Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 101



.


.


Siang ini Restoran Reno terlihat ramai. Para pelayan terlihat sibuk mengantar pesanan pelanggan. Rania dan teman-temannya pun juga bagian dari keramaian tersebut.


Mereka tampak serius berbincang mengenai masalah Tari. Namun, ditengah obrolan tersebut Winda datang.


"Halo, gais. Maaf ya gue telat lagi." Ucapnya ikut duduk bersama mereka.


"Iya, maklum si paling sibuk." Ujar Debby.


Winda hanya mencebikkan bibirnya. "Eh, ada info penting." Katanya dengan wajah serius membuat keenam temannya pun menatap penasaran padanya.


"Apa?" Tanya Elina dengan wajah polosnya.


"Jadi, kemaren gue ke mall. Pas mau pulang, gue nggak sengaja lihat Tari di depan mall lagi ditarik-tarik sama cowok yang kemaren. Gue yang penasaran langsung gue ikutin, dan ternyata mereka masuk ke komplek M." Jelasnya kemudian menatap semua sahabatnya bergantian.


Mereka saling pandang satu sama lain. Debby hanya bisa menghela napas berat. Toh, semuanya sudah jelas.


"Itu memang suaminya, Win. Gue tau kok. Mama gue sendiri yang bilang karena ternyata Tante Leni tetangga Tante Putri tuh teman dekatnya Mama." Seru Debby.


"Maksud lo kalau Tari beneran udah menikah? Tapi kenapa dia harus merahasiakan ini dari kita?" Winda terlihat kesal.


"Pasti Tari punya alasan? Kita kan tau Tari itu orangnya gimana. Jangan mikir yang enggak-enggak dulu!." Jelas Debby


Semuanya hanya bisa menghela napas pasrah. Mereka masih bingung dengan apa sebenarnya yang terjadi. Tari yang tiba-tiba sudah memiliki suami, membuat mereka syok, kesal dan sedih seketika.


"Sebenarnya ada apa, sih? Pasti ada yang nggak beres. Kita kenal Tari bukan sehari atau dua hari. Nggak mungkin dia melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas." Kata Anggi menimpali.


Rania kini berdecak. "Gais. Aku juga punya kabar mengenai hal itu." Ucapnya membuat semuanya beralih menatap Rania.


"Aku tau ini dari Mas Gian. Mungkin sebaiknya kita cari tahu pelan-pelan. Dan kita tunggu penjelasan dari Tari tanpa harus menekannya. Mas Gian kenal sama lelaki itu." Rania kini berhasil membuat semuanya tak berkomentar.


"Mas Gian kemaren ketemu Tari lagi nganterin makan ke kantor suaminya dan ketemu sama Mas Gian. Memang benar cowok itu yang mengaku sendiri kalau Tari istrinya." Ungkap Rania.


Semuanya terlihat pasrah dengan apa yang mereka dengar. Perasaannya bercampur, antara kesal, ingin marah dan sedih juga.


Ingin menerka-nerka takut apa yang mereka perkirakan salah. Alhasil mereka lebih memilih diam untuk saat ini. Karena, pasti nanti Tari akan bercerita sendiri.


"Mereka nggak mungkin dijodohin, kan?" Anggi tiba-tiba kembali bersuara.


Tak ada jawaban. Mereka hanya kembalu saling melempar pandangan. Elina melirik jam tangannya, waktu istirahat hampir habis. Dan ia sudah harus kembali ke kantor.


"Gue mau balik ke kantor dulu." Pamit Elina. Baru saja ia berdiri, ternyata Vano sudah berjalan ke arah mereka.


"Lihat, tuh." Sahut Anggi.


Mereka melihat ke arah yang dituju oleh Anggi.


"Gue yakin kalau ini ikatannya nggak akan bisa lepas lagi." Tambah Anggi masih menatap Elina dengan senyum jahil.


Elina berdecak. "Apaan, sih. Udah ah, gue duluan ya." Ucapnya dan berlalu menghampiri Vano sebelum laki-laki itu sampai ke perkumpulan sahabat-sahabatnya.


Mereka terdiam kepergian Elina dan Vano, hingga suara rengekan bayi mengalihkan perhatian mereka ke arah Aina yang sedang tertidur di dalam gendongan Dini.


Dini terlihat menepuk-nepuk pelan bokong Aina agar si balita itu kembali tenang dalam tidurnya.


"Gue juga mau balik ke Floris." Seru Anggi.


"Gue juga mau balik. Kalo ada kabar lagi saling kabarin saja, ya!" Kata Debby.


Anggi dan Debby pun juga berlalu. Kini tersisa Rania, Winda Yanti dan Dini beserta anaknya.


"Gue mau nyantai dulu, ah." Ucap Winda bersandar pada kursi dan merentangkan tangannya.


"Ngomong-ngomong kalian nggak balik ke butik?" Tanya Winda menyadari tak ada pergerakan dari ketiga sahabatnya itu.


"Hufft,,, pengen Mageran dulu." Jawab Yanti yang sejak tadi hanya diam.


"Lo kenapa, Yan? Dari tadi gue lihat diem aja. Apa cuma perasaan gue kalau lo kelihatan lagi nggak mood?" Tanya Winda.


"Gue lagi malas ngomong aja." Ucapnya lemas.


"Dih,,, nggak banget deh lu. Ngeri gue lihat kalian yang pada hamil. Moodnya berubah-rubah." Winda bergidik mengatakan hal tersebut.


"Gue doain lo cepet nikah!" Kata Yanti membuat Winda melotot.


Rania dan Dini hanya tersenyum sembari menggeleng menyaksikan interaksi keduanya. Mereka memang seperti itu. Ada saja tang akan diperdebatkan


.


.


.


Tari terlihat takut-takut menghampiri Tante Leni yang sedang menonton televisi di depan. Ia melihat mertuanya itu dari sisi dinding dekat tangga.


Ada sedikit penyesalan karena apa yang ia lakukan kemaren mungkin akan merusak pendangan Tante Leni terhadap dirinya. Tapi, mengapa Tari harus memikirkan hal itu? Bukankah ia ingin pergi dari keluarga ini?


Tari menarik napas, memberanikan diri menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Ta,,tante.." Panggil Tari pelan.


Tante Leni menoleh dan tersenyum. Melihat hal itu, Tari semakin mendekat pada Tante Leni.


"Tante,," Ucapnya lirih dan menunduk.


Ia duduk di sebelah Tante Leni dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"Tante, aku minta maaf. Aku,,, aku cuma,,," Tari tak dapat meneruskan perkataannya. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa akan kabur.


"Kenapa? Apa yang membuat kamu melakukan itu?" Tanya Tante Leni membuat Tari gelagapan.


"Tante tau?" Ucapnya kaget.


Tante Leni mengangguk. "Sampai saat ini, Tante belum tahu apa alasan Rafik menikahi kamu. Tante tau kalau kamu bukan wanita yang sedang dekat dengan Rafik." Tante Leni mencoba mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan.


Tari menunduk.


"Nak. Kamu boleh cerita sama tante apa yang terjadi diantara kalian. Karena Rafik masih belum mau berterus terang pada Tante." Tante Leni berkata dengan lembut.


"Sebenarnya, aku terpaksa menikah dengan mas Rafik, tante." Aku Tari setelah memberanikan dirinya.


"Teruskan, nak!" Ujar Tante Leni melihat keterdiaman Tari setelahnya.


"Dulu Mama pernah menyuruh aku bertemu seseorang, tante. Dengan tujuan menjodohkan kami. Setelah bertemu, aku menolaknya. Laki-laki itu adalah Mas Rafik."


Tante Leni mengulum bibirnya. Ia tahu cerita itu. Rafik pernah mengatakan bahwa ia ditolak oleh seorang wanita.


"Beberapa bulan setelahnya, aku ketemu lagi sama Mas Rafik. Waktu itu aku nggak sengaja melihat transaksi ilegal di dekat Taman Kota. Dan dia kayaknya marah banget."


"Besoknya Mas Rafik tiba-tiba memaksa aku menikah dan bertemu dengan orang tua aku, tante." Tari menunduk di akhir kalimatnya.


"Bagaimana tanggapan orang tua kamu, nak?" Tanya Tante Leni.


"Papa dan Mama nggak menolak, tante. Mereka menyetujui pernikahan itu. Bahkan, aku merasa pernikahan itu sangat tiba-tiba. Tapi Mama dan Papa terlihat nggak keberatan sama sekali." Curah Tari yang kini sudah tak bisa membendung air matanya lagi.


Tante Leni mengernyitkan dahinya mendengar cerita dari Tari. Ia merasa bahwa semuanya terlihat aneh. Apalagi saat Tari mengayakan bahwa orang tuanya tak menolak dan langsung menyetujui pernikahan mereka.


Ia akan mendesak Rafik agar keponakannya itu mengakui semuanya.


"Nak. Apa boleh tante minta satu hal sama kamu?" Tante Leni menatap dalam mata Tari.


Tari mengangguk dengan ragu.


"Tante mohon satu hal sama kamu, Tolong bertahan ya, nak! Jangan tinggalkan Rafik!!" Ucap Tante Leni penuh harap.


Tari terpaku mendengar hal itu. Hatinya bergemuruh. Apa ia mampu?


.


.


.


Next........


.


.