
Halo...
pada kangen gak sama 'love in the game'
maaf ya karna lama gak up....
sekarang 'love in the game' up lagi
semoga suka ya ...
selamat membaca
.
.
.
.
Tak terasa waktu begitu cepat, langit sudah di hiasi bintang-bintang dan bulan yang sangat indah. Di saat semua orang berkumpul di ruang tengah sambil menghabiskan waktu untuk bercerita atau membahas hal yang lain, Helena justru memilih menyendiri di ruang kerjanya yang sudah ia minta dengan mertuanya sebelum menikah.
Tok… tok… tok…
“masuk” kata Helena dan orang itu membuka pintu perlahan lalu menutupnya kembali.
“bagaimana? Apa yang aku suruh sudah kau lakukan?”. Ucap Helena to the point tanpa menoleh sedikitpun pada lawan bicaranya.
“Sudah nona muda. Saya sudah memasang cctv di kamar nona Lianna tanpa dia ketahui.” Tutur orang tersebut.
Wanita itu meraih handphone nya yang berada di atas meja lalu menghubungi seseorang dengan mode speaker dan kembali meletakkan nya di atas meja.
“halo.” Sapa seseorang di seberang yaitu Dewa.
“cctv sudah di pasang. Apa rencana lo selanjutnya?”
“widih… cepet juga kerja mereka. Untuk sekarang gitu aja dulu, biar cctv jadi urusan gue sama tim. Tinggal tunggu apa yang bakalan dia lakuin. Oh ya satu lagi, ternyata nomor ponsel yang ngirimin video laki lo tu ternyata punya dia. Dasar ceroboh tu cewek.”
“hm.. gue sudah duga itu dari awal. Tapi Dewa, gue gak mau nunggu terlalu lama.”
“terus mau lo gimana? Lo mau suruh anak-anak buat ngerjain dia sampai dia nangis bombay gitu?” celetuk Dewa.
“ide bagus tuh.”
“ehh… yang tadi gue asal ngomong doang”.
“tapi ide lo brilian, dengan gitu dia bakal cepet ngebuat kesalahan yang akan jadi bom waktu yang siap meledak kapan aja.”
“ya… terserah lo aja”
Akhirnya telpon mereka berakhir setelah percakapan panjang untuk menjebak Lianna.
“baik nona muda.”
.
.
.
“Yang… kok lama banget sih. Apa kerjaannya banyak?” baru saja Helena masuk kamar sudah di sambut oleh sang suami dengan wajah memelas.
“Enggak juga. Kamu udah dari tadi di sini?” ucap Helena sambil berjalan menuju kasur di mana suaminya berada.
Jackson menganggukan kepala lalu berkata “aku gak betah di sana kalo kamu gak ada. Sini, aku pengen peluk ibu dari anak-anakku”
Wanita itu tersenyum geli melihat suaminya ingin bermanja-manja ria tetapi tetap ia turuti kemauannya.
“Perut kamu cepat banget besar apa karna isinya dua ya” seru Jackson sambil mengelus perut Helena yang akan memasuki bulan ketiga.
“kenapa? Gak suka liat aku gendut.” Bumil sudah dalam mode garang.
“Siapa bilang. Orang kamu makin seksi tau. Apalagi atas sama belakang makin gede, makin waw.” Ucap Jackson sambil menaik-turunkan alisnya.
PLAK…
“kalo ngomong suka ngaco di denger sama anak-anak gak bagus” seru Helena sambil memukul lengan Jackson.
“aduh… tapi emang kenyataannya makin seksi kok. Cowok-cowok di luar sana sampai matanya melotot ngeliatin kamu.”
“Ceritanya cemburu nih.”
“Jelas. Suami mana yang suka istrinya di liatin kayak gitu apalagi ilernya sampai netes.”
“hahaha….” Seketika tawa Helena pecah mendengar pengakuan suaminya yang agak di lebih-lebih kan menurut dia.
“kamu ada-ada aja.” Ucap Helena setelah lelah tertawa.
“terserah kalo gak percaya tapi aku udah bilang aku gak suka kamu kamu di lirik atau deket cowok-cowok lain.” Cetus Jackson mulai sebal.
“iya…iya… besok jadwal aku cek kandungan, kamu gak lupa kan janji nemenin aku?”
“Oh iya hampir lupa. Maaf ya sayang, soalnya akhir-akhir ini kerjaan aku numpuk.” Seketika raut wajah laki-laki itu berubah.
“kayaknya gak bisa. Kerjaan aku masih banyak.” Lanjutnya lagi.
“gak. Pokoknya kamu temenin aku besok. Anak lebih penting dari kerjaan jadi kamu harus luangin waktu buat cek kondisi mereka. Aku gak mau pergi sendiri terus capek-capek cerita lagi sama kamu. Kalo misalnya kerjaan itu harus cepet di selesai in, nanti aku bantuin.” Ultimatum ibu negara yang tidak bisa di bantah. Bisa-bisa dia di suruh tidur di luar.
-BERSAMBUNG-