Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
mas Deon (2)



Mas Deon" Lirih Sea. Sea malu benar-benar sangat malu.


Deon melepaskan tautan bibirnya dengan Sea. "Maaf Sea, aku benar-benar tidak bisa menahan diriku"


Sea memalingkan wajahnya, warna kemerahan menyembul di kedua pipinya yang terasa sangat panas.


"Aku suka kamu memanggilku dengan mas?" Ucap Deon,


Mendengar Sea menyebut namanya dengan mas Deon membuat hati Deon seketika berbunga-bunga.


Artinya Sea juga sudah mulai menerima pernikahan mereka.


"Ya, begitu lebih baik" lanjut Deon dengan senyum merekah.


Sedang Sea, entah bagaimana dia harus bersikap, malu dan salah tingkah yang dirasakan.


"Se, Bibirmu manis" ucap Deon lagi.


Kali ini Sea benar tidak habis pikir dengan suaminya, selain semakin banya berbicara ternyata juga menyebalkan.


"Kamu menyebalkan" cemberut Sea.


"Kenapa begitu, tapi kamu tadi kan menerima saja, tidak menolak" Deon tidak mau kalah.


Sea kehabisan kata-kata. Dengan memberengut kesal Sea membenamkan wajahnya ke dada Deon.


"Bisa tidak, jangan membahas itu" kata Sea.


"Itu yang mana" Goda Deon.


Sea semakin membenamkan wajahnya, "Jangan bahas itu, aku malu" kata sea dengan merengek.


Mendengar nada bicara Sea, Deon semakin gemas. "Ia tidak usah dibicarakan lagi, cukup dilanjutkan saja".


Deon melerai pelukan Sea, dengan gerakan cepat kembali menyambar bibir KiSea.


Deon seakan enggan melepas pagutannya dibibir Sea. "Bernafaslah" Bisik Deon di telinga Sea.


Hangat nafas Deon membuat tubuh Sea seketika meremang.


Deon mulai mengatur nafasnya, berusaha meredam gejolak yang menggelora di dalam dirinya.


Deon tidak ingin menjadi lelaki egois buat Sea. biarlah seiring berjalannya waktu, Sea akan semakin nyaman sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari.


Perlahan kabut gairah Deon mulai mereda.


Menetralkan detak jantungnya Deon membelai surai rambut Sea.


Deon kembali memeluk tubuh ramping Sea.


"Kali ini kita benar benar istirahat, aku takut melewati batasannu Se, hari ini aku masih bisa menahannya, tapi besok dan seterusnya aku tidak yakin" Ucap Deon dengan lembut.


"hmm, sebaiknya istirahat" balas Sea dengan suara pelan.


*****


Setengah jam berlalu, Deon benar- benar terlelap. Sedangkan Sea dia tidak bisa.


Mendengar dengkuran halus dari Deon, membuat Sea yakin jika Deon sudah benar-benar tertidur.


Sea bergeser perlahan setelah mengangkat tangan Deon yang memeluknya dengan posesif.


Sungguh, Sea mengagumi ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya saat ini. Pahatan yang sempurna, Wajah tampan dan bersih yang menandakan dia benar-benar merawar dirinya denban baik, hidung mancung, alis yang tebal dan bulu mata yang lentik.


"ck,, bahkan bulu matanya jauh lebih panjang dari pada bulu mataku" Batin Sea.


Ingatan Sea kembali melayang saat pertama kali bertemu, Sea memang sudah terhipnotis dengan wajah tampan sang dokter.


"Aku benar-benar tidak menyangka, dia yang jadi suamiku".Ucap Sea kepada dirinya sendiri.


Puas memandangi wajah Deon, pandangan Sea tertuju ke bibir Deon. Sea jadi malu sendiri mengingat kejadian tadi.


Pikiran Sea langsung berkelana. Sea tidak ingin menjadi manusia munafik, dia bahkan ikut menikmatinya.


Memikirkannya saja membuat Sea jadi senyum - senyum sendiri dan salah tingkah sendiri.


Melihat suaminya yang tidur dengan pulas Sea memutuskan turun dari ranjang.


Dia tidak ingin mengganggu istirahat suaminya.


"Lebih baik aku keluar, dari pada aku di sini malah mengganggu tidurnya, dekat-dekat dengannya juga membuat pikiranku jadi suka traveling kemana-mana" Batin Sea dengan menepuk jidatnya.


Dengan perlahan Sea turun dan meninggalkan Deo di kamar.