
Pagi hari, Sea dan Deon berpamintan kepada papa Johan dan mama Agatha. Pindahan yang sudah direncanakan. Deon melajukan mobilnya setelah sempat berdebat dengan Sea yang memilih duduk di belakang.
“Kau pikir aku supirmu, pindah ke depan” Deon kesal melihat Sea
“Ia, hari ini kau memang supirmu, bukan kau yang mengemudikan mobil, dekat dekat denganmu membuatku takut tiba - tiba saja tangan ku yang gatal menjambak rambutmu” balas Sea sekenanya
Jawaban Sea membuat mulut Deon gatal untuk berdebat.
“Sudahlah, biarkan saja Sea duduk di belakang, membuat istri senang itu juga ibadah” Agatha malam membantu Sea
“Se, kalau suamimu membuatmu kesal, bilang sama mama. Biar mama yang membereskan” Agatha menambahkan
Sea terkekeh dengan perkataan mama mertuanya. Jujur saja Sea sangat tersanjung dengan perlakuan mertuanya yang sangat manis.
Deon memilih mengalah. Membiarkan Sea duduk di belakang.
Di dalam mobil pasangan itu masih saja sibuk berdebat.
“Nanti di apartemenmu, kau tidak berniat mencelakaiku kan? Sea tiba - tiba bertanya
“Mencelakai bagaimana, kau pikir aku psikopat, ada - ada saja”
“ya aku kan nggak tau apa yang kau rencanakan. Bisa sajakan? “
“Buang jauh - jauh pikiran kotormu itu, kau akan aman asal kau tidak cerewet” Balas Deon
“Siapa yang cerewet, aku cerewet karena kau yang menyebalkan” Sea melebarkan matanya
Sampai akhirnya mobil itu memasuki area apartemen mewah Deon.
Memasuki apartemen, Deon menari koper Sea, bagaimanapun dia tidak ingin menjadi laki -laki yang tidak berperasaan membiarkan Sea kerepotan menarik kopernya.
“Aparatemen ini hanya satu kamar, aku sebenarnya tidak rela berbagi kamar dengan wanita cerewet sepertimu. Tapi kali ini tidak apa - apa?”
“sebenarnya apartemenmu mewah, tapi tetap saja karena kau orang yang harus dekat - dekat dengnku membuat apartemen ini berubah menjadi suram” balas Sea
Deon mendellikkan matanya Kesal.
Di tengah perdebatannya, tiba - tiba saja bel pertanda ada tamu. Deon yang sudah tahu siapa orang yang bertamu bergegas membuka pintu.
Sebelum ke Apartemen pagi tadi Deon menelpon Ares untuk datang ada beberapa pertemuan yang akan diwakilkan ke Ares.
Ares memasuki Apartemen, matanya mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
“Kau mencari sahabatmu,?” Deon menebak
“apa Mulutmu akan tetanusan kalau menyebut nama sahabatku SEA itu dengan benar” Ares balas bertanya
Tidak lama orang yang diomongi muncul.
“Wah Ares, untung kamu kemari, jadi kesuraman sedikit berkurang, moodku sedikit membaik” Sea menghampiri Ares
“hahahaha, Tidak heran memang kalau Deon membuat hari-harimu suram” Ares balas bercanda
“Lihatlah Se, suamimu benar-benar menyeramkan” Ares seolah tidak takut dengan Deon
Sea yang mendengar kata suami selalu saja merasa risih.
“Ares, aku ada sedikit pekerjaan yang belum beres. Aku tinggal ya.. takut Dokter duda benar-benar memecatmu,” Sea akhirnya meninggalkan mereka berdua
“Bukankah aku yang jadi suaminya, tetapi kenapa wanita aneh ini malah pamitnya ke Ares. Deon, apa yang kau pikirkan, terserah dia mau melakukan apa” Deon bermonolog dalam hati
“Jadi, apa yang harus kukerjakan hari ini?” Tanya Ares
Deon segera beranjak mengambil setumpuk berkas, mengambil salah satu untuk diserahkan ke Ares.
“Hari ini sebenarnya ada pertemuan dengan direktur perusahaan Maxton yang kita temui tempo lalu, setelah kupelajari Perusahaan ini memili jumlah karyawan ribuan. Rencananya akan ada kerja sama dengan mereka terkait Layanan kesehatan” Deon menerangkan
“Jadi, aku percayakan pergilah bicarakan dengan jelas konsep yang kita gunakan, aku sudah mengabari kalau kau yang mewakilkanku. Hari ini aku merasa kurang fit” Kata Deon
“Baiklah, tapi tunggu dulu” Ares memicingkan matanya Seolah curiga
“Kau kurang fit, bukan karena mengoperasikan mesinmu ke Sea kan” Ares kembali menggoda Deon
“Bisa diam tidak, aku benar -benar tidak enak badan, apa perlu kusumpal dulu mulutmu?”
“Tidak usah marah, tidak ya tidak aja. AKu tidak yakin berapa lama kau bertahan untuk tidak mengoperasikan mesinmu” Ares terkekeh sambil pergi meninggalkan Deon
“Dasar pikiran mu memang perlu dicuci” balas Deon.
Di dalam kamar Sea masih sibuk menyusun barang-barangnya. Melihat kamar Deon yang besar, Sea memutuskan menelpon rumah untuk dibawakan buku-buku yang Sea perlukan, apalagi saat ini dia sibuk menyusun tesisinya.
Sambil menunggu buku-bukunya, Sea menelpon Dosennya mengabarkan bahwa dia sudah selesai Ke bab berikutnya. Namun, sepertinya Dosennya masih sibuk dan mengundur jadwal bimbingan.
Tidak terasa waktunya makan siang. Perut Sea sudah berdemo meminta di isi.
Keluar dari kamar Sea berniat memasakkan sesuatu yang bisa dimakan. Menuju ruang dapur Sea membuka kulkas. Terdapat stok bahan makanan. Deon memang selalu menyiapkan stok makanan. Untuk urusan masak Deon lumayan bisa. Sedangkan untuk urusan kebersihan, deon menyewa satu orang asisten rumah tangga yang datang setiap pagi.
Memilih membuat spaghetti rumahan Sea mulai acara memasaknya. Selesai memasakn Sea berniat memakan spaghetti buatannya. Namun ia urungkan mengingat ada satu mahluk lagi yang belum menampakkan batang hidungnya.
Bagaimana pun juga Sea memiliki rasa kemanusiaan, Sea melihat Deon sedang menonton televisi.
“Dokter duda, apa kau tidak lapar. Aku sudah membuatkan Spaghetti” Sea menawarkan
“Apa kau memiliki permintaan aneh, kenapa kau tiba - tiba berubah menjadi baik. Tapi tidak apa - apa aku menerima, mari kita makan”
Mendengar jawaban Deon, Sea menjadi jengah.
Sampai di meja makan, Sea yang sudah menaruh dalam dua piring memberikan kepada Deon
“Makanlah, aku sudah menaruh banyak racun di dalamnya” kata Sea
“seberapa banyak racun, metabolisme tubuhku masih mampu mengalahkannya” Deon menjawab
Memilih diam dan menikmati makan siangnya, Sea akhirnya menyelesaikan makan siangnya dengan Deon.