
Keesokan harinya di saat semua orang berkumpul di meja makan tampak suasana makan bersama begitu berbeda tidak seperti beberapa hari belakangan ini yang selalu di isi celotehan Kallie atau kejahilan Jackson.
Keduanya begitu murung, tak bersemangat dan sarapan mereka hanya diaduk-aduk saja tanpa ada niat untuk memakannya. Berkali-kali terdengar suara helaan nafas berat dari mulut Jackson yang mengisi kesunyian.
“kamu kenapa sih jack? Dari tadi haa hee haa hee aja. udah buruan habisin sarapannya. Nanti kamu telat ke kampus.” ujar Logan.
“gak ada pah. Cuma lagi mikirin Helen. Dari kemaren bener-bener gak ada kabar.” Ucapnya sambil meletakkan sendok dan garpu lalu mengambil ranselnya di kursi sebelah. “aku pergi dulu pah.”
“ehh… ini sarapannya gak di habisin?” tanya Logan sedikit berteriak karena anaknya sudah mulai menjauh.
“gak laper.” Sahut Jackson.
“sayang kok makannya dikit sih?. ini kan nasi goreng seafood kesukaan kamu.” ucap Agnes sambil mengelus kepala anaknya.
Bocah berseragam sekolah dan rambut berkuncir dua itu mendorong piringnya menjauh dengan wajah cemberut. “gak mau. ini gak enak.”
“loh kenapa sayang? kemaren-kemaren gak kayak gini. Emangnya masakan bibi gak enak apa?”
Ya, semenjak Helena pindah ke rumah ini urusan dapur di ambil alih olehnya dan pelayan yang biasa bertugas di dapur hanya di suruh membantunya untuk memotong sayuran atau tugas kecil lainnya.
“enak tapi gak seenak masakan kak Helen. Semua yang kak Helen buat selalu enak. Kallie kangen kak Helen. Kapan kak Helen pulang.” Serunya dengan mata yang sudah berkaca-kaca
Agnes tersentak mendengarnya. Baru sehari Helena tidak ada di rumah sudah membuat kedua anaknya bersedih apalagi sampai bertahun-tahun.
Begitu besar pengaruh Helena terhadap Jackson dan Kallie sehingga membuat mereka bergitu bergantung padanya.
Wanita paruh baya itu menatap suaminya sendu, ia sudah tau apa yang terjadi sebenarnya karena semalam Logan sudah menceritakan semuanya yang akhirnya membuat pasangan suami istri itu tidak bisa tidur memikirkan keadaan Jackson terlebih Helena yang sedang hancur-hancurnya saat ini.
Sang suami yang mendapatkan tatapan seperti itu membuanya menunduk lalu menghelakan nafasnya berat. Sungguh ia tidak tau harus melakukan apa sekarang. lebih baik ia berurusan dengan dewan direksi dari pada ini.
.
.
.
“eh Jackson, bagaimana? Apa ada kabar dari Helen? Jangan bilang gak ada. Lo bener-bener bikin gue pusing sama masalah lo tau gak.” Baru saja Jackson masuk ke kelas sudah di serbu berbagai pertanyaan dari Luciana.
“gue gak tau sih tapi yang jelas si Helen hilang dan gak ada kabar. Gue sama bonyok di buat puyeng sama ni anak. Masa dateng-dateng ke rumah bikin heboh teriak sana-sini. Kan bonyok gue jadi khawatir juga. bener-bener ngeselin.” Gerutu Luciana.
Lagi-lagi saat laki-laki ingin membuka suara, perkataannya di potong oleh Demian. “baru aja sebulan nikah udah hilang-hilangan apalagi bertahun-tahun. Gak habis pikir
gue sama lo. selalu aja bikin masalah.” celetuknya.
“makanya kalo jadi suami tu harus bisa ngertiin istri luar dalem. Bukan Cuma dari kebutuhannya tapi juga isi hatinya. Kalo udah kayak gitu istri lo pasti gak kabur-kaburan kayak gini.”nasehat Leon pada Jackson.
“tumben lo ngomongnya bener.” seru Yasmin heran.
“iya. Biasanya juga ngelawak garing.” Imbuh Demian.
“salah lagi… salah lagi…” Leon mendengus kesal.
“udah woy… udah… kalian nyerocoh aja bisanya. Gak ngasi gue ngomong dari tadi.” Kata Jackson.
“ya udah ngomong tinggal ngomong aja. gitu kok ribet.” Acuh Luciana.
Kalo saja Luciana bukan saudara iparnya, sudah di bejek-bejek jadi bergedel ini perempuan. Pagi-pagi ia sudah membuat emosinya naik bahkan sekarang Jackson di buat badmood mengikuti kuliah.
“Helen tu lagi pergi keluar negri. Ada masalah kerjaan di sana yang gak bisa di tunda. Makanya dia gak sempet kasi kabar sama gue dan bikin gue panik. Jangan main ngehujat orang sembarangan kalo gak tau yang sebernya kayak gimana.” Ujar Jackson.
Setelah menjelaskan seperti itu teman-temannya hanya ber ‘oh’ ria sehingga membuat Jackson semakin geram. Kenapa teman-temannya tidak ada yang bisa memberikan respon yang bagus untuknya.
Saat bel berbunyi, menandakan kelas di mulai. Ia memilih menelungkupkan kepalanya di atas meja tanpa memperdulikan dosen di depan sedang menjelaskan materi pelajaran.
Tak jarang mahasiswa yang lainnya melirik dia penasaran. Pasalnya setelah menikah dengan Helena, Jackson banyak berubah. Ia selalu mengikuti pelajaran dengan serius tetapi sekarang dia kembali seperti Jackson yang dulu. malas-malasan di dalam kelas.
Orang-orang jadi berpikir yang enggak-enggak tentang hubungan mereka. Ada yang hanya sekedar penasaran ada juga yang bersorak girang mengira hubungan mereka akan berakhir apalagi saat datang ke kampus tadi, Jackson dan Helena tidak terlihat bersama. Itulah yang memperkuat opini mereka.
“kalo mereka cerai berarti ada kesempatan dong buat gue deketin Jackson lagi. Jackson harus gue dapetin sebelum keduluan sama orang lain.” Isi hati setiap wanita yang bersorak gembira.
-BERSAMBUNG-