Love is Never Wrong

Love is Never Wrong
Eps 86



Baru saja Vano memberhentikan mobilnya di depan kediaman Elina dan keluarganya. Sikap Vano yang sekarang berbeda. Ia tak lagi memaksa Elina, melainkan kini ia memberikan kenyamanan untuk wanita yang dicintainya itu.


Vano kini selalu bersikap lembut pada Elina. Sehingga membuat Elina benar-benar tenang dan nyaman di dekatnya. Seperti sekarang, Vano membukakan seatbelt untuk Elina. Memang terbilang berlebihan. Namun, memang itulah yang ia lakukan.


"Van." Panggil Elina pelan.


"Hmm?" Vano yang telah selesai melepas seatbelt pun menatap Elina.


Jujur saja, meski sikap Vano sekarang telah berubah menjadi lembut padanya dan selalu menunjukkan perhatian, hal itu membuat Elina semakin takut. Ia takut kalau sikap Vano ini hanya sementara. Bagaimana jika nanti lelaki di hadapannya ini bosan padanya, dan hanya penasaran. Lalu, meninggalkannya setelah membuat dirinya luluh.


Vano memang belum mengatakan apapun tentang perasaannya yang semenjak dulu ada untuk Elina. Yang membuat mereka kini bisa berbaikan adalah penjelasan dari orang tua Laila. Orang tua Laila memintanya untuk menerima lamaran Vano. Dan kini tinggal menunggu hari, mereka akan menikah.


"Kamu cemas. Kenapa?" Tanya Vano menyadari raut kecemasan di wajah Elina.


Elina menggeleng pelan. Ia tak ingin larut dalam pikiran-pikiran negatifnya. Ia harus percaya bahwa Vano memang tulus padanya.


"Aku masuk dulu, ya." Ucap nya dan keluar dari mobil.


Vano mengangguk. Ia menatap saja setiap gerik Elina hingga gadis itu benar-benar menghilang di balik pagar besi tersebut. Sejenak Vano memejamkan mata menenangkan pikirannya.


Ia tahu apa yang dipikirkan Elina. Bukan berarti ia bisa membaca pikiran orang lain, namun ia sadar apa yang belum ia lakukan dan tentunya masih membuat Elina ragu padanya.


Vano memang telah mengatakan bahwa ia mencintai Elina. Namun hal itu tentu saja takkan membuat gsdis pujaan hatinya itu sepenuhnya percaya. Ia bisa melihat keraguan dalam tatapan gadis itu.


"Maafin aku, El. Belum saatnya aku bilang semuanya sama kamu. Aku ingim melihat dulu, bagaimana perasaan kamu sebenarnya untukku." Gumam Vano.


Setelah itu Vano mengemudikan mobilnya keluar dari komplek perumahan itu. Meski dengan hati yang gundah.


.


.


Bu Leni benar-benar datang ke kediaman keponakan kesayangannya itu. Siapa lagi kalau bukan Rafik. Anak nakal itu membuatnya sangat kesal dengan menikah diam-diam tanpa memberitahukan dirinya.


Tapi bukan itu yang ia utamakan sekarang. Ia harus tahu dulu seperti apa gadis yang menjadi menantunya.


Mobil yang ditumpangi oleh Bu Leni berhenti di depan sebuah rumah yang terbilang mewah meski minimalis itu. Ia meminta penjaga membukan gerbang.


"Maaf, bu. Anda mencari siapa?" Tanya penjaga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Saya mau ketemu menantu saya. Saya mau masuk." Ucap Bu Leni sewot.


"Tapi, tuan bilang tidak boleh ada yang masuk kalau tuan ada tidak di rumah." Ucap penjaga tersebut jujur.


Bu Leni bingung dengan maksud penjaga tersebut. Ada apa sebenarnya? Mengapa Rafik sangat memperketat penjagaan di rumah ini? Padahal sebelumnya ia tak pernah menyuruh orang sebanyak ini.


"Roki!" Sahut seseorang yang tak lain adalah Mario.


"Biarkan Bu Leni masuk. Bu Leni ini tantenya Tuan Rafik." Kata Mario memberitahu.


"Maaf, bu. Saya tidak tau." Ucap Roki.


"Iya, nggak apa-apa."


"Mari, bu." Kata Mario mempersilahkan.


Bu Leni mengangguk dan melangkah di depan Mario.


"Mario, saya butuh penjelasan dari kamu. Ingat itu." Kata Bu Leni saat menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mario.


Mario hanya diam. Ia merasa was-was. Entah apa yang harus ia lakukan. Apa ia harus menceritakan pada Bu Leni atau menutup mulut sesuai yang diperintahkan bosnya.


Setelah menyusuri seluruh ruangan di lantai bawah, Bu Leni pun naik ke lantai 2. Ia langsung menuju ke kamar utama. Mengetuknya beberapa kali. Dan benar saja, pintu kemudian terbuka. Menampilkan sosok gadis muda dengan wajah yang sangat memprihatinkan menurutnya.


Wajah lelah dan mata sembab, begitulah yang ia lihat sekarang. Bu Leni hanya tercengang. Berbeda dengan Tari yang seperti mendapat harapan untuk bisa segera terbebas.


"Kamu?" Gumam Bu Leni tanpa sadar.


Tak ada jawaban dari bibir Tari. Ia hanya menunduk menyadari suatu hal. Tidak sembarang orang bisa masuk ke rumah ini. Lalu, siapa wanita paruh baya ini,?


"Kamu istrinya Rafik?" Tanya Bu Leni membuat Tari mengangkat wajahnua yang ditekuk.


"I,, iya." Jawabnya gugup.


Bu Leni menatapnya lekat. Pikirannya berkelana kemana-mana. Gadis ini cantik. Bahkan, menurutnya sangat cantik. Tapi, mengapa ia menangis? Apa yang telah dilakukan keponakannya itu pada gadis ini sehingga ia menangis hingga membuat matanya sembab seperti ini.


"Kita ke bawah, ya." Bu Leni mengajak Tari.


Tari mengangguk pelan. Ia mengikuti saja langkah kaki wanita yang tidak ia kenal ini, karena tangannya yang digenggam. Sepertinya tante ini orang baik, pikirnya.


Sesampai di sofa, Bu Leni kembali menatap lekat wajah Tari. Membuat Tari semakin merasa terintimidasi.


"Maaf kalau tante lancang. Kamu baik-baik aja kan, nak?" Tanyanya lembut.


Tari mengangguk pelan. "I,,iyaa tante." Jawabnya.


Baru saja Bu Leni akan kembali melontarkan pertanyaan, terdengar pintu terbuka. Rafik berjalan dengan cepat ke arah mereka.


"Tante." Ucap Rafik saat sudah sampai di ruang tengah.


Bu Leni menatapnya sinis membuat Rafik tak berkutik. Bu Leni adalah satu-satunya orang yang bisa menjinakkan Rafik saat ini. Selain Bu Leni tak akan ada yang didengarkan oleh lelaki itu. Sekalipun, sang kakak yaitu Nabil. Meski sesekali Rafik masih mendengarkan nasehat Nabil.


"Duduk!" Titah Bu Leni yang langsung dituruti oleh Rafik. Hal itu membuat Tari tercengang. Oh, ternyata dia takut juga pada tantenya.


"Kamu tau kan apa kesalahan kamu?" Kata Bu Leni sarkas.


Rafik mengangguk. "Iya, tante. Aku tau." Jawabnya.


"Bagus kalau kamu tau. Mulau sekarang tante akan tinggak disini."


Deg,,, Rafik menatap tak percaya sang tante. "Apa?" Ucapnya.


"Kenapa? Kamu nggak suka?" Bu Leni menunjukkan wajah berangnya.


Rafik berhembus panjang. "Ya udah, deh. Terserah tante aja." Jawabnya pasrah.


"Kamu kayak nggak ikhlas." Lagi, Bu Leni berkata dengan wajah sinis.


"Tante,, tante boleh kok tinggal disini." Rafik berusaha membujuk wanita yang sudah ia perlakukan seperti ibu kandungnya sendiri. Walau bagaimanapun ia tak bisa membantah atau pun menolak keingin tante Leni. Karena Tante Leni lah yang telah merawatnya semenjak kedua orang tuanya meninggal.


Tante Leni sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Tante Leni lah yang menggantikan sosok sang mama yang harus pergi untuk selamanya saat Rafik masih belia.


.


.


Bersambung....


.


.