
“apa ini mobil yang terakhir?” tanya Helena sambil menunjuk mobil baru yang ia dapatkan dari Demian.
“ya… dan semua sudah kami sikat dengan sikat gigi seperti yang lo perintahin,puas lo.” Ketus Demian.
“Dem, apa-apaan lo bentak istri gue.” Seru Jackson.
“Ya menurut lo. Gimana gak kesel, bini lo nyari gara-gara tau.”
“eh lo pikir, yang buat tantangan waktu itu siapa? Elo sendiri. Gak usah sok-sokan lupa deh lo.”
“Udah ah, kalian kayak anak kecil.” Leon berusaha menghentikan perdebatan.
“yang kayak anak kecil itu dia. Udah tau salah masih nyalahin orang.” Sindir Jackson.
“Yang ada lo yang anak kecil. Sembunyi di ketek bini.” Demian menyulutkan api.
Tidak terima di katai seperti itu, Jackson berdiri menghampirinya begitu juga Demian. Leon melihat kedua temannya mau adu jotos segera menengahi Mereka sedangkan Luciana dan Yasmin tidak berani mendekat karna tau jadi sasaran juga.
Di saat Jackson dan Demian akan saling memukul, tiba-tiba…
PRANK… PRANK… PRANK…
Suara pecahan kaca terdengar. Mereka semua menoleh ke arah suara tersebut dan sontak saja mereka semua terkejut karena melihat Helena menghancurkan mobil mewah milik Demian dengan tidak berperasaan.
Bukan hanya mereka yang terkejut bahkan Lianna sampai terpaku di tempat dan tak beberapa lama semua pelayan berlari mendekati asal suara tersebut dan mereka juga ikut terkejut.
“MOBIL GUE!!” teriak Demian.
Bagaimana tidak histeris pasalnya baru saja ia merelakan kepergian mobil kesayangannya itu dan sekarang harus di musnahkan oleh pemilik barunya dengan cara tragis. Laki-laki itu ingin menghampiri mobil itu tapi di halang oleh beberapa pelayan.
Seolah tuli, Helena terus memukul-mukul mobil tersebut dengan tongkat bisbol, menendangnya bahkan wanita itu sampai harus naik ke atap mobil demi menghancurkannya.
Jackson, Lucian dan yang lainnya takut melihatnya. Bukan karena mobil itu hancur tetapi Helena. Wanita itu sedang mengandung dua janin tapi dia melakukan olahraga ekstrim. Mereka juga berusaha menyuruh Helena untuk turun tapi apa daya, perkataan mereka hanya di jadikan angin lewat.
Sungguh malang nasib Demian, tidak ada satupun yang mengerti dirinya bahkan untuk sekedar menenangkannya.
Demian yang sudah lepas dari para pelayan langsung menghampiri Helena dengan wajah merah. “apa lo gila ha. Mobil gue lo hancur kayak gitu. Lo kira mobil gue barang rongsokan?!”.
“hello… lo gak amesia kan” ucap Helena sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Demian. “ini bukan lagi mobil lo tapi mobil gue. Gue berhak dong mau ngapain mobil ini.”
“tapi gak gini juga bego. Mobil itu gue beli pakek uang hasil gue menang tender. Gak bisa apa lo ngehargain kerja keras gue.”
“Dem, gak bisa apa lo ngomong pelan-pelan. Bini gue lagi hamil.” Jackson mendorong bahu Demian tidak terima.
Helena mendorong sedikit tubuh Jackson yang menghalanginya dengan Demian lalu berkata. “tadi lo bilang apa? Menghargai? Gak salah lo. Seharusnya lo yang belajar menghargai perempuan. Gak seenak jidat jadiin perempuan itu mainan apalagi di hargai dengan uang dan gak semua perempuan itu. Lo liat sendiri perempuan di depan lo ini punya semua yang lo punya bahkan lebih dari itu. Dalam sekejap mata gue bisa aja ngehancurin perusahaan lo kalo gue mau.” Ucapnya panjang lebar.
“brengsek…” geram Demian tertahan. Dia menyadari posisinya, walaupun keluarganya termasuk 10 orang terkaya tetapi dia tidak lebih tinggi dari Helena bahkan jauh bahkan apa yang ia punya itu semua berkat campur tangan orangtuanya tidak seperti Helena. Jika ia berbuat jauh, maka orangtuanya akan terkena masalah.
“Sebaiknya lo berhenti sekarang. Lo tau kan Helen gak main-main sama ucapannya.” Bisik Yasmin pada Demian.
“Bener. Jangan di perpanjangan lagi. Lo mau perusahaan lo bangkrut sekarang apalagi bokap lo sekarang lagi berusaha buat menangin tender dari perusahaan Helen.” Timpal Leon.
“argh… terserah kalian. Gue pergi.” Demian mengambil semua barang-barang dengan kasar dan pergi dari mansion itu dengan hati panas.
Sedangkan di tempat lain Lianna bertanya-tanya apa yang mereka bicarakan karena terlalu jauh. “apa yang terjadi. Kenapa Demian pergi dan lagi perempuan gila itu benar-benar gila kayaknya. Itu kan mobil mahal. Kalo di jual bisa buat shopping seminggu. Ehhh… kok aku mikirnya kayak gitu sih argh… seharusnya aku mikirin cara lain buat ngehancurin Helen kayak mobil itu.” Setelah menggerutui dirinya, ia bergegas pergi dari sana sebelum ketahuan.
“sayang. Kamu gak apa-apa kan” Jackson memutar tubuh Helena memeriksa bagian tubuhnya ada yang terluka atau tidak.
“gak papa.” Sahutnya singkat.
“Len. Apa menurut lo ini gak keterlaluan. Kasian Demian.” Ucap Luciana hati-hati.
“lo mau gue ngehancurin keluarga sampai ke akar-akarnya.” Ucap Helena datar.
“eh… eh… eh… gak… gak usah. Ini aja.” Seru Luciana gugup.
“Ini peringatan buat kalian semua. Kalo sampai kejadian ini terulang lagi, jangan harap kalian hidup bahagia mulai detik itu. Termasuk kamu Jackson. Kalo kamu berani kayak gini apalagi bohong sama aku, siap-siap adek kesayangan kamu gak dapet jatah sebulan.” Kata Helena membuat semua orang gugup terlebih Jackson. Bisa-bisa masa depannya berkarat karena tidak pernah di pakai.
-BERSAMBUNG-