LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 54



“apa?” tanyanya pelan menetralkan ke gugupannya.


“mmm… sebenarnya…. Eee… itu”


“astaga Jackson, kenapa lo jadi gak bisa ngomong kayak gini sih. Padahal selama sebulan ini lo udah latihan bilang ‘sorry’ tapi kenapa sekarang pas orangnya udah di depan lo, lo jadi diem aja. aaargggrrhhh dasar gak berguna. Mati aja lo sana.” Batin Jackson terus mengumpat dan mengutuki dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa bodoh kali ini.


“woy…. Hello… jangan bengong aja. katanya mau ngomong” panggil Helena sambil menjentikan jarinya di depan wajah Jackson. Ia mulai bosan menunggu laki-laki itu melamun.


“ahhh… iya… gue… gueeee… gue mau mau minta maaf. Gara-gara gue kaki lo harus di gips kayak gitu” ucap Jackson sambil memejamkan matanya karna gugup.


“kaki gue?” dia berpikir sejenak lalu terkekeh geli. “ya ampun, jackson. Lo pikir gue sedangkal itu apa sampai ngorbanin hidup gue buat nangisin perbuatan lo. jangan mimpi.” Sontak saja perkataan Helena membuat dirinya senang tetapi juga terhina di saat bersamaan.


“be… beneran lo sakit bukan karna gue?” tanyanya yang di jawab anggukan singkat saja.


Ingin sekali ia berteriak dan melompat-lompat saking gembiranya, namun niatnya itu harus di tahan. Ia tidak mau image-nya sebagai cowok cool jatuh di depan Helena.


“jadi lo gak marah kan sama gue soal yang kemaren-kemaren?” ucap Jackson setenang mungkin.


Gadis itu menatapnya dengan alis terangkat sebelah lalu berkata. “jangan halu deh lo. siapa bilang gue gak marah. Gue masih marah kali.”ketusnya.


“jangan gitulah. Kita damai aja deh dari pada ribut terus gak capek apa? atau gak lo bisa minta apa aja, gue pasti kabulin. Mau mobil, tas, perhiasa, apa aja terserah” tawar laki-laki tersebut.


Helena terdiam sejenak tiba-tiba terlintas ide gila di pikirannya membuat di tersenyum misterius. “ok kalo itu mau lo. mmm… gue mau lo jadi pembantu gue dua minggu sampai gips di kaki gue lepas. Gimana?”


Laki-laki itu langsung membulatkan kedua matanya terkejut. “WHATT! Lo gila apa. seorang Jackson Alexander Bernadette harus jadi pembantu. Gak gue gak mau” serunya.


“ya udah kalo gak mau. tapi jangan salahin gue kalo tiba-tiba kepala lo botak gara-gara ketempelan permen karet atau semua tugas lo di jadiin bungkus nasi atauuuu… seperti yang lo lakuin gue terakhir kali. Gue bakal siram lo tapi bukan air pel tapi darah dari orang mati” ujarnya enteng sambil melanjutkan membuat minuman tanpa melihat laki-laki tersebut.


Seketika Jackson mengidik ngeri mendengar kata-kata Helena paling akhir. “elo bercanda kan?”


Gadis itu menengok kebelakang sebentar. “kapan gue bilang bercanda?.” Tanya balik dengan wajah datar.


“lo tinggal milih aja. mau jadi pembantu atau terima pembalasan dari gue. Simple kan” lanjutnya.


“ok ok ok… gue setuju jadi pembantu lo tapi pas selesai jam kuliah” kata Jackson sambil mengulurkan tangannya yang langsung di sambut.


“pilihan yang bagus” gadis itu melepaskan tangannya.


“lo gak bakalan nyiram gue pakek darah kan” ujarnya sedikit takut tapi setelah mendapatkan gelengan dari Helena, dia sedikit tenang.


“okay… tapi cuma satu kali”


.


.


.


Ke esokan harinya semua mahasiswa berkumpul di depan kampus melihat pemandangan yang sangat aneh. Mereka igin sekali tertawa tapi harus di tahan karena takut membuat seseorang marah.


“KURANG AJAR!! SIAPA YANG NGELAKUIN INI. CEPET JAWAB!” teriakan Jackson membuat semua menunduk takut.


Bagaimana tidak murka, ia baru saja menerobos kerumunan tersebut lalu mendapati mobil mewahnya terbalik mengenaskan tanpa empat roda. Sedangkan sahabat-sabatnya, bukannya prihatin malah mereka tertawa keras di atas penderitaannya.


“hahaha… kasian banget lo, Jackson. Mobil kesayangan lo jadi gak berbentuk kayak gini. Kualat sih lo” ejek Leon.


“hahaha… kira-kira siapa ya yang berani main-main sama jackson. Punya nyali juga dia” ucap Demian penasara.


“gue tau siapa. Itu pasti kerjaannya Helen.” Seru Yasmin membuat Demian, Jackson dan Leon menatap dia penuh Tanya.


“bener lo, Yas. Adek gue itu gak mungkin aja terima gitu aja perbuatan Jackson. Dia kan kayak singa yang siap menerkam kapan saja. Makanya kalo gue ngomong itu di denger.” Luciana dan Yasmin langsung bertos ria.


“oh iya… kenapa gue bisa lupa kalo kemaren dia minta ngelakuin sesuatu. Ternyata ini. Niat banget ya. untung aja gue udah suruh dia jangan nyiram gue pakek darah kalo gak bisa mandi tujuh kembang tujuh hari tujuh malam.”batin Jackson.


Demian menepuk bahu Jackson pelan lalu berkata. “gimana? Lo mau ngebales dia lagi? Lebih baik lo tobat sebelum terjadi apa-apa. ini baru sekali aja dia bales udah mobil lo jadi korbannya, gimana selanjutnya.”


“ck. Itu juga gue tau gak perlu lo kasi tau. Ya udah gue cabut duluan, buru-buru nih.” Pamit Jackson.


“eh.. lo mau kemana? Gak pergi nongkrong ke club bareng kita? Mumpung besok libur.” Tanya demian sedikit berteriak.


“lo bareng lainnya aja pergi. Gue absen dulu, lagi sibuk soalnya. oh ya, tolong lo suruh orang bawa mobil gue ke rumah.” Sahut laki-laki itu lalu menhilang di hadapan mereka.


-BERSAMBUNG-