
Keseokan paginya Helena terbangun lebih dulu karena merasa sesak. Ternyata semalaman Jackson tidur sambil memeluknya. Mengingat kejadian semalam seketika emosinya kembali memuncak. Ia tidak habis pikir kenapa suaminya begitu tidak suka dengan Bima, apa dia cemburu? Kenapa harus cemburu coba. Dasar laki-laki emosian.
Ingin sekali ia memukul laki-laki tersebut tetapi niatnya terurung saat melihat suaminya tertidur dengan nyenyak. Lihat wajah tampannya itu, begitu polos dan tenang tapi kalau sudah bangun selalu saja membuat masalah.
“hmmm… kau sudah bangun sayang.” Ucapnya dengar suara serak khas baru bangun tidur.
“lepaskan tangan kotormu dari tubuhku.” Ketus Helena.
Bukannya mengiyakan perkataan Helena, Jackson justru semakin mempererat pelukannya dan wajahnya di tenggelamkan di leher wanita tersebut. “maaf. Semalem aku sudah kelewatan. Seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu dulu sebelum bertindak. Tolong hiks… maafkan aku. Aku takut kehilangan kamu lagi.” Terdengar suara isakan di sela-sela pembicaraan. Ternyata laki-laki itu menangisi ke bodohannya.
Helena hanya diam mendengarkannya tanpa berontak sedikitpun bahkan suaminya menangispun ia tak peduli walaupun sebenarnya merasa kasihan tapi ia tidak mau di anggap wanita yang lemah.
“apa kau sudah selesai. Sekarang menyingkirlah dariku.” Ia mendorong suaminya menjauh lalu beranjak ke kamar mandi. Sakit di bagian bawah ia tak pedulikan, yang ia mau cepat-cepat menjauh dari Jackson.
Melihat istrinya marah, laki-laki mengejarnya dan berlutut di hadapannya. Keduanya dalam keadaan telanjang, mereka tidak peduli tentang itu karena yang terpenting adalah hubungan mereka.
“sayang… aku salah… aku mohon maafkan aku. Aku janji lain kali tidak akan terjadi lagi.” Ucap Jackson mengadahkan wajahnya.
“aku tidak butuh janjimu. Aku sudah benar-benar muak dengan omongan manismu itu. yang aku butuhkan itu bukti.” Sahutnya.
“baiklah… aku akan buktikan ini tidak akan pernah terjadi lagi asalkan kamu tidak meninggalkan aku. Aku mohon.”
Air matanya membasahi kaki Helena, membuat gadis itu menjadi iba. “jika lain kali terjadi lagi. Jangan salahkan aku jika aku pergi jauh dari hidupmu.”
Dengan cepat Jackson bangun dan mengusap air matanya kasar. “benarkah?”
“iya.”
Saking bahagianya laki-laki tersebut memeluk helena dengan erat bahkan membawanya berputar-putar sambil mengucapkan ‘terimakasih’ berulang kali dan jangan lupa menghujami kecupan di seluruh wajahnya.
“sayang. Apa boleh aku minta ‘itu’ lagi. Adek aku udah kangen lagi sama kamu.” rayu Jackson.
“jangan mesum pagi-pagi deh.” Ia menjauhin suaminya lalu melangkah ke kamar mandi dan tanpa di sadari laki-laki itu ikut masuk dan melakukan ritual panas kembali bahkan ia terus mengajak istrinya melakukan itu tanpa mengenal rasa puas. Dia sudah kecanduan dengan tubuh Helena.
“aku kembali lagi Jackson Alexander.” Ucapnya lirih sambil melihat foto kenangan mereka di ponsel.
.
.
.
“kemana sih mereka. Dari pagi sampek siang gini belum keliatan juga batang hidungnya.” Seru Merry
“mom… kayak gak pernah muda aja. mereka pasti lagi asik-asikan di kamar.” Sahut Johan enteng sambil menyesap kopinya.
“tapi dad. Ini udah siang sedangkan mereka belum makan dari resepsi semalam.” Luciana ikut membela mommy-nya.
“tuh denger. Daddy gak kasian apa sama anak kita.”
“kalian semua tenang saja. Aku sudah menanyai manager hotel. Dia bilang mereka sudah memesan makanan untuk di bawa ke kamar. Jadi mereka bisa langsung lanjut lagi buatin kita cucu, bener gak Han.” Ucap Logan menengahi.
“hahaha… lo bener gan. Gak lama lagi kita bakal jadi kakek-kakek.” Kedua laki-laki itu tertawa bahagia.
“mah… berarti hari ini kakak cantik bakal tinggal di rumah kita kan?” tanya Kallie.
“iya… kakak cantik akan tinggal di rumah kita tapi besok. Soalnya kakak cantik sama kak Jackson lagi kecapean, sayang.” Agnes memberikan pengertian pada anaknya.
“ooohhh gitu. Ya udah gak papa yang penting kakak cantik tinggal sama kita dan Kallie punya temen main deh.” Saking gemasnya, Agenes tidak tahan untuk mencubit pipi chuby anaknya itu.
“aisss… kenapa yang di bahas mereka melulu sih. aku kan juga pengen.” Gumam Lucian pelan tapi terdengar oleh Merry.
“pengen apa? pengen ‘itu’ maksudnya? Ingat amu harus nikah dulu baru bisa gitu. Jangan sekali-kali kamu coba ngelanggar perintah mommy atau mommy usir kamu dari rumah. Biar jadi gembel sekalian.” Cerocoh Merry galak.
“iiisss… siapa juga mikir gitu. Aku itu pengennya punya gandengan juga bukan gandeng angin terus. Mommy pikirnya jelek terus ke aku.” Bela Luciana.
“makanya jadi perempuan itu jual mahal dikit jangan banting harga apalagi jadi bucin gak ketulungan. Kan ujung-ujungnya dapet pacar gak bener kayak mantan kamu itu. lain kali kalo nyari pacar itu tanya dulu sama mommy. Biar gak salah pilih lagi.” celetuk Merry enteng tanpa melihat anaknya ternganga mendengarnya. Apa dia sebenarnya anak tiri, ya?
-BERSAMBUNG-