LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 96



Di siang hari, entah kenapa Helena ingin sekali bertemu dengan suaminya padahal ini belum jam makan siang. ia merasa waktu berjalan sangat lambat dan tanpa pikir panjang wanita itu beranjak dari kursi kebesarannya.


Saat keluar dari ruangan ia berpapasah dengan Julia tapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk pergi.


Julia yang melihat bosnya pergi bergegas mengikutinya. “nona muda mau kemana. Sebentar lagi kita akan meeting dengan klien.”


“batalkan saja. aku harus pergi menemui suamiku.”


“memangnya ada apa nona? Nona muda tidak pernah meninggalkan perkejaan seperti ini. Apa tuan muda membuat masalah?” Julia mulai penasaran.


Tanpa sadar mereka sudah sampai di parkiran mobil dan sebelum membuka pintu mobilnya, Helena berbalik menhadap Julia. “anak-anakku merindukan papahnya.” Ucapnya dengan wajah datar.


Seketika Julia tercengang bahkan mulutnya menganga mendengar hal tersebut. Bagaimana bisa seorang Helena Rosalie Putri Damara yang gila kerja tiba-tiba berubah derastis menjadi seorang bucin karena ngidam bertemu suaminya.


Bahkan saking terhanyut dengan pemikiran sendiri, ia tidak menyadari kalau mobil bosnya sudah meninggalkan dia di parkiran kantor seorang diri.


.


.


.


“apa Jackson ada di kantor?” tanya Helena to the point saat sampai di resepsionis kantor Jackson.


“tuan muda sedang ada meeting di lantai sembilan, Nona muda. Apa mau saya antarkan?.” Jawab resepsionis itu yang sudah tau siapa Helena.


“tidak perlu. Aku bisa sendiri.” setelah berkata seperti itu Helena langsung menuju lift khusus CEO lalu memencet tombol lantai yang ia tuju.


Wanita sudah tidak asing lagi dengan kantor Jackson karena memang sudah sering di ajak kemari oleh Jackson dan karyawan yang ada di sini juga tidak kaget melihat Helena sering berada di sini karena dulu mereka semua di undang saat pernikahan mereka.


Sesampai di depan pintu ruang meeting, tanpa permisi wanita itu membuka pintu lebar-lebar dan mengejutkan semua orang yang di dalam.


Mata Helena seketika berbinar melihat suaminya berada di sana tetapi binar itu seketika redup melihat sekertaris suaminya yaitu Sinta duduk sangat dekat di sebelah Jackson bahkan saking dekatnya mungkin Jackson bisa melihat belahan dada wanita itu.


Entah apa yang di pikirkan wanita itu datang ke kantor dengan baju super minim dan dandanan menor seperti wanita club malam.


Helena tidak bisa protes tentang pakaian yang di gunakan Sinta itu karena ia sendiri juga berpakaian yang sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol tetapi ia tidak bisa mentolerin kelakuan wanita itu yang mencoba menggoda suaminya.


“apa kau bisa minggir? Tidak lihat apa istri bosmu yang sedang hamil ini berdiri.” tanpa mendengar perkataan Jackson, wanita itu langsung berbicara pada Sinta dengan ketus.


“tapi saat ini kami sedang meeting nona.” Jawab Sinta tanpa beranjak sedikitpun dari kursinya.


“sedang meeting? Meeting apa? meeting tentang bagaimana mencoba menggoda suami orang.” Sarkah Helena.


“maksud nona apa? jangan sembarangan menfitnah saya seperti itu.” belanya.


“kamu pikir saya buta ha? Kelakuan kamu tidak mencerminkan seorang sekertaris dan jangan pikir saya tidak tau kelakuan kamu di belakang saya.”


“sayang lebih baik kita keluar.” Bisik Jackson.


“mohon maaf meeting kita akhiri sampai di sini dulu. nanti kita lanjutkan lain hari.” Setelah memberi pengumuman seperti itu, Jackson menarik tangan Helena dan mengajak wanita itu ke ruangnya.


Laki-laki itu berjalan sangat cepat tanpa memikirkan wanita itu memakai high heels bahkan sedang hamil anaknya. Ia seakan lupa dengan itu semua.


Setelah sampai di ruang, Jackson menghempaskan tangan Helena dan berkata. “apa-apaan kamu ini. kamu sengaja bikin aku malu di depan semua karyawan karna punya istri posesif. Kamu gak mikir apa yang bakal di omongin sama orang kantor tentang aku.”


“aku bikin kamu malu? Seharusnya kamu mikir pakek otak. Kelakuan kamu yang pasrah di deketin terus sama sekertaris kamu di depan semua orang padahal sudah punya istri malah lebih malu-maluin.” Seru Helena.


“kita itu Cuma rekan kerja. Jangan aneh-aneh deh.”


“rekan kerja kok mesra banget. Memang sekalinya playboy tetep aja playboy. Gak bakalan pernah berubah.”


“kamu selalu aja nuduh aku yang engak-engak. Terserah kamu deh mau ngomong apa. capek ngomong sama kamu. dasar keras kepala.”


“kamu pikir aku gak capek apa punya suami yang masih kegatelan sama cewek-cewek di luar sana. aku muak sama orang yang gak bisa berubah kayak kamu. kalo tau kayak gini aku gak bakalan mau nikah sama kamu.”


Tanpa banyak bicara lagi, Helena pergi dari kantor Jackson dengan hati yang panas padapahal niatnya tadi untuk berduaan sama suaminya tapi ia harus kembali lagi kecewa karena melihat kelakuan suaminya.


Sedangkan Jackson melanjutkan perkejaannya dengan hati yang gusar, ia tidak habis pikir kenapa wanita itu menjadi wanita yang sangat pencemburu padahal dia bekerja untuk menafkahi Helena dan calon anak-anaknya.


-BERSAMBUNG-