamu sih deket-deket aku terus." Ucapnya terlihat sewot.


Gian hanya bisa melongo melihat punggung sang istri yang menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ia menunjuk wajahnya sendiri dengan kebingungan.


.


.


Pukul 1 dini hari, Tari terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kekosongan di sisi kasur sebelahnya. Ia pun bangkit dan menatap sekeliling. Lampu kamar telah berganti dengan lampu tidur. Namun, tetap tak ada Rafik.


Tari berjalan keluar dari kamar. Ia masuk ke ruang kerja suaminya dengan langkah pelan. Saat pintu terbuka, hati Tari kembali mencelos melihat sang suami yang tertidur sembari duduk di kursi kerjanya. Rasanya begitu sesak.


Ia bingung entah kenapa. Apa mungkin karena dirinya telah menerima pernikahan ini, sehingga sikap buruk Rafik menjadi sesuatu yang menyakitkan baginya.


"Yaa Allah. Untuk apa pernikahan ini, jika suamiku tak mau tidur dalam satu kamar denganku." Lirih Tari yang telah keluar dari ruangan tersebut.


Tari menangis di depan pintu. Perlahan tubuhnya melemas karena rasa sesak di dadanya yang kian terasa. Ia menangis sendirian. Meratapi kisahnya yang tak pernah ia sangka akan seperti sekarang.


Tanpa sadar Tari menangis hingga tertidur disana dengan posisi duduk bersandar pada dinding dekat pintu.


Pukul 4 subuh Rafik terbangun. Ia mengucek matanya yang terasa perih saat dibuka. Setelah beberapa saat ia menyadari bahwa dirinya tertidur di ruangan kerjanya. Ia merutuki dirinya yang kembali melakukan hal ini.


Ia tak ingin Tari menyadarinya dan kembali mendapati dirinya yang tertidur disini. Ia pun bergegas henda keluar. Saat membuka pintu, ia terkejut melihat kaki seseorang.


Ia pun keluar dan menyaksikan sendiri sang istri yang tertidur dengan posisi duduk dan kaki berselonjor. Rafik merasakan nyeri di dadanya melihat hal itu.


Baru tadi malam Tante Leni menceramahinya dan sekarang ia masih saja melakukan kesalahan itu. Ia berjongkok, mendekat ke posisi sang istri. Menatapnya lekat.


Ia kembali merasa miris melihat wajah Tari yang sembab seperti habis menangis.


"Kamu nangis lagi." Gumamnya yang kemudian menghembuskan napas berat.


Ia ingin mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke kamar. Namun, tidak bisa. Ia tidak mungkin melakukannya sekarang.


Rafik terpaksa kembali masuk ke ruang kerjanya. Lalu ia menutup pintu dengan perlahan agar tak ada bunyi.


Di dalam ruangannya Rafik bergerak gelisah. Ia bingung harus bagaimana, harus melakukan apa. Ia mondar-mandir dengan wajah gusar.


Entah bagaimana, emosinya menjadi tak terkendali. Rafik menghempas semua benda yang ada di atas meja. Sebuah vas bunga dan gelas pecah menimbulkan bunyi yang berisik.


Tari yang berada diluar terkejut mendengar bunyi pecahan tersebut. Ia terbangun dan bergegas masuk ke ruangan Kerja Rafik. Ia ketakutan sekaligus cemas melihat Rafik yang seperti orang kesetanan. Menghempaskan semua benda yang ia lihat, dan berteriak.


"Yaa Allah, mas." Ucapnya perlahan mendekat. Namun, langkahnya terhenti saat Rafik mengusirnya.


"Keluar!! Keluar kamu dari sini!! Keluar!!" Teriak Rafik.


Tari semakin takut. Ia seperti orang linglung. Tak tau akan melakukan apa. Dadanya kian berdetak semakin cepat. Tangisnya pun kembali lepas.


Melihat Rafik yang mengamuk seperti itu, hatinya semakin sakit. Apa yang membuat suaminya marah? Apa yang terjadi? Ia juga ingin diperlakukan seperti istri-istri pada umumnya. Dijadikan tempat bercerita dan rumah oleh suaminya.


Sebuah miniatur guci mendarat tepat di depan Tari. Itu membuatnya semakin terenyuh. Dengan langkah pasti, Tari keluar dari ruangan itu. Ia menutup pintu dan berlari ke kamarnya dengan air mata yang mengalir deras.


Sesampai di kamar, ia kembali menangis sejadi-jadinya. "Yaa Allah,, kuatkan aku. Tolong beri aku pentunjuk, Yaa Rabb." Do'anya didalam tangisnya.


.


.


Bersambung....


.


.