Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 92



"Kamu ngapain disini?" Tanya Gian. Lelaki itu melirik benda yang dipegang gadis itu. Indera penglihatannya menangkap jelas isi kantong buah tersebut adalah Pisang.


Tari semakin gugup saat Gian membahas mengenai suaminya yang menyukai buah pisang. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan lelaki ini? Tak mungkin ia bilang kalau dirinya mengantarkan makan siang untuk suaminya. Bisa gempar jika ia memberitahukan pada Gian kalau ia sudah menikah dengan Rafik.


Sementara itu, Rafik baru saja keluar dari lift bersama sekretarisnya. Ia melihat beberapa orang berada di depan meja resepsionis. Hal itu mengundang perhatiannya.


Perlahan Rafik mendekati kerumunan kecil itu. "Pak Gian!" Sahutnya saat mengenali lelaki itu adalah kliennya tadi.


Gian tampak menoleh padanya. "Oh, kebetulan sekali Pak Rafik sudah ada disini." Ujar Gian melirik Tari yang semakin menegang.


Ia juga menyadari wajah Rafik yang juga berubah datar saat melihat Laila. Salah satu resepsionis tadi tiba-tiba menyerobot dengan aduan yang tidak benar.


"Pak,, saya sudah melarang mbak ini untuk bertemu bapak. Tapi, dia masih aja ngotot mau ketemu Bapak. Saya bisa kok bawa dia keluar dari kantor ini, pak!" Ucap Resepsionis itu cepat. Sepertinya ia mencoba untuk mencari muka pada Rafik.


"Na,, jangan Na!" Resepsionis bernama Reni itu mencegah agar Naina tidak melakukannya.


"Cukup!"


Naina menghentikan gerakannya yang tadi hendak menarik tangan Tari, karena mendengar seruan Rafik. Kesuanya menatap Rafik dengan wajah penasaran.


"Lepasin tangan kamu!" Titah Rafik dengan nada datar namun terdengar tegas. Melihat itu, Gian tersenyum tipis. Sangat tipis. Baru kali ini ia melihat sikap tegas Rafik kepada karyawannya. Dan ia juga penasaran dengan kelanjutannya.


"Pak Gian, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya berjanji kejadian seperti ini tak akan terulang lagi." Kata Rafik dengan perasaan tak enak hati dan juga malu atas sikap karyawannya.


"Nggak masalah, pak. Saya mengerti situasinya. Tapi,,," Gian menjeda ucapannya. Ia melirik Rafik dan Tari bergantian.


"Boleh saya tau hubungan anda dan Tari." Lanjut Gian. Tari bungkam, sementara jantungnya semakin berdetak cepat. Ia menelan salivanya susah payah.


"Oh,, tentu saja boleh, pak!" Jawab Rafik menyembunyikan rasa gusarnya. Sejujurnya ia juga merasa gusar karena Gian yang bertanya seperti itu. Namun, untung saja ia bisa mengendalikan dirinya.


"Mm,, maaf kayaknya saya harus pergi. Karena saya masih ada urusan." Tiba-tiba Tari bersuara.


Rafik menatap Tari tajam. "Sepertinya dia menghindar." Ucap Rafik dalam hati.


Saat Tari hendak pergi, ia segera menahan tangan gadis itu dan menariknya hingga mereka berjarak sangat dekat. Rafik lalu tersenyum melirik Tari.


"Pak Gian pasti penasaran ada hubungan apa antara saya dan Tari? Karena, Tari mengantarkan ini semua kesini untuk saya,,," Rafik mengambil alih bekal dan buah pisang yang dipegang Tari.


"Seorang istri wajar kan mengantarkan makan siang untuk suaminya." Kata Rafik tanpa ragu.


Gian terkejut bukan main. Sangat terkejut. Namun, ekspresinya tak berubah sama sekali. Ia masih dengan wajah datar seperti beberapa saat lalu sebelum Rafik memberi penjelasan.


Berbeda dengan Gian yang terlihat tenang, Naina yang terkejut tak dapat menyembunyikan reaksinya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan mengingat sikapnya pada wanita itu. Sungguh ia dalam posisi bahaya sekarang, ternyata gadis ini istri bosnya.


"Anda pasti mengerti maksud saya, pak Gian." Tutur Rafik lagi yang dibalas senyuman dan anggukan pelan oleh Gian.


Akhirnya, rasa penasaran kamu akan segera hilang, sayang. Gian bergumam dalam dirinya mengingat bagaimana resahnya Rania memikirkan Tari. Dan sekarang semua pertanyaan dan teka-teki itu terjawab sudah.


"Oke,,, kita temenan mulai sekarang, bro!" Ucap Gian berusaha asik. Meski sejujurnya ia ragu Rafik akan menanggapinya dengan senang hati.


"Nggak perlu terlalu formal, lah. Tentunya anda tau kan alasannya. Seorang Rafik Anandriko, nggak mungkin melakukan sesuatu tanpa memikirkan dan menelusurinya dulu." Kata Gian lagi.


Lalu Gian mengangkat tangannya mengisyaratkan berjabatan, dan ternyata Rafik membalasnya. Mereka pun berjabat tangan.


Gian pun berlalu setelahnya. Namun, Tari mencegahnya hingga ia bergenti melangkah.


"Aku harus bicara sebentar sama Bang Gian, mas." Kata Tari. Tanpa menunggu persetyjuan Rafik, Tari langsung menghampiri Gian dengan berlari.


"Bang Gian,,, aku minta tolong, jangan kasih tau Rania dulu ya. Kasih aku waktu, aku pasti akan menjelaskan semuanya sama mereka. Tolong ya, bang!"


Gian menghela napas panjang dan menghembuskannya. Melihat wajah memelas Tari yang memohon padanya, membuat Gian tak tega. Ia terpaksa mengangguk agar gadis di depannya ini merasa tenang dan tidak memohon lagi.


"Makasih bang Gian!" Ucap Tari akhirnya.


"Iya. Saya pergi dulu." Katanya dan berlalu dari hadapan Tari yang bernapas lega melihat respon Gian. Ia merasa kalau Gian bukanlah lelaki yang buruk. Sehingga ada rasa tenang ketika mengingat sahabatnya Rania menikah dengan lelaki itu. Semoga pernikahan Rania dan Gian selalu harmonis dan bahagia, doanya dalam hatinya.


Tari tersadar jika ia tadi meninggalkan suaminya sebentar untuk berbicara dengan Gian. Namun, saat Tari berbalik sudah tidak ada suaminya di sana. Tari pun kebingungan sembari celingak-celinguk mencari lelaki itu.


"Bu,, ibu mencari bapak ya?" Ujar Reni.


Tari tersenyum menanggapi. "Maaf, bu. Bapak udah kembali ke ruangannya. Ibu langsung aja naik ke lift itu, ruangan bapak ada di lantai 12." Jelasnya.


"Oh, iya. Terima kasih, ya,,,??" Tari memggantung ucapannya karena tak tahu nama gadis itu.


"Saya Reni, bu!" Ucap Reni yang mengerti dengan kebingungan Tari.


"Oh,, Reni. Terima kasih ya, Reni. Saya permisi." Pamit Tari.


Tari mengikuti apa yang dikatakan karyawan suaminya itu. Ia memasuki lift dan menekan tombol lantai tujuannya. Beberapa menit, ia sampai. Ia keluar dan melihat sekeliling. Ada satu ruangan yang tertulis ruangan Direktur Utama. Tari merasa bingung. Entah yang mana ruangan suaminya.


Karena ia tak tau apa jabatan suaminya di perusahaan besar ini. Lagi pula Reni tak menyebutkan yang mana ruangan suaminya.


Tari melihat seseorang keluar dari salah satu ruangan. Ia pun bertanya padanya.


"Maaf, pak. Saya mau tanya, ruangan Pak Rafik yang mana, ya?" Ujar Tari.


Lelaki itu menatap Tari lekat. Sepertinya ini wanita yang di lobi tadi, pikirnya. Tadi ia langsung kembali masuk ke lift diperintahkan Rafik karena Rafik akan menghampiri kliennya yang ada di lobi. Ia juga merasa tak asing, tapi tak ingat dimana pernah melihatnya.


"Itu, mbak. Langsung masuk aja ya, mbak. Bapak ada di dalam." Katanya mempersilahkan.


Tari terpaku. Suaminya direktur di gedung besar ini? Ia harus mengucap berkali-kali untuk menyadarkan dirinya yang merasa seperti bermimpi. Apa benar suaminya pemimpin perusahaan ini?


"Mbak!" Lelaki itu melambaikan tangan di depan wajah Tari. "Ada masalah?" Tanyanya heran melihat Tari yang masih termenung.


"Eh, enggak pak. Nggak apa-apa. Terima kasih ya, pak!" Katanya.


.


.


.


Bersambung


...


.


.