
“kau menyukai adik bayi?” Tanya Satria.
“aku menyukai nya. Aku sangat ingin melihat nya. Aku tidak pernah melihat adik bayi selain di TV.” Lisa berucap dengan penuh binar.
“Kalo begitu. Kau ikut saja dengan kami supaya kau bisa melihat nya dan bantu mengurus nya.” Ucapan Satria sontak saja membuat Helena menatap nya.
“Apa maksud nya? Jangan bilang bocah ini akan menjadi babysitter anak-anak ku?.” Cetusnya.
“Ya kalo itupun kau mau, Helen. Kalo tidak biarkan saja dia sini mati kelaparan karna tidak ada yang mengurus nya setelah dia kehilangan kedua orang tuanya.” Seru Satria enteng seperti tidak ada beban sama sekali.
Helena memutar bola matanya malas sambil berkata “Ck.. terserah om aja.”
Diam-diam Satria tersenyum tipis. Dia tau kalau Helena masih punya rasa belas kasih terhadap anak kecil ini walaupun dia mempunyai orang tua yang di cap berdosa itu.
“bagaimana Lisa. Apa kau mau ikut dengan kami.”
“Apa aku akan di beri makan di sana.” Gumam Lisa lirih membuat kedua orang dewasa itu membulatkan matanya tak percaya.
“Heh bocah. Kau kira aku tidak punya uang sampai tidak mampu memberikanmu makan seperti orang tuamu itu. Kekayaanku tidak akan habis untuk menghidupkan mu. Bukan hanya makanan, pakaian, pendidikan mu bahkan lainnya aku mampu.” Entah kenapa kehamilannya ini membuat dia darah tinggi terus.
“ tenanglah. Kau membuatnya semakin ketakutan.” Tegur Satria.
“ kok om jadi nyalahin aku sih. Dia yang mulai duluan.” Rengek Helena yang tidak di tanggapi Satria.
“ nak. Kamu mau tinggal dengan kami? Disana ada banyak makan dan pakaian yang bagus untukmu.” Bujuk Satria.
“Ta...tapi.” bocah itu sepertinya terlihat bingung. “ ak... Aku mau om.”
“Bagus kalo begitu.” Seru Satria. Laki-laki paruh baya itu berniat membawa Lisa ke markas untuk di beri pendidikan dan tata krama agar suatu saat nanti ia bisa menjadi teman sekaligus tangan kanan nona mudanya yang belum lahir ini. Itu semua akan ia bicarakan nanti dengan Helena tetapi ia yakin kalau Helena akan menyetujuinya, secara keberadaan kedua anaknya ini akan menjadi sasaran musuhnya kelak.
BRAK!!.
Tiba-tiba pintu dibuka paksa orang yang ternyata Demian, Dewa dan Jackson.
“Mana orang itu.” Ucap Demian dengan emosi setelah berada di dekat Helena.
“Tuh...” tunjuk ibu hamil itu dengan dagu.
Baru saja Demian akan melangkah ke orang tersebut tapi di halangi Helena. Dia menatap bertanya.
“biar dia sadar dulu. Wa bangunin mereka.” Perintah Helena.
Dewa segera mengambil seember air dingin lalu menyiramkan kewajah pasangan suami istri yang sedang tertidur pulas.
BYUR
“Ada a..pa ini.” Ucap laki-laki itu dengan terbata-bata.
“ sekarang lakukan apa yang lo mau tapi ingat jangan sampai dia mati. Dia harus membayar dosanya di penjara. “ tutur Helena pada Demian.
Tanpa membuang waktu laki-laki itu langsung berlari menghajar meluapkan kekesalannya yang dari tadi sudah ia tahan.
Di sisi lain Jackson mendekati istrinya lalu mengecup pipinya mesra sambil mengelus sang calon anak. “ apa tidak sebaiknya kita pulang. Tidak bagus untuk perkembangan bayi kita melihat ini.”
“ Anak ini akan bersama om. Kau tenang saja. “ seru Satria.
Helena mengangguk kepalanya lalu berkata. “ baiklah, terserah om saja. “ setelahnya pasangan suami istri itu pergi meninggalkan kegaduhan yang sedang terjadi.
.
.
.
Tak terasa hari sudah menjadi gelap, dimana semua orang harus mengistirahatkan diri untuk memulai hari esok. Tapi berbeda dengan semua orang, kedua manusia berbeda jenis kelamin ini sedang melakukan ritual olahraga malam yang sangat panas walaupun ruang tersebut sudah menggunakan AC.
“ Kau selalu nikmat sayang. “ ucap Jackson setelah mencapai puncak tertinggi.
“ untung kau suamiku. Kalo tidak sudah kupatahkan kau karna terus minta lagi. Kakiku sampai gemetar seperti ini. “ entah kenapa Helena. Padahal baru beberapa menit lalu dia begitu menikmati permainan suaminya tapi sekarang dia kembali ketus.
“ Masa sih. Padahal tadi aku dengar ada yang minta lebih deh. Apa aku salah dengar ya. “ goda Jackson.
Wajah Helena bersemu dan salah tingkah membuat Jackson semakin gemas dengan istrinya. “ udah ah. Aku mau tidur aja.”
“Eh jangan tidur dulu. Kita bicara sebentar. “ ucap Jackson sambil memeluk Helena dari belakang. Tangannya tidak henti-hentinya mengelus si jabang bayi.
“ Mau ngomong apa? “
“ soal Demian. Kamu kok cepet banget ketemu sama orang yang sudah bikin perusahaan keluarganya bangkrut? Padahal dia sudah minta tolong sana-sini tapi gak ada hasilnya. “
Helena menoleh kepalanya dikit kebelakang sambil menatap suamiya bingung. “ ngapain nanya itu. Gak penting tau gak. Untuk masalah itu sangat gampang buat aku jadi gak usah di bahas lagi.”
“ Apakah aku tidak boleh mengenalimu lebih jauh lagi. Apa aku ini benar suamimu?.”
Baru saja Helena memejamkan mata untuk tidur tiba-tiba matanya terbuka lebar mendengar ucapan Jackson yang begitu sendu. Segera ia berbalik menatap suaminya dalam.
“ Aku ingin tapi aku tidak bisa. Masa lalu ku begitu menyakitkan untuk diceritakan.”
“ setidak bebanmu sedikit berkurang. Jadikan aku tempat kau bisa mencurahkan isi hati dan tempat kau bersandar Helena. “
Apakah ia harus menceritakan kisahnya tetapi mendengar suaminya seperti tidak di hargai. Ia tidak mau suaminya salah paham tapi dia juga tidak bisa menceritakan kalau ini ada sangkut pautnya dengan ibunya.
“Baik. Aku akan ceritakan tapi tidak bisa cerita semuanya. Aku mohon kau mengerti.”
Jackson sempat diam sesaat dan setelah itu Mengangguk-anggukan kepala. Ia mencoba mengerti Helena. Setidaknya dia mau terbuka sedikit padanya
“ pasti tau tentang bagaimana aku bisa jadi CEO dan kematian kedua orang tua ku yang sudah menjadi rahasia umum di semua kalangan pebisnis “ Jackson menganggukan kepalanya kembali.
“ sembilan puluh lima persen adalah benar. mereka tidak tau apa yang sebenarnya yang terjadi ”
-BERSAMBUNG-