
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
Seorang gadis cantik melipat kedua tangannya dan berdiri di depan kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari atas gedung pencakar langit. Walaupun matanya mengarah sana tapi pikirannya entah kemana.
Ia masih bimbang dengan keputusan untuk menikah ini. di satu sisi ia tidak ingin terikat khusus pada seseorang yang akhirnya akan menjadi salah satu kelemahannya nanti dan di satu ia membutuhkan keturunan untuk mewarisi semua kekayaannya ini.
Ia tidak mungkin memberikan perusahaan ini kepada keluarga omnya karena pastinya mereka tidak akan mampu menjaga dan melindungi perusahaan ini dari orang-orang yang ingin menjatuhkannya.
Tok. Tok. Tok.
“masuk”
Om satria membuka pintunya lalu masuk dan mendekati Helena. “ada apa Helena? Ada yang mengganggu pikiranmu.”
“tidak ada om. Aku baik-baik saja.” Ucapnya dengan senyum terpaksa.
“Helena, kamu tidak bisa membodohi om. Om sudah lama bekerja denganmu dan om juga tau kalo kamu berdiri di depan kaca seperti ini karena ada yang kamu pikirkan.”
“katakan saja pada om, tidak usah ragu.” Lanjut Satria.
Helena tersadar bahwa tidak mudah ia menipu Satria yang selama Sembilan tahun ini selalu bersamanya baik susah maupun senang. Tanpa mengatakan apapun Satria dapat mengerti isi hatinya.
“apa kau memikirkan pernikahanmu?”
“om sudah tau jawabannya.” Sahut Helena lirih.
“om tau susah bagi kamu menerima ini semua apalagi ini adalah ikatan seumur hidup, sangat sulit untuk kamu keluar dari lingkaran tersebut. Tapi om berharap kamu untuk mencoba. Ini untuk masa depanmu, masa depan perusahaan dan ini juga untuk orang-orang yang kau lindungi selama ini. jangan di ambil pusing, jalani saja seperti air yang mengalir.” Kata Satria.
“hmmm… om bener. aku harus melangkah maju untuk melindungi kalian semua.” Ucap Helena sambil menduduki kursi kebesarannya dan di ikuti dengan Satria berdiri di depan meja.
“om senang mendengarnya. Oh iya, Helena. Ini sudah seminggu lebih kita mengurung ketiga wanita itu di ruang bawah tanah. Mau kita apakan mereka?”
“siapa yang om maksud?”
“ooohhh… mereka. Aku sampek lupa gara-gara mikirin pernikahan ini. sudah om apakan mereka.”
“sesuai yang kau perintahkan. Aku sudah membuat mereka semenderita mungkin sampai mereka meminta ampun.” tutur Satria sedikit menggeram mengingat perlakuan gila mereka.
“lepaskan saja. Aku sudah tidak merasa terhibur lagi. di sini di omongin, di sana diomongin. Bosen tau.” Sahut Helena enteng sambil membaca file yang menumpuk di atas meja.
“emangnya gossip apa?”
“yah… Cuma tentang mereka penasaran kenapa ketiga cewek itu ngilang tapi selebihnya mereka senang tidak ada cewek-cewek itu di kampus. Om tau kan sendiri kelakuan bar-bar mereka bertiga gimana. Mana ada yang prihatin sama mereka.” Satria hanya mengangguk kepalanya mengerti kebosanan Helena.
.
.
.
Sesuai perkataan Helena, ketiga wanita itu di bebaskan dan di buang di jalanan yang sangat sepi. Keadaan mereka begitu mengenaskan bahkan Jessica dan Yana mengalami depresi berat sampai harus di masukkan kerumah sakit jiwa.
Vina sebenarnya juga mengalami hal yang sama tetapi ia berusaha terlihat senormal mungkin untuk membalaskan dendamnya pada Helena. Wanita itu dari awal tidak mengetahui jika ia di culik dan di sekap oleh Helena tapi Vina bisa menebak jika dialah pelakunya tanpa harus mencari bukti lagi.
“awas aja lo, Helena. Gue bakal buat lo merasakan sakit yang gue rasain” Vina tertawa seperti seorang psikopat di kamarnya yang minim cahaya dan tembok-tembok di hiasi foto Helena yang sudah di coret-coret.
.
.
.
Tidak lama setelah acara makan malam tersebut, berita tentang pernikahan Jackson dan Helena tersebar luar di seluruh negri bahkan sampai keluar negri.
Di antara orang-orang yang mengucapkan selamat untuk mereka, tak jarang ada yang berkomentar bahwa Helena beruntung menikahi anak kolongmerat nomer satu di negri ini. namun, mereka tidak tau sebenarnya. Tanpa keluarga Bernadette sekalipun, Helena sudah kaya bahkan di segani jika ia memberitahukan identitasnya yang sebenarnya kepada semua orang termasuk keluarga Bernadette.
“sayang, kelas kamu udah selesai.” entah kenapa, sejak malam itu Jackson selalu memanggilnya ‘sayang’ dan menggunakan ‘aku-kamu’. mungkin ini yang di namakan bucin.
Aneh? Tentu saja itu yang di rasakan Helena.
“lo ngapain di sini sih kayak satpam.” Gerutu Helena.
“emangnya salah apa calon suami sendiri nungguin calon istrinya di depan kelas.” Jackson menatapnya tajam.
“bu… bukan gitu__ ahhh tau ah terserah lo” Helena menghela nafasnya pelan.
“ya udah ayo ke kantin. Aku udah laper banget dari tadi.” Jackson merangkul pinggang Helena erat sehingga membuat gadis itu merasa risih berdekatan dengannya apalagi para mahasiswa yang lainnya tidak segan-segan mencuri pandang kepada mereka berdua.
-BERSAMBUNG-