LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 48



Pertarungan mereka begitu sengit. Bukan satu lawan satu melainkan empat lawan satu karena tiga anak buah Harris berhasil lolos dari cengkraman anak buah Nathan. Helena di serang dari segala arah membuat dia harus bergerak lebih gesit dari mereka semua.


Harris mengayunkan pedangnya untuk menebas, tetapi gadis itu menghidar dengan cepat. Lalu dari belakangnya ada laki-laki berkepala botak mencoba menyerangnya dengan besi, tapi Helena lebih dulu menendang rahang bawah laki-laki tersebut sehingga membuat dia pingsang dan mulutnya berlumuran darah karena beberapa giginya terlepas.


Dari sisi kiri dan kanan, laki-laki dengan tato di lehernya dan laki-laki berbadan gemuk melemparkan tali pada Helena sehingga ia harus terikat. Mengetahui gadis itu tidak bisa bergerak, Harris membuang pedangnya lalu dengan tangan kosong ia memukul wajah dan perut Helena dengan brutal.


Helena tersungkur dengan mengeluarkan darah dari mulutnya dan juga pelipisnya. Bukannya iba, Harris malah semakin menjadi-jadi. ia menginjak-injak Helena seperti orang gila sambil tertawa menyeramkan.


“hahaha… rasakan itu. mati kau. Mati. Akan ku buat kau mati dengan mengenaskan. Hahaha” kata Harris.


“Rose… bertahan Rose… aku mohon kau bangun” teriak Bima yang tak kuat melihat Helena disakiti.


Tak berapa lama tubuh Helena sudah tidak bergerak lagi. Laki-laki berbadan gemuk itu mendekatinya, mencoba melepaskan tali dari tubuhnya lalu memeriksa apakah dia sudah mati apa tidak.


Di buka masker gadis itu sehingga Harris dan kedua anak buahnya melotot tak percaya. “wah… ternyata dia benar-benar secantik bunga mawar. Alis, mata dan lihat bibirnya seperti meminta untuk di lahap habis. Ingin sekali aku merasakan dia berada di bawahku tapi sayang dia sudah mati.” Ujar Harris sambil tangannya menelusuri wajah mulus Helena.


“bos, mau kita apakan mayatnya?” Tanya laki-laki bertato.


Harris menjauhi tubuh Helena lalu berkata. “berikan dia kepada anjing-anjing kita untuk di jadikan makanan.”


“baik bos” jawab mereka serempak lalu menarik paksa tangan Helena sehingga gadis itu berdiri dan di seret.


Baru beberapa langkah, Helena membuka matanya karena tadi ia hanya berpura-pura mati. Lalu ia menarik tangan kirinya dari laki-laki bertato dan sontak saja kedua laki-laki tersebut terkejut. Tanpa aba-aba Helena menendang dada laki-laki tersebut lalu beralih mematahkan leher laki-laki gemuk di kanannya.


Helena memandang datar Harris yang sedang ketakutan melihatnya masih hidup. Bukan hanya karena itu, ia juga semakin ketakutan karena ekspresi wajah Helena yang tidak menunjukan kesakitan ataupun bahagia melihat mangsanya ketakutan.


“Cuihh” Helena membuang salivanya yang bercampur darah ketanah lalu berjalan perlahan-lahan menghampiri Harris.


“jaa… jangan mendekat” laki-laki itu terus mudur dengan tubuh gemetar dan tanpa sengaja menginjak sesuatu sehingga ia terjatuh.


Ternyata yang ia injak adalah pistol, dengan cepat ia mengambilnya lalu menodongkannya kearah Helena. “ja..jangan ber..bergerak atau ku te…tembak kau.” Bukannya takut, Helena terus berjalan dengan tenang.


DORR..


Harris menembak Helena dengan mata tertutup. Bukan gadis itu yang kena tembakan melainkan drum minyak yang ada dibelakangnya sehingga menyebabkan ledakan besar. Sontak saja Bima, Helena dan Harris melihat kea rah ledakan tersebut.


Karena tidak memiliki waktu banyak, Helena mengambil belati satu lagi dari sepatunya lalu berlari menuju pria paruh baya itu dan menebasnya sampai kepalanya putus. Gadis itu beralih melepaskan gembok besar di rantai


Bima dengan pisaunya tapi tidak berhasil. Ia mencoba mencari alat untuk membuka rantai tersebut.


Ledakan kebali terjadi bahkan sebagian gedung itu sudah mulai runtuh. “Rose. Lebih baik kau pergi dari sini. Bangunan ini akan segera roboh. Jangan pedulikan aku. Cepat pergi” ucap Bima lirih.


“jangan bicara macam-macam Bimbim. Aku dan kamu akan keluar dari sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Sahut Helena sambil terus mencari dan akhirnya ia mendapatkan kapak. “mundurkan tubuhmu sedikit Bimbim.” Gadis itu mulai mengayunkan kapaknya.


-BERSAMBUNG-