Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Berkunjung ke rumah tante Agatha



Sebuah mobil warna putih berhenti di depan kediaman Johan. Sebelum turun Sea mengedarkan pandangannya ke rumah besar dan mewah tersebut.


"Apa ini benar benar alamat tante Agatha, sebaiknya aku telpon" sea berbicara kepada dirinya sendiri.


"Hallo tan, ini Sea udah ada di depan" kata sea setelah telepon tersambung


"Ah ia, tante ke depan ya" Jawab Agatha sedikit berlari menuju pintu utama


Dari dalam Agatha melihat Sebuah mobil putih berhenti. Faisal yang biasa berjaga di depan segera menghampiri nyonya rumah.


"Mang Faisal tolong pagar dibukakan, itu tamu saya mau masuk"


"Baik Nyonya" Faisal segera melakukan perintah majikan


Sea memasuki halaman rumah mewah tersebut. "Non, biar saya yang parkir mobilnya" Faisal segera menghampiri Sea.


"Ah ia makasih pak" Jawab Sea dengan sopan


Begitu Sea turun Agatha langsung menyambut Sea. "Selamat siang tante" sapa Sea sembari memeluk Agatha.


"Ia sayang selamat siang, ayo masuk, tante udah gak sabar dari tadi nunggui kamu". Ajak Agatha sembari menggandeng Sea masuk.


Suasana dapur siang ini jauh berbeda dari biasanya. Canda tawa menghiasi ruangan tersebut. Dua wanita berbeda generasi terlihat asyik mengolah bahan makanan dan mencobakan resep yang mereka pelajari.


Ratih pelayan yang sudah mengabdi puluhan tahun bahkan sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga tersebut tidak jarang juga ikut dalam bagian kesibukan tersebut. Ratih yang biasanya bertugas menyiapkan makanan untuk keluarga Johan ikut merasakan kebahagiaan melihat binar bahagia dari wajah majikannya.


“Hari ini kelihatan ibu bahagia sekali ya, jarang -jarang ibu bisa tertawa lepas seperti itu” Kata Ratih kepada rekannya Murti.


“Ia bi, Murti juga senang sekali, semoga saja ibu bisa bahagia terus seperti ini” jawab Murti


Ratih dan Murti merupakan saksi bagaimana majikan mereka berubah menjadi pemurung setelah kejadian buruk yang menimpa Deon. Tapi hari ini kebahagiaan itu seakan menjadi milik Agatha kembali. Meskipun Ratih dan Murti tidak tahu pasti apa hubungan Sea dan Agatha. Yang mereka tahu Sea anak sahabat majikannya. Mereka tidak seberani itu menanyakan kenapa bisa bahagia sekali nyonya rumah mereka hari ini.


“Sea… lihatlah sepertinya resep yang kita coba berhasil deh” Agatha menunjukkan hasil masakan mereka


“Iaa tan.. tante memang jagonya masak, sekali coba langsung berhasil” jawab sea antusias


“wooowww sepertinya lezat nii…” Sea kembali mengomentari


“Jangan muji tante berlebihan, bukan kah ini karya Sea dan tante, berarti kita berdua jagonya” Agatha kembali berkelakar


Sea tertawa lepas membalas candaan Agatha.


Tidak terasa Sang surya menanjak menuju sore hari. Selesai makan siang bersama dengan Agatha Sea ngobrol di ruang tamu. Ada banyak hal yang mereka ceritakan mulai dari yang receh hingga ke arah yang lebih serius.


Melirik arloji di pergelangan tangannya Sea akhirnya Pamit untuk pulang. “Tante udah sore ni, gak terasa Sea udah lama juga di sini, makasih tante udah ngajakan Sea”


“Loh Sea mau pulang sekarang, cepat sekali padahal tante masih mau ngobrol banyak sama sea” Agatha kelihatan murung


“Nanti lain waktu kalau nggak sibuk Sea janji mampir deh tan” Sea tersenyum


“Janji ya Se, tante tunggu”. Agatha akhirnya Pasrah


Mengucapkan salam dengan pelukan Sea akhirnya meninggalkan kediaman Johan.


*****


Akhir - akhir ini Deon tidak begitu memiliki Jadwal yang padat untuk pasien - pasiennya. Namun, bukan berarti Deon tidak sibuk. Memutuskan Menambah 3 Dokter kandungan di Rumah sakit yang dipimpinya Deon bisa fokus untuk memperbaiki kualitas rumah sakit tersebut.


Meskipun demikian, akan ada saja pasien yang ingin ditangani secara langsung oleh dokter tampan tersebut. Itu sebabnya Deon tetap saja sering ikut dalam kegiatan dalam ruang operasi atau melayani pasien yang sekedar kontrol.


Saat ini Ares diangkat langsung oleh Deon sebagai Asisten yang membantunya dalam melaksanakan tugasnya. Selain karena sudah berteman lama, Deon juga merasa nyaman bercerita dengan Ares meskipun kadang Ares menanggapi dengan konyol. Itu sebabnya meskipun Deon si pemilik rumah sakit dari dulu tidak pernah ada kecanggungan antara mereka. Dipilih menjadi asisten, Ares dengan senang hati sudah pasti menerima pekerjaan tersebut.


“Ares, gimana apa sudah menemukan yang aku pesankan kemarin” Tanya Deon ketika panggilan sudah tersambung dengan Ares


“Kau pikir segampang itu menemukan wanita yang sesuai dengan rencana konyolmu itu, bersabarlah” Ares menjawab dari seberang


“Kau memang payah, pekerjaan seperti itu saja payah”


“Memang payah, kau tidak tau saja bahkan ada wanita yang menertawakanku ketika syarat itu kuajukan.” jawab Ares


“ya sudah berusahalah lagi, kutunggu dalam waktu 3 hari” ancam Deon sembari memutuskan sambungan telepon


Ares menggerutu, wah benar - benar dia pikir segampang itu.


Di dalam ruangannya Deon kembali meneruskan pemeriksaan berkas - berkas yang belum selesai dia periksa.


Merasa tubuh dan pikirannya lelah Deon memutuskan pulang lebih awal ke Apartemennya.


***


Mengemudikan mobil mewahnya, Jalan kelihatan lenggang, mungkin karena belum waktunya jam pulang kerja. Sehingga Deon tidak perlu merasakan berlama lama di jalanan karena macet.


Di sebuah Kafe yang dilewati Deon melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal.


“Bukankah ini mobil ini milik Ares, ada apa anak itu ada di sini?” Deon mengguman


Deon akhirnya berhenti di kafe itu, padahal sebelumnya dia ingin segera sampai ke apartemen dan mengistirahatkan tubuhnya.


“Terang saja Ares tidak menemukan wanita yang kumaksud, rupanya dia sibuk berkencan”gerutu Deon yang melihat Ares sedang duduk sambil bercanda dengan wanita yang duduk di hadapannya berseberangan meja.


“Res, tempatnya adem ya, terus apa kabar dengan pekerjaan yang belum selesai” Deon tiba - tiba mengomel


Ares terkejut “kenapa kau tiba - tiba ada di sini, mana ngomel ngomel lagi” Jawab Ares dengan kesal


Perempuan yang duduk memunggungi pintu masuk berniat melihat sumber suara. Sea lagi -lagi terkejut karena harus bertemu dengan laki - laki yang sering membuatnya kesal


“Duh Ares, dunia sempit sekali ternya, kau pun juga berteman nggak pilih -pilih harusnya cari teman yang sedikit waras kek res” Cerocos Sea


Deon yang mendengar sindiran Sea tentu saja ikut kesal, entah kenapa melihat Sea Deon serasa berubah menjadi manusia cerewet yang menyebalkan.


“Ares, kalau kau mau cari wanita, jangan pilih wanita aneh aneh,, seperti tidak ada wanita lain saja” Balas Deon sewot


“Aduuhh,, udah deh kenapa kalian kalau bertemu seperti mau perang saja, lagian baru juga mau ngobrol sama Sea kau datang seperti jailangkung saja, ganggu” Ares kesal


Sea dan Ares memang baru saja mendudukkan dirinya di kafe tersebut, mereka bertemu tanpa janjian. Sea yang di jalan hendak pulang ke rumahnya tadi berniat belanja bulanan di salah satu swalayan yang dilewati, ternyata di dalam juga ada Ares yang membeli minuman mineral setelah Deon menelponnya tadi. Karena ajakan Ares yang sedikit memaksa akhirnya Sea menuruti untuk menemani Ares ngobrol.


“Biasalah res, orang kalau duda itu biasa cari perhatian kan di rumah sudah nggak ada yang merhatiin” Sea menimpali dengan kesal


Deon yang mendengar sepertinya naik pitam,


“KAUU… “belum sempat Deon melanjutkan Sea sudah memotong


“Sudah pak dokter duda, simpan tenaga mu jangan marah - marah tu muka sudah kelihatan keriput, ntar tambah keriput” Ejek Sea sembari meninggalkan Ares dan Deon


“Ares aku duluan, byeee sampai ketemu lain waktu.. ogah lama - lama dekat teman mu, panas’