Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Bab 5 : Tersindir



Sudah dua minggu semenjak kelahiran anak Kania, Sea semakin betah di rumah. Sungguh Sea begitu senang mendapati keponakan nya. Hari ini Kania dijadwalkan cek up kembali ke rumah sakit, Sea yang kebetulan hari itu sedang tidak ada jadwal mengajar memutuskan mengantar Kania untuk cek up karena suami kakaknya Sam telah kembali ke Australia 2 hari yang lalu. Pekerjaan yang mendesak dan tertunta mengharuskannya segera kembali, meskipun berat namun di sisi lain ada ketenangan sendiri karena ada keluarga yang menjaga Kania.


Sea dan Kania duduk di bangku belakang dengan mang Udin sebagai supirnya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan bayi Kania yang diberi nama Carlos itu tinggal di rumah bersama Bu Hilda omanya.


Sampai di rumah sakit Sea dan kania langsung menuju ruangan dokter, mau tidak mau Sea diharuskan bertemu kembali dengan dokter yang sempat dijahilinya. Kania didudukkan di ruang tunggu dan Sea sendiri dengan senyuman dibuat semanis mungkin menghampiri ke ruangan dengan sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu dan menyerahkan data diri Kania.


“Sepertinya ramai ya Sus, ini data kakak saya sekalian mau kontrol ulang” sambil menyerahkan ke pad perawat asisten Deon dan segera diterima perawat


Sementara Deon terlihat sibuk berkonsultasi dengan Ibu hamil yang sudah kepayahan untuk duduk saja. Sekilas Deon melihat ke arah Sea, “Silahkan ditunggu dipanggil ya bu’ Kata Perawat


Tidak berselang lama Kania dipanggil dan didampingi Sea . “Apa masih ada yang sakit atau bagaimana bu” tanya Deon ramah. “Sepertinya semua baik, hanya sesekali saya merasa ngilu bagian perut saya” jawab kania. “Itu hal yang wajar bu, butuh waktu yang lumayan lama yang penting ibu tidak terlalu banyak melakukan aktifitas dulu, Silahkan berbaring bu” Jawab Deon


Kania melakukan pemeriksaan dan Sea hanya melihat sambil sesekali mengomentari namun Deon yang sudah pernah dibuat kesal hanya diam tidak menanggapi. Kania hanya tersenyum melihat Sea yang tidak diperdulikan Deon.


Selesai Cek Up Sea menunggu resep obat dari dokter. “apa masih lama dok? Kenapa begitu lama, saya tau dokter ingin melihat saya berlama lama” Sea bertanya sambil menggerutu


Deon yang sedang sibuk menulis “tolong sedikit berSabar ibu, ibu mau saya menulis asal asalan obatnya, hasilnya tidak baik ibu” jawab dokter


Sea kembali diam dan menunggu, tidak berapa lama Dokter menyerahkan resep yang diminta sea.


Mendapati kakaknya Kania di luar, tanpa sengaja Sea mendengar para perawat sebelah ruangan membicarakan dokter Deon.


“Dokter Deon benar-benar tampan, tapi sayang, dia terlalu dingin” kata seorang perawat yang terlihat duduk


“ia benar – benar tampan, meskipun sudah duda kalau ditawari jadi istrinya aku tetap dengan senang hati” timpal perawat yang satunya.


“Duda keren siapa yang tidak mau, dokter tampan, mapan lagi” begitulah kira – kira perbincangan para perawat di sebelah ruangan Deon


Sea segera mengajak Kania meninggalkan rumah sakit, di dalam mobil Sea masih menggeleng gelengkan kepalanya “Kak Kania ternyata Dokter Deon itu Duda, menyesal aku kemarin bilang kagum” kata sea tiba – tiba, “memangnya kenapa, kan memang benar dokterna tampan” jawab kania sambil melanjutkan “kita kan tidak tau dia duda karena hal apa, kenapa kita jadi bahas dokter itu Sea, kakak curiga jangan-jangan kamu ada hati ya sama dokternya” tanya Kania


“idih tidak mungkin lah kak, Sea hanya menyampaikan kepada kakak saja kok” Sea menjawab. “Meskipun sebenarnya sempat ada rasa tapi sekarang sudah tidak, bukan kah wanita normal wajar memuji jika ada laki –laki bening” batin Sea


sementara di rumah sakit Deon yang tiba-tiba keluar dari ruangannya dengan tidak sengaja mendengar perbincangan perawat. “Kalau kalian masih ingin bekerja di rumah sakit ini berhenti membicarakan privasi saya” Sentak Deon. Para perawat yang hanya bisa menunduk terkejut “maaf dok, kami mohon maaf kami pastikan tidak akan terulang lagi”


tanpa menjawab sepatah katapun Deon langsung keluar dari ruangan itu dengan tatapan dingin dan menahan amarah.


Hari Senin, hari pertama dalam satu minggu untuk bekerja, Sea bersiap menuju Sekolah dia mengajar dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang Sea. Di tengah jalan pandangannya melihat sosok dokter yang beberapa minggu ini sering ia jumpai. Dokter Deon tengah berada di dalam mobilnya. “Sepertinya namanya sudah boleh di ubah jadi Dokter duda” batin Sea


Melihat mobil yang dikendarai Deon, Sea mengernyitkan keningnya karena mobil itu berbelok ke arah tempat Sea mengajar, dan lebih terkejut lagi melihat mobil itu berhenti persis di depan Gedung serbaguna yang Sea ketahui milik Pemerintah. “mungkin mereka ada acara batin Sea” dan Sea juga melihat banyaknya manusia yang memakai jubah putih dan bisa dipastikan mereka petugas medis.


“Selamat pagi bu Irma” sapa Sea begitu seesai memarkirkan mobilnya. “Eh selamat pagi Bu Sea” jawab Bu Irma rekan kerja Sea. “Bu di gedung itu acara apaan ya, banyak sepertinya dokter dan petugas kesehatan? Tanya sea


“oh... lagi ada acara sosialisasi tentang KB dan kesehatan, kemarin juga semua pegawai yang ada di Sekolah kita diundang” jabaw bu Irma


“berarti untuk yang sudah menikah ya bu” tanya Sea, “tidak juga ini juga tentang kesehatan, nanti kalau selesai jam mengajar kita boleh ke sana saja bu” jawab Irma


Sea hanya ber oh ria,,, “baik lah bu, nanti kita coba ikuti kegiatannya”. Sea yang penasaran bukan karena kegiatannya tapi lebih ke dokter yang baru dia ketahui berstatus duda itu.


Bel panjang berbunyi, Sea yang masih berada dalam kelas membubarkan kelas anak didiknya. Sesuai janjinya denganBu Irma Sea mereka langsung menuju gedung tempat sosialisasi. Sesampainya di dalam acara masih berlangsung dan diperkirakan selesai sore hari, dari depan Deon yang kebetulan menatap pintu masuk sedikit heran dengan kehadiran perempuan ber anak 11 itu. “Bukankah itu perempuan yang katanya punya 11 anak, bagus kalau dia kemari biar sekalian dia paham KB yang mendukung program pemerintah, lagi pula dari pakaiannya bukankah sepertinya dia pegawai Sipil, tapi kenapa malah dia yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah” batin Deon


Acara terus berlanjut dan dilanjutkan dengan arahan dari Dokter kandungan dan itu Dokter Deon. Deon segera mensosialisasikan apa sebenarnya KB itu, dan sedikit menyinggung tentang perkataan Sea yang mengatakan 11 anak baru ber KB sudah mendukung program pemerintah. Sontak semua yang di dalam ruangan langsung tertawa. “mudah-mudahan yang di dalam gedung ini tidak ada yang seperti itu ya bapak ibu” kata Deon melanjutkan. Tanpa sadar Deon melirik Sea yang mendengar langsung mendelik kesal, dia tau itu tujuannya untuk menyinggung dirinya..


Sea menatap dokter Seon dengan tatapan tajam, ingin rasanya Sea menjambak rambut Deon saat itu juga. entah kenapa dia begitu kesal mendengarnya. sedangkan Deon sesekali melirik Sea dengan senyum penuh kemenangan.