
.
Happy reading...
.
.
Gian tengah menikmati waktu istirahatnya bersama Rania. Mereka duduk di kursi yang ada di halaman belakang. Tepatnya menghadap ke minigarden milik Rania. Sedari tadi Gian terus saja bersikap asik terhadap calon bayi mereka yang ada di kandungan Rania. Meski perut Rania belum terlalu membuncit. Gian terus mengajak janin itu mengobrol.
"Eh, eh, sayang kalau bayinya masih kecil begini bisa gerak, nggak?" Tanya Gian menatap gemas istrinya.
"Mm,, belum sih, mas. Kalau usianya udah 4 bulan baru bisa gerak."
"Empat bulan?" Gian terlihat berpikir. "Mm, sekarang masih mau tiga bulanan ya? Wah, lama dong lahirnya.." Gian berucap dengan wajah dibuat-buat cemberut.
Rania terkekeh. "Ya sabar dong, mas. Semua hal itu kan butuh proses, termasuk kehamilan. Nggak mungkin dong bayinya langsung lahir." Rania mencoba menghibur suaminya yang kini terlihat menggemaskan di matanya.
"Iya, sih. Ya udah, deh. Pokoknya Ayah akan nunggu kamu sampai waktunya kamu lahir." Kata Gian yang setelahnya mencium perut Rania.
Rania hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu. Sepertinya Gian juga sangat menyukai anak kecil. Seketika Rania teringat pada Dini.
"Oh, iya mas. Aku mau bahas soal Dini." Ujar Rania membuat Gian memperbaiki posisinya badannya menjadi duduk tegap.
"Kenapa sama Dini?" Tanya Gian penasaran.
"Aina itu kan udah makin tumbuh, menurut aku apa nggak sebaiknya Dini itu kita bantu deket sama Dokter Adrian? Gimana menurut mas?"
Gian mencerna semua perkataan istrinya. Ada benarnya juga. Karena, ia sendiri dapat melihat bagaimana sayangnya Adrian pada Aina. Juga, Gian melihat tatapan Adrian setiap kali bersama Dini. Ada cinta dalam setiap pandangan dokter muda itu pada sahabat istrinya.
"Kayaknya ide bagus, sayang. Jadinya kan Dini ada yang bantu ngerawat Aina." Respon Gian.
"Oke kalau gitu. Berarti kita harus susun rencana supaya bisa bikin Dini nerima Dokter Adrian." Rania menjentikkan jemarinya.
"Ya udah. Sekarang mendingan kita masuk. Udah mulai dingin loh. Nanti kamu masuk angin." Ajak Gian pada Rania yang dituruti oleh wanita itu.
.
.
Rania bersiap untuk tidur saat ponselnya berdenting. Ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup. Suara keran air masih terdengar. Rania membuka ponselnya. Ada pesan dari Winda.
Winda: Ran, bisa ngobrol sebentar nggak? Ada hal penting yang harus kita omongin.
Rania mengernyitkan dahinya membaca pesan dari Winda. Sepertinya memang sangat penting hingga Winda harus mengirim pesan kepadanya secara pribadi.
^^^Iya, Win. Bisa.^^^
Rania langsung mendial kontak sahabatnya itu. Panggilannya langsung dijawab oleh Winda setwlah nada tunggu ketiga.
"Halo. Assalamu'alaikum, Ran."
"Wa'alaikumussalam. Ada apa, Win?" Tanya Rania langsung.
"Ran, lo ingat nggak sama temen gue yang namanya Mario? Temen kuliah gue dulu." Winda terdengar tak sabar.
"Iya, aku ingat. Kenapa sama dia?" Rania penasaran.
"Jadi, tadi waktu kita dari Resto gue kan lewat jalan Z, nah ternyata disitu ada Ata lagi berhenti di tengah jalan. Dan gue lihat Ata masuk ke mobil yang ada di depan mobilnya. Tapi, disana ada Mario, Ran." Winda mulai menceritakan.
"Jadi, maksudnya. Tari pergi sama Mario?"
"Nah, itu dia Ran. Masalahnya, ada satu cowok lagi dan kayaknya cowok itu atasannya Mario , deh. Karena, Mario yang nyetir mobilnya. Sedangkan Ata sama cowok itu duduk di kursi belakang. Dan gue ngikutin mereka sampai di sebuah rumah, dan kata penjaganya Ata adalah istri cowok itu." Lanjut Winda menceritakan.
Rania sukses dibuat terkejut. Matanya melebar dan mulutnya sedikit terbuka. Dalam hati ia terus bertanya, apakah dirinya salah dengar? Tidak! Rania mendengar dengan jelas semua yang diceritakan oleh Winda.
"A,, apa? Tari udah nikah? Win,, aku nggak salah denger, kan?" Tanya Rania terbata.
"Lo nggak salah denger, Ran. Ata udah nikah sama cowok itu." Ucap Winda menegaskan.
"Win. Apa udah pasti? Kita harus cari tahu kebenarannya. Mengapa Tari merahasiakan semua ini dari kita?" Rania masih tak percaya dengan apa yang tadi ia dengar.
"Iya, Ran. Gue juga mikir gitu. Kita harus cari tahu dulu."
"Tapi, apa kita kasih tau temen-temen yang lain juga?" Tanya Rania.
"Mmm,, menurut lo gimana?"
"Menurut aku, biar kita berdua aja yang tau. Teman-teman yang lain jangan kasih tau dulu. Kita tunggu waktu yang tepat buat ngasih tau mereka." Usul Rania.
"Oke. Gue setuju. Ya, udah. Besok kita mulai cari tau ya, Ran. Gue tutup dulu, Assalamu'alaikum." Winda mengakhiri percakapan mereka.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Rani kemudian meletakkan ponselnya di nakas.
Bunyi pintu kamar mandi ditarik membuat Rania menoleh. Ia memandang Gian yang keluar dengan setelan tidurnya. Gian pun juga menatap Rania dengan rasa heran.
"Tadi aku denger kamu ngomong, sama siapa?" Tanya Gian.
"Winda yang nelpon." Jawabnya singkat.
Rania membereskan tempat tidur dan mulai berbaring disana. Meski sebenarnya ada hal yang mengganggu pikirannya saat ini namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Karena, sekarang bukan waktunya untuk menerka-nerka kemungkinan apa yang telah terjadi pada sahabatnya, Tari.
"Ada apa, sayang?" Tanya Gian saat melihat Rania yang terhening menatap langit-langit kamar.
"Nggak, mas. Aku cuma mau berusaha tidur aja." Jawab Rania ragu.
Gian menatapnya lekat. Ia penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa yang telah mengganggu pikiran istrinya itu?
"Nia! Kenapa? Ada yang neror kamu lagi? bilang siapa orangnya." Gian tiba-tuba teringat sesuatu.
"Enggak, mas. Nggak ada apa-apa kok. Ayo tidur!" Rania mengalihkan. Ia menarik lengan Gian hingga suaminya itu ikut berbaring rebahan. Lalu, Rania memeluknya erat seakan tak rela melepaskan suaminya itu. Ada hal yang menjatuhkan moodnya saat ini.
.
.
Tari menggeliat di dalam tidurnya saat mendengar suara adzan berkumandang. Ia membuka matanya, menyesuaikan dengan pencahayaan di kamar yang temaram. Sesaat ia menyadari kondisi kamar yang berbeda. Ini adalah kamar barunya dan suaminya.
Ya, suami. Entah mengapa Tari merasa canggung dengan panggilan itu. Ia benar-benar telah menerima Rafik sebagai suaminya, meskipun tidak dengan sikap Rafik yang sesuka hatinya. Kini Tari menoleh ke samping kirinya. Ia terpaku menatap suaminya yang masih tidur. Matanya seakan tak mau berpaling dari objek di depan matanya itu.
Perlahan Tari tersadar dan mulai beralih pandang menatap lamgit-langit kamar yang bernuansa abu-abu terang itu. Rasanya ia masih belum bisa percaya sepenuhnya bahwa sekarang ia benar-benar telah menikah. Menjadi seorang istri dalam waktu yang cepat.
"Astaghfirullah. Aku harus shalat subuh." Ucap Tari.
"Kalau aku bangunin dia gimana, ya?" Tari berpikir sebentar. Lalu ia tergerak untuk membangunkan Rafik.
"Mas. Bangun, mas." Ucapnya pelan.
"Mas. Udah subuh. Bangun, mas." Lagi, Tari berusaha membangunkan suaminya itu.
Rafik mulai membuka matanya secara perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan dengan pencahayaan. Hal itu tak luput dari pandangan Tari. Dan entah mengapa ada desir aneh yang Tari rasakan.
Tiba-tiba Rafik menatap Tari aneh, karena Tari yang menatapnya begitu lama.
"Ngapain, kamu?" Ujarnya.
"Eh, enggak. Aku,, aku ke kamar mandi dulu." Kata Tari. Lalu gadis itu bergegas ke kamar mandi.
.
.
Bersambung...
.
.