Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Harus Bekerja



Di rasa waktunya semakin sore, Deon pamit ke Sea.


"Se, aku berangkat ya" ucap Deo.


"Ia, mas" Jawab Sea.


Sea mengantarkan Deon hingga depan rumah. Sebelum memasuki mobilnya Deon mendekat ke Sea.


"Boleh minta sesuatu se" Tanya Deon.


"Minta apa mas" Tanya Sea dengan bingung.


"Berikan aku semangat, agar nanti kerjanya bisa lebih optimal" Kata Deon.


Sea semakin bingung, Melihat Sea yang diam saja dan terlihat tidak mengerti Deon mendekati Sea.


Deon segera mencium kening Sea. setelah itu Deon kemudian dengan tersenyum.


"Maksudku,, berikan aku senyuman penyemangat sore ini" kata Deon langsung.


Blussh... seketika rona merah menyembul di pipi Sea.


Deon mendekatkan wajahnya ke Sea.


"Berikan aku ciuman" Kata Deon lagi, semakin mendekatkan wajahnya lagi.


"bb baiklah tapi hanya di pipi" putus Sea.


"cup", Sea dengan cepat menempelkan bibirnya ke pipi Deon.


Namun, belum sempat Sea melepaskan bibirnya, dengan cepat Deon menahan kepala Sea.


Menahan tengkuk leher Sea dan menyambar bibir mungil Sea.


Deon seakan enggan melepaskan tautan bibirnya dengan Sea, namun mengingat pekerjaannya dengan berat hati Deon melepaskan tautan bibirnya.


"Begitu baru dikatakan penyemangat" kata Deon dengan senyum merekah.


Sea menanggapinya dengan senyuman.


"Pergilah dan hati-hati di jalan" Pesan.


Deon segera berangkat, menaiki mobilnya Deon segera meninggalkan rumah mertuanya.


Sepanjang perjalanan Deon merasa semangatnya tumbuh ribuan kali lipat.


"Rasanya aku ingin segera pulang ke rumah, baru saja berangkat aku sudah merindukannya lagi" Batin Deon.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit Deon sampai ke rumah sakit.


Deon tiba 30 menit lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.


Menuju ruangan Direktur, Deon segera mandi dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh Ares.


"Semua berjalan lancar kan Res?, apa ada masalah?." Tanya Deon.


"Semua lancar bos, aman terkendali" Jawab Ares dengan mantap.


"Baguslah, aku ke ruanganku ada jadwal operasi" Kata Deon mengakhiri pembicaraannya dengan Ares.


Deon semakin gagah dan tampan mengenakan dinas putih dokternya.


Deon mendapatkan banyak senyum sapa bentuk hormat terhadap dokter dan juga atasan di rumah sakit dari yang bertugas di rumah sakit tersebut.


Memasuki ruangannya, Deon disambut oleh suster yang sedang piket jaga di ruangan Deon.


"Selamat sore dokter" Ucap suster


"Sore Sus, Bagaimana keadaan pasien yang akan melahirkan sore ini Sus?" Tanya Deon.


"Semuanta stabil dok, tekanan darahnya juga lancar" Jawab Suster.


"Sus, kita ke ruangan pasien sekarang" Ajak Deon.


"Baik dok" Suster segera mengikuti langkah dokter.


Dengan membawa peralatan medis mereka ke ruangan pasien.


"Selamat sore ibu". Sapa Deon dengan ramah begitu memasuki ruangan pasien.


"Selamat Sore dok". Jawab ibu hamil tersebut dengan ramah dan senyum.


"Maaf bu, boleh ya saya periksa keadaan ibu" Kata Deon pula


Pasien menganggukkan kepalanya, Deon segera memeriksa keadaan pasiennya.


"Semua normal ya bu, ibu sudah siap kan ke ruang operasi, sebentar lagi ibu kan bertemu dengan putri kecil" kata Deon.


"Baik dok" Jawab pasien.


"Apa ibu merasa tidak tenang, atau ada keluhan lain" tanya Deon.


"Hanya sedikit cemas dok", jawab si ibu denga jujur.


"Cemas dan khawatir itu hal biasa bu, tapi ibu harus tenang bawa rileks saja" Pesan Deon.


"Baiklah, karena semua sudah siap kita segera ke ruang operasi" Titah Deon.


Deon segera memberikan instruksi kepada suster dan beberapa petugas untuk membawa pasien ke ruang operasi.


Deon didampingi Ares sebagai dokter umum beserta beberapa perawat yang akan membantu proses persalinan tersebut.


Pasien didorong oleh petugas dan diikuti oleh Deon dan timnya.