LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 93



Suasana yang tadinya ramai tiba-tiba hening seketika melihat kedatangan Helena di kelas itu. semua orang menatapnya bingung termasuk Jackson, pasalnya wanita itu tidak pernah sekalipun menginjakan kaki ke sini tapi kenapa sekarang ada di sini bahkan dia berjalan kea rah meja dosen.


BRAK


Suara buku yang di banting ke atas meja membuat semua orang terkejut tersadar dari lamunan mereka tadi.


“selamat siang semua, kalian pasti sudah tau saya bukan jadi saya tidak perlu mengenalkan diri lagi.” Sapa Helena datar.


“siang juga Helen. Makin cantik aja sih. bikin hati abang meleleh.” Seru laki-laki berambut keriting.


“woy sadar. Bini orang lo rayu-rayu. Liat tuh di belakang, lakinya melototin lo dari tadi. Mampus lo.” ucap teman di sebelahnya.


Sontak saja laki-laki itu menoleh ke belakang, benar saja Jackson menatapnya tajam seperti ingin menelannya hidup-hidup. Laki-laki berambut keriting itu langsung cengar-cengir sendiri sambil menunjukan dua jarinya yang berarti ‘damai’.


“sudah cukup basa-basinya. Sekarang pasti kalian bertanya-tanya kenapa saya di sini bukan?” ucap Helena.


“iya…” sahut mereka bersamaan.


“mulai hari ini sampai bulan depan, saya akan menggantikan pak Joni untuk mengajar mata kuliah ini__”


Perkataan Helena tiba-tiba terpotong karena mahasiswa di kelas itu bersorak-sorai bahagia. Bukannya memberikan mereka waktu untuk bersenang-senang, Helena kembali menggebrak meja membuat semua orang bungkam. Wanita itu paling tidak suka jika saat ia bicara tiba-tiba ada yang mencela.


“siapa yang mengijinkan kalian bicara ha…” bentak Helena.


Wanita itu mencoba mengatur emosinya agar lebih tenang lalu berkata. “pak Joni memang tidak ada di sini tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya. Kalian itu masih mahasiswa yang perlu banyak belajar.”


“jadi karena hari ini saya yang akan mulai mengajar kelas ini. saya akan menerapkan tiga peraturan yang harus kalian turutin.”


“satu, jangan pernah membuat saya marah atau kalian akan menerima akibatnya. Kedua, ketepatan waktu kalian. Dan yang ketiga, jangan sok sombong di depan saya. Saya tidak peduli kalian orang berkuasa, donatur atau apapun itu, kalia tidak berhak mengatur saya mengajar. Saya punya hak istimewa untuk mendidik kalian dengan cara saya sendiri.” Jelas Helena panjang lebar.


Seorang mahasiswi mengangkat tangannya. “apa peraturan itu berlaku juga dengan su-a-mi-mu.” Jelas wanita itu sedang menyindir Helena. Bukan hanya dia saja, mahasiswi lainnya juga terang-terangan memberi tatapan


sinis.


“tentu saja. Mau itu teman-temanku, saudaraku bahkan suamiku sendiri. jika memang mereka di bawah didikanku maka saya akan memperlakukan mereka sama. Apa itu sudah cukup menjawab rasa penasaranmu.” Ucap Helena cepat.


Helena melipat kedua tangannya di dada sambil melayangkan tatap membunuh ke arahnya. “kayaknya lo terlalu penasaran sama apa yang bisa gue buat.” Helena mulai bicara tidak formal lagi.


“emangnya lo bisa apa? ngerengek sama laki lo buat nolongin lo ha?”


“bera__” Jackson yang tadinya ingin menolong istrinya tiba-tiba tangannya di tarik oleh Demian.


“lo lebih baik diem aja.” bisik Demian.


Laki-laki itu hanya bisa menggeram kesal melihat Helena di pojokan oleh teman sekelasnya.


“SEKARANG LO KELUAR DARI SINI DAN JANGAN BALIK LAGI ATAU LO AKAN MENYESAL.” Teriak Helena menggelegar.


“berani lo ngusir gue. Lo gak tau bokap gue itu rector di kampus ini.” bentaknya.


“lo kira gue takut ha… bokap lo gak sebanding sama gue. Sekarang lo keluar.” Usir Helena sekali lagi.


Melihat semua orang hanya menatap dia saja tanpa niat membantu membuat wanita itu melangkah keluar dengan perasaan kesal sekaligus malu. Ia berniat menemui ayahnya untuk memberikannya pelajaran atas apa yang di lakukan Helena hari ini.


“mulai hari ini sampai sebulan kedepan absensi dia selama sebulan kedepan akan kosong begitupun dengan tugasnya. Jika ada di antara kalian tidak suka cara saya mengajar silahkan angkat kaki dari sini.”


Mendengar hal tersebut membuat mereka semua bungkam. Mereka tak menyangka Helena akan semengerikan itu jika amarahnya terpancing apalagi dari tatapannya itu seakan menunjukan bahwa dia bukan orang sembarangan. Bukan karena memiliki suami yang berkuasa tetapi karena dirinya mempunyai kekuasaan sendiri.


Mereka semua bertanya-tanya apa yang di miliki oleh wanita itu sebenarnya.


Sedangkan Jackson menatap istrinya kagum sekaligus bangga. Mungkin karena tadi melihat sifat Helena yang manja dan juga manis membuat dia lupa sesaat siapa istrinya sebenarnya. Tak ada seorangpun yang bisa menandingi seorang Helena baik dari fisik, kepintaran dan juga ketegasan.


Tapi beda halnya dengan Lianna, diam-diam ia memperhatikan Jackson yang sedang menatap Helena yang sedang mengajar. Terlihat dari mata laki-laki itu bergitu berbinar bahkan tidak berpaling sedikitpun dari Helena.


Tatapan itu tatapan yang tidak pernah Lianna lihat selama mengenal Jackson.


Apa hebatnya Helena sampai bisa membuat Jackson takluk padanya?


-BERSAMBUNG-