Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Martabak



Dering ponsel Sea menghentikan aktifitas Sea yang saat ini melakukan bongkar-bongkar isi lemari.


Begitu sampai di rumah, Sea mengusir rasa bosannya dengan sedikit kesibukan yang dibuatnya sendiri.


"Ya mas" Sapa Sea begitu menerima panggilan suaminya.


"Apa kamu sudah sampai di rumah" Tanya Deon.


"Ia mas, susah sampai tiga puluh menit yang lalu, mas apa sudah makan siang?" Tanya Sea kembali


"Baguslah kalau kamu sudah di rumah, mas baru saja selesai makan siang" jawab Deon.


Deon merasa lega dengan mengetahui Sea sudah berada di rumah.


"Sayang, kamu tidak akan keluar rumah kan?" Tanya Deon lagi.


"Sepertinya tidak mas, aku mau bersih bersih kamar dulu hari ini" Balas Sea.


"Kenapa memangnya" Tanya Sea kembali.


"Tidak apa - apa hanya bertanya.saja" Jawab Deon.


"Kalau kamu ingin bersih-bersih minta bantulah asisten rumah tangga, jangan terlalu lelah" Pesan Deon


"Lagi pula mama sudah mencarikan asisten untuk dipekerjakan di rumah, agar kamu tidak sepi ketika aku bekerja" Beritahu Deon.


"Baiklah mas, mama memang yang terbaik" Ucap Sea dengan sumringah.


"Sayang, tidak aku tutup telponnya ya, tidak memberikan semangat kepada suami dulu?" ucap Deon.


Sea cemberut, "Tidak mau, kalau mau disemangati segera selesaikan tugasnya dan langsung pulang" Balas Sea menantang Deon.


"Baiklah, itu kamu yang katakan kan, jangan sampai ada penolakan ketika aku sampai di rumah" Balas Deon pula.


Sea tertawa dengan balasan suaminya.


"Ya sudah, mas tutup saja telponny" putus Sea kemudian.


panggilan segera berakhir, dan Sea kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda.


Kejadian ketika dia dalam perjalanan yang dicegat Bella sedikit banyak menyita perhatiannya.


"Ckk, kenapa harus memikirkannya, dia hanya masa lalu mas Deon, tidak akan mungkin akan membuat suamiku berpaling" Batin Deon yang mulai berperang.


"Lagi pula aku tidak akan membiarkan hama pengganggu merusak rumah tangga ku dengan mas Deon"


Merasa pikirannya terlalu memikirkan tidak perlu membuat Sea jadi tidak berselera melanjutkan bersih-bersihnya.


Sea memilih menelpon mamanya. sudah berapa hari ini mereka tidak saling bertukar kabar


"Halo mama, apa mama sehat" Tanya Sea begitu panggilannya video tersambung.


"Ia sayang, mama sehat, putri mama juga sehatkan?" Tanya Mama Hilda.


"Ia ma, Sea sehat. aku merindukan mama, apa mama tidak merindukan putri" Adu Sea.


"Tentu saja mama merindukan putri mama, mama belum sempat ke rumah baru kalian Se, apa mantu mama juga sehat" Tanya Mama Hilda.


"Ia, Mas Deon sehat ma, lagi bekerja mungkin sore nanti baru pulang, iaa kapan mama akan kemari?" Tanya Sea lagi.


"Secepatnya mama akan ke sana, minggu depan mama usahakn ke rumah kalian ya" Jawab Mama Hilda.


"Sepertiny masih lama sekali, apa tidak bisa besok ma?" tanya Sea kembali.


"Tidak bisa nak, mama harus ke rumah kakakmu sebastian. Dia ada pertemuan ke luar kota dan mengajak kakak iparmu, jadi mama harus ke sana sekalian menjaga keponakanmu ade dan joy" Beritahu mama Hilda.


"Owh begitukah, ya sudah ma tidak apa-apa, kalau memang mas Deon tidak begitu sibuk aku akan mengajak ke rumah mama" Ucap Sea kemudian.


"Begitu juga bagus Se, kamu juga sering bertukar kabar dengan mertua kamu kan Se?" Tanya Mama Hilda.


"Sering ma, lagi pula mama Agatha juga tidak pernah melewatkan untuk menanyakan kabar kami" Jawab Sea.


"Baguslah nak, sudah seharusnya seperti itu, orang tua akan senang jika anaknya selalu bertanya kabar dan memberikan kabar kepada orang tuanya" Nasehat Mama Hilda.


"Ia mama, terima kasih. Sea akan selalu ingat pesan mama" Jawab Sea


Mama Hilda dan Sea berbicara lewat telpon lumayan lama. ada banyak hal yang mereka bicarakan.


"Oh ia Nak, apa kamu belum ada tanda tanda akan memberikan cucu ke mama? Tanya Mama hilda


"Sepertinya belum ma, doakan saja secepatnya ma" Jawab Sea.


"Ia sayang, makanya kamu harus banyak istirahat, jaga pola makan dan jangan suka bergadang" Pesan mama Hilda.


"Ia ma,, Sea akan jaga pola makan"


Setelah lama mereka merasa sudah sedikit melepaskan rasa rindunya.


Tidak jarang mereka berbicara dibarengi dengan candaan dan tawa.


"Ya sudah, mama tutup ya" Uca Mama Hilda.


"Baik mama, sampai jumpa jangan lupa jaga kesehatan" Pesan Sea.


"Ia sayang, sampaikan salam mama ke menantu mama"


"Siap ma" Balas Sea dengan menunjukkan jari jempolnya.


Sambungan telepon mereka terputus. Sea kemudian memilih berbaring di atas tempat tidur.


Sepertinya Sea malas untuk bergerak. Baru saja dia berbaring, tiba- tiba saja dia membayangkan memakan martabak.


Membayangkannya saja membuat air liurnya menetes.


Namun rasa malasnya untuk turun membuatnya segera mengambil benda pipihnya.


Menscrol handphonenya akhirnya dia menemukan toko kue martabak online.


Segera Sea memesan dua dengan campuran keju dan cokelat.


"Padahal baru saja makan sudah lapar lagi" Ucap Sea pada dirinya Sendiri.


"Ah sudahlah, bukankah kalau lapar obatnya makan, kalau badan melar urusan nanti" Ucap Sea lagi.


Sea bolak balik melihat hpnya. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk mencicipi martabaknya.


"ckk... sepertinya lama sekali" Sea menggerutu


"Kenapa aku jadi egois sekali sih, kan yang beli bukan hanya kamu Se" Hibur Sea lagi kepada dirinya sendiri.


Satu jam kemudian, HPnya berdering, sea dengan segera mengangkat telponya.


Ternyata pesanannya sudah datang. Dengan tergesa Sea segera turun dan berjalan ke pintu.


Menerima pesanannya, kemudian membayarnya dengan uang cash Sea segera berjalan ke sofa ruang tamu.


Seperti tidak makan berhari-hari, Sea segera melahap Martabak yang di pesannya dengan ukuran jumbo sebanyak dua kotak.


Awalnya Sea ingin menyisakan satu untuk suaminya, namun melihat satu kotak lagi yang belum dibuka tangan Sea tidak terkontrol dan kembali membukanya kemudian melahapnya.


"Enak sekali martabaknya" kata Sea dengan terus melahap


Sampai tidak terasa dua kotak martabak itu sudah masuk ke perut Sea, ludes tanpa sisa.


"Yah habis, maafkan aku suamiku, aku tidak menyisakan untukmu" Ucap Sea lagi.


Sepertinya selera makannya meningkat berkali kali lipat.


"Ah, kenyangnya" Sea mengelus perutnya yang sepertinya sudah kepenuhan.


Bahkan untuk berdiri pun rasanya dia sanggup. Mengambil remote TV dia menyalakan televisi.


Mencari siaran televisi yang dirasa menarik, akhirnya Sea memilih menonton berita dalam negeri.


Belum lama menonton, matanya seakan ditarik tarik untuk segera tidur.


Sea membaringkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.


Sungguh Sea tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Bukankah Tiduran setelah makan bisa mengakibatkan lemak tubuh yang menunmpuk terutama pada tubuh bagian perut.


Sea tidak mau ambil pusing, yang penting dia segera tidur dan tidak berselang lama dia sudah telelap.