
Pandangan Deon tidak lepas dari Sea. tangannya terulur mengelus mulus pipi Sea.
Sea juga seakan terhipnotis akan tatapan Deon yang tidak bisa diartikan. Namun, detik berikutnya Sea segera tersadar.
"mm Deon, aku ke kamar" Sea melepaskan dirinya dari Deon
"ah iya iya..." Deon salah tingkah dan segera melepas Sea
Jantung Sea benar-benar tidak bisa dikondisikan, deguban kencang dan salah tingkah membuatnya seakan kehilangan fokus.
Diakui, dengan jarak sedekat itu, wajah Deon yang tampan, membuat wanita manapun pasti akan jatuh hati.
pun dengan Deon yang salah tingkah, "kenapa aku jadi tidak bisa mengontrol diri seperti ini"
Berusaha menenangkan diri, Deon menyusul Sea ke kamar.
"Sea, maaf tadi aku benar-benar tidak sengaja," Deon minta maaf
Sea hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan.
"Hmmm... Se.." Deon berdehem kelihatan sekali kegugupan diwajahnya
"Yaa... ada apa?" Jawab Sea
Deon menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, ada banyak sekali yang ingin dibicarakan dengan Sea namun, sepertinya tercekat di tenggorokannya.
"Ada apa...?" Sea kembali bertanya, melihat Deon hanya diam dan menggaruk tengkuknya.
"Se, boleh kita bicara sebentar ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan" pinta Deon
"Bicaralah" Sea segera duduk di sofa diikuti Deon. Duduk dalam satu sofa namun, masih memiliki jarang yang lumayan.
"Kita sudah menikah, tetapi kita selama ini seperti hidup bagai orang asing meski hidup dalam satu atap" Deon Menghela nafasnya.
Sea masih setia menjadi pendengar yang baik, jujur saja dia masih bingung kemana arah pembicaraan Deon.
"Aku tahu kamu pasti belum siap atau bahkan tidak menginginkan pernikahan ini, sama seperti aku yang juga merasa terjebak di dalamnya, jadi kita sama - sama merasakannya" Deon kembali menjeda
"Sea, agar kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik, mari kita hidup selayaknya teman dalam apartemen ini jangan anggap aku musuh" Deon berkata dengan lirih.
Deon akui dia juga salah, selalu mendebat Sea
"Se..." Deon memanggil Sea yang hanya diam.
Sea bingung sendiri dengan apa yang Deon sampaikan.
"Mm, Aku tidak membencimu, jujur saja aku hanya terkejut dengan pernikahan ini" jawab Sea
Senyum Deon terkembang,
"Mari kita berkenalan, aku Deon, mari kita berteman" Deon menyodorkan tangannya ke Sea
Sea hanya bisa tertawa sembari menyodorkan tangan kembali "Hai, aku Sea, baiklah kita berteman".
Entah bagaimana awalnya, akhirnya kedua insan itu tertawa lepas.
bukankah sangat konyol sepasang suami istri itu memutuskan untuk menjadi teman.
"Kamu sudah mempersiapkan diri untuk sidang mu besok" tanya Deon
"Sepertinya aku sudah cukup siap" Jawab Sea
Deon segera beranjak dan mengambil sesuatu dari tasnya dan menyodorkan ke Sea
"malam ini, istirahatlah lebih awal, ini ada Vitamin minumlah agar besok kamu lebih segar dan memiliki stamina lebih".
"Ah, terima kasih dokter" Sea mengambil dan segera meminumnya. kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur.
Sea kemudian bersiap untuk tidur, sementara Deon kembali ke ruang tempat kerjanya. ada banyak hal yang harus dia kerjakan.
"Selamat tidur se" ucap Deon dalam hati
Di ruang kerjanya, Deon kembali merenungi akan pernikahan mereka.
"Seharusnya aku tidak menyalahkan pernikahan ini, mungkin saja ini takdir untukku, agar bisa melupakan masa lalu, Semoga saja keputusanku benar mempertahankan pernikahan ini".