Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
tawar menawar



Semua penghuni rumah mama Hilda sedang makan malam bersama tidak terkecuali dengan semua asisten rumah tangganya.


Mereka merayakan hari keberhasilan Sea. Semua makan dengan lahap.


Dua bocah laki-laki juga makan dengan lahap. Sesekali celetohan menggemaskan juga turut meluncur dari mulut bocah tersebut.


"Aku makan banyak saja, agar bisa seperti paman Deon menjadi dokter dan memiliki otot besar" Celotoh Ade.


"Hmm benar seperti papa yang kuat mengangkat mama ketika ketiduran di dalam mobil" imbuh Joy.


Celotehan kedua bocah itu membuat sang mama membulatkan matanya. tiba-tiba saja dia khawatir ada banyak hal yang tidak sengaja anak-anaknya lihat.


"Ade, Joy makan lah dengan benar, bukankah mama sudah katakan makan tidak boleh sambil berbicara" Kata kakak ipar Sea.


"Maaf mama" Jawab anak anaknya.


"Anak yang pintar" Bathin Deon.


Semenjak menikah dengan Sea, ini kali kedua Deon bertemu dengan mereka.


Selain tampan mereka juga anak yang penurut.


Sambil makan tidak sengaja Deon malah menghayalkan ketika memiliki anak juga mendapat anak yang lucu, cantik atau pun juga tampan.


Tidak sadar Deon menyimpulkan senyumnya.


"Kamu kenapa senyum senyum?" Tanya Sea


Terkejut Deon menjadi tersedak "uhhhuuk uhhuuukk" Deon memegangi dadanya.


Sea segera mengambilkan air putih untuk suaminya.


"Mas minum dulu, kamu kenapa" Tanya Sea keheranan.


"Tidak apa-apa, hanya tersedak saja" Jawab Deon setelah meminum air putih.


Semua yang di meja makan hanya saling pandang.


"Ayo nak Deon makan yang baik, kamu pasti sangat lapar" Ucap mama Hilda.


"Ia, kamu harus makan yang banyak, agar bertenaga mendapatkan anak - anak yang semenggemaskan mereka" Sebastian juga ikut menimpali.


Mendengar perkataan kakaknya Sea melototkan matanya...


"Tidak usah membesarkan mata Se, suamimu pasti sudah sangat menginginkan anak yang lucu bukan?" Sebastian semakin meledek Sea.


"Mas.. makanlah dahulu" Istri sebastian mengingatkan suaminya.


Sementara mama Hilda berusaha menjadi penengah yang baik.


hingga akhirnya dentingan garpu dan sendok yang terdengar di meja makan tersebut.


Selesai makan malam, mereka melanjutkan obrolan mereka di sofa ruang tamu.


"Bagaimana hari ini, apa semua lancar" Tanya Sebastian ke deon


"ia kak, Lancar semua tidak ada masalah" jawab Deon


"Baguslah, sepertinya kamu memang dokter yang sangat bisa diandalkan ya" Seloroh Sebastian.


"Kakak bisa saja, yang penting pasien nyaman dan selamat itu saja sih kak" Jawab Deon.


Sementara Sea sejak selesai makan malam sudah dikuasai Ade san Joy.


Mereka tengah bercanda dan bermain di kamar Sea.


Malam kian beranjak, Seperti biasa Ade dan Joy selalu tidur tepat waktu.


kakak Ipar Sea menghampiri Sea ke kamarnya.


"Apa anak-anak sudah tidur se?" tanya kakak iparnya.


"Sudah kak, biarkan saja mereka tidur di sini" Jawab Sea.


"Mana bisa Se, suami kamu tidur di mana?, sebaiknya diangkat saja" Jawab kakak iparnya.


"Tidak apa-apa kak muat pasti" Tolak Sea


Kakak ipar sea mendudukkan bokongnya di sudut ranjang Sea,


"Se.. pengantin baru yang lagi hangat-hangatnya diganggu bocah kan tidak seru" Goda Kakak iparnya.


"Mana ada seperti itu kak... " wajah sea mulai memerah.


Kakak ipar sea hanya tersenyum, "Kakak paham karna sudah duluan dari sana".


Sea kekeh menolak, "tidak mereka tidur di sini saja".


perdebatan mereka terhenti karena suara ketukan pintu.


Disusul dengan munculnya Deon dari balik pintu.