Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Episode 80



.


.


Tiinn...


Suara klakson mobil dengan refleks tercipta oleh Tari yang menekannya tiba-tiba. Tari berhenti mendadak. Mobil di depannya membuat Tari kesal. Entah siapa yang berani berbuat nekat seperti itu, menghentikan mobil dari arah berlawanan tepat di depan mobilnya.


Dengan rasa marah yang tertahan Tari turun dari mobil hendak menghampiri si pemilik mobil didepannya itu. Ada sebab apa orang itu melakukannya?


Alangkah terkejutnya Tari saat melihat sosok bertubuh tinggi yang baru saja keluar dari mobil hitam di depan. Napas Tari tercekat. Bukankah lelaki itu sedang ada di luar kota? Mengapa sekarang ia sudah berada disini?


"Masuk!" Titah lelaki itu dengan nada tak terbantahkan. Tari menatapnya lekat.


"Masuk!!" Ucapnya lagi. Entah mengapa ucapan yang terlontar dari bibir lelaki itu yang tak lain adalah suaminya, terasa mengerikan bagi Tari.


Tari perlahan mulai bergerak, ia berbalik hendak memasuki mobilnya. Namun, langkahnya terhenti karena sahutan suaminya lagi.


"Saya suruh kamu masuk ke mobil saya. Bukan mobil kamu." Katanya. Tari hanya bisa memejamkan mata menahan perasaannya.


Ia melihat sekeliling yang ramai. Jika ia membantah suaminya itu, pasti akan timbul keributan. Lebih baik ia menuruti saja. Dengan suaminya mencegatnya di tengah jalanan seperti ini saja sudah memalukan.


Tari berjalan dengan langkah cepat memasuki mobil yang ditumpangi Rafik. Lalu disusul sang suami dan duduk disampingnya. Mobil melaju, hingga setelah beberapa menit Tari tak berkutik sama sekali. Ia hanya diam dengan tatapan sendu menatap ke jendela.


"Kenapa kamu menolak diantar supir?" Tanya Rafik tiba-tiba.


"Ayo, jawab. Saya lagi bicara sama kamu. Jangan diem aja." Gertak Rafik.


"Aku nggak mau. Aku bisa bawa mobil sendiri." Jawab Tari tanpa mengalihkan tatapannya.


"Mulai sekarang kamu harus diantar supir kemana pun kamu mau pergi." Kata Rafik. "Saya nggak mau tau. Kalau kamu membantah,,, kamu tau akibatnya." Lagi dan lagi suami jahatnya mengancam Tari. Rasanya ingin sekali Tari berteriak di depan wajah suaminya itu, bahwa ia ingin bebas.


"Kamu denger, kan?" Ucap Rafik geram.


"Aku nggak mau begini. Kamu terlalu mengatur hidup aku. Aku nggak suka." Tari sudah tak tahan untuk tidak protes.


"Kamu membantah?" Rafik menarik tubuh Tari untuk menghadap ke arahnya. Ia menatap wajah istrinya itu. Ada tekanan tertahan di dadanya saat menyadari istrinya sudah menangis. Air mata yang menggenang di pelupuk mata Tari berhasil merubah raut wajah Rafik menjadi melunak.


Perlahan ia melepas cengkeramannya di bahu Tari dan memperbaiki posisi duduknya menghadap lurus ke depan.


"Baru hari ketiga kita menikah. Dan ternyata memang benar, kamu nggak akan bikin aku tenang." Gumam Tari masih didengar oleh Rafik.


Tari menghapus lelehan air matanya yang meninggalkan jejak di pipinya. Ia lebih memilih diam hingga sampai di rumah.


.


.


Winda terdiam heran menatap pemandangan di depannya, yang jauh di depan jalan. Ia benar-benar tertegun dengan apa yang baru saja ia lihat. Mengapa Tari masuk ke mobil itu? Lalu siapa lelaki yang berdiri di dekat mobil tersebut? Sepertinya ia baru saja memerintahkan Tari untuk masuk ke mobil.


Oh,, ia teringat bahwasanya sahabatnya itu belum jadi menjawab pertanyaan mereka tadi. Jadilah ia sekarang merasa penasaran sendiri.


"Mario?" Gumam Winda melihat lelaki yang mengemudikan mobil yang dinaiki Tari.


"Kenapa Mario bisa sama Tari? Apa mereka saling kenal?" gumamnya yang masih bergelut dengan segelintir kebingungan yang ia rasakan.


"Gue harus cari tau." ucap Tari mengangguk.


Winda memilih mengikuti mobil yang membuatnya penasaran itu. Sepertinya ada yang aneh dengan Tari dan orang itu. Apalagi keberadaan Mario disana, membuat Tari semakin keheranan. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Mengapa kini Tari seakan-seakan sedang menjadi sosok yang misterius secara tiba-tiba? Ada perubahan dari sikap sahabatnya itu.


Beberapa menit perjalanan, Winda semakin heran saat melihat mobil yang ia ikuti berhenti di depan sebuah rumah mewah. Pintu gerbang terlihat terbuka, lalu mobil melaju melewati gerbang yang terbuka.


"Ngapain mereka kesini?" Tanya Winda pada dirinya sendiri.


"Apa gue telpon Tari aja, ya? Daripada penasaran." Gumamnya lagi.


"Enggak, enggak. Gue nggak boleh gegabah. Gue harus cari tau dulu." Ucapnya mengangguk.


Winda mendekatkan mobilnya ke gerbang dan segera turun saat penjaga rumah hendak menutup rapat gerbang. Buru-buru Winda menghampirinya.


"Iya, mbak. Kenapa?" Tanya lelaki 40an tahun itu.


"Mm,, boleh saya nanya?"


"Iya, mbak. Silahkan." Kata si penjaga.


"Itu yang barusan masuk siapa, pak?" Tanya Winda.


Penjaga tersebut menatap Winda was-was. "Maaf, mbak ini siapa? Kenapa nanya begitu?"


"Mm,, saya salah satu warga komplek sini, pak. Rumah saya yang di ujung itu. Saya baru liat mobil tadi. Makanya saya tanya." Jawabnya beralasan.


Si penjaga terlihat berpikir. "Itu pemilik rumah ini, mbak. Baru datang. Dan mau tinggal disini mulai sama istrinya. Nah, itu istrinya." Jelas si penjaga tersebut.


"What? Istri?" Ucap Winda refleks dengan mata melebar.


Tenggorokan Winda terasa seperti tercekat. Apa yang baru saja dikatakan Penjaga rumah ini? Istri? Tari istri lelaki itu? Nggak mungkin. Apa yang sebenarnya terjadi? Sungguh mereka seperti sedang bermain teka-teki.


"Se,, sejak kapan,, mereka menikah, pak?" Tanya Winda.


"Baru 3 hari yang lalu, mbak." Jawab lelaki itu.


Winda merasa seperti ada bongkahan batu besar menghantam hatinya. Otot-otot di otaknya serasa seperti ditarik. Perkataan demi perkataan dari si penjaga, terus bersarang di kepalanya. Istri,, tiga hari,,. Bagaimana mungkin.


"Sa,, saya,, permisi pak. Makasih ya, pak." Ucap Winda kemudian berlalu.


Winda terdiam di dalam mobil. Rasanya ia tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakam satpam itu. Bagaimana mungkin Tari sudah menikah namun mereka tak ada yang tahu. Ya, Winda paham sekarang. Hilang kontaknya Tari selama tiga hari kemaren sudah ada jawabannya..


.


.


"Duduk!!" Perintah Rafik. Tari hanya menurutinya meski dengan wajah menahan marah.


Rafik duduk di sofa yang berhadapan dengan Tari. Ia menatap wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Ia harus membuat Tari menuruti perkataannya.


"Mulai hari ini, kalau kamu ingin keluar rumah tanpa saya, kamu harus mau diantar supir. Nggak ada penolakan dan bantahan apapun. Ini perintah!" Rafik berucap dingin namun tegas.


"Aku nggak mau. Aku bisa kok bawa mobil sendiri, nggak perlu pake supir." Jawabnya dengan gaya tengil.


"Saya bilang nggak ada penolakan."


"Tapi, aku nggak mau. Kamu jangan maksa. Aneh, deh." Ucap Tari lagi, kali ini dengan gaya sewotnya.


Rafik berdiri dan menghampiri Tari. Ia menunduk dan mencekal dagu Tari. Tatapannya menyiratkan kemarahan.


"Kamu, dengar. Saya bilang harus, ya harus. Jangan kamu bantah. Atau,, kamu mau apa yang selalu saya peringatkan terjadi? Saya nggak main-main dengan ancaman saya." Ucap Rafik di depan wajah Tari, yang hanya dapa di dengar oleh Tuhan dan mereka berdua saja.


Tari tiba-tiba gemetar mendengar ancaman dari Rafik. Huh,, laki-laki ini hanha bisa mengancam. Hidupnya benar-benar takkan tenang sekarang, karena harus hancur dibawah tekanan lelaki yang sudah menjadi suaminya ini.


Entah memang nasibnya yang sudah ditakdirkan Allah, atau mungkin ini adalah titik balik sebab kesalahan dan dosanya dulu. Menikah dengan lelaki ini, kini menjadi sebuah mimpi buruk bagi Tari. Sikapnya benar-benar tidak menunjukkan itikad seorang suami yang baik. Tari kembali ingin menyesali pertemuan pertama mereka, namun ya sudah lah. Semua sudah ditetapkan oleh Allah.


Tari yang hanyut dengan pikirannya tak menyadari jika suaminya sudah kembali ke posisinya tadi. Suara deheman Rafiklah yang menyadarkannya.


"Mulai hari ini, kita akan tinggal disini." Sahut Rafik lagi yang berhasil membuat Tari terbelalak mendengarnya.


.


.


Bersambung.....


.


.