LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 46



BRAKK…


“selamat datang Black Rose” sapa mereka serentak dengan membungkukkan sedikit badannya setelah mengetahui siapa yang datang.


Tanpa menjawab sama sekali, gadis itu berjalan dengan angkuh menuju kedepan aula yang sudah ada kursi singgasana menantikannya. Helena duduk di singgasananya dengan menyilangkan kakinya.


Helena menatap barisan orang-orang di depannya lalu berkata. “untuk ke tiga kalinya pemimpin kalian, Bima diculik. Dan yang menculiknya adalah orang-orang yang sama, geng kepala naga hitam. Sebenarnya saya sudah


muak dengan mereka yang menganggap kita mainan tapi saya juga muak dengan kalian yang sudah tiga kali kecolongan dengan orang yang sama pula.” Ia menjeda sebentar melihat anak buahnya mulai menunduk takut kepadanya.


“kalian tentu mengerti pekartaanku barusan kan? Jika tidak mengerti lebih baik kalian pergi dari sini selamanya karena saya tidak membutuhkan orang-orang yang gak becus” bukannya pergi, perkataan Helena membuat mereka tetap bertahan di tempat itu pasalnya hampir seluruh kehidupan mereka sudah di tanggung Helena.


“baiklah karena saya melihat kalian masih tetap bertahan di tempat ini maka saya ingin kesalahan seperti ini tidak terulang lagi. Mengerti?”


“mengerti, Black Rose” sahut mereka serentak.


“kalo gitu kita mulai ke masalah utama. Tim satu, dua dan tiga, kalian ikut saya ke lokasi Bima. Tim empat dan lima, kalian perketak penjagaan keluarga saya dan klien-klien kita. Ingat kalian harus menjaga mereka dari jauh agar tidak menimbulkan masalah. tim enam, tujuh dan hacker, kalian bertugas untuk mencari tau keberadaan anggota geng kepala naga hitam lainnya karena kali ini mereka harus di musnakan agar tidak menjadi hama untuk kita. Oh


ya satu lagi jika mereka berada di dekat markas kita yang lainnya, kumpulkan mereka untuk membantu kalian dalam pembasmian besar-besaran ini. Kalian paham semua” perintah Helena.


“kami paham, Black rose” jawab mereka serempak.


“ya sudah ayo kita berangkat”


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, gadis itu melangkah cepat menuju helikopternya setelah mengambil senjata-senjatanya dan jangan lupa earphone alat untuk dia berkomunikasi begitu juga anak buahnya yang ada di belakangnya.


.


.


.


BYURR!!


Seember air dingin memaksa dia untuk menyadarkan diri. Dengan berkali-kali mengedipkan matanya, ia mencoba memfokuskan diri pada orang yang ada di hadapannya. Orang itu adalah Harris, ketua geng mafia kepala naga hitam.


“hey… siapa yang suruh kau tidur. Aku belum selesai bermain denganmu. Jangan membuat aku kecewa, Bima” ucapnya sambil mencengkram kuat dagu Bima.


“se..sebenarnya apa mau mu, Harris. Kau ti..tidak bosan-bosannya me..mengganggu hidupku” Tanya Bima terbata-bata.


“kau masih Tanya kenapa? Kau dan anak buahmu itu selalu saja menyabotasi penyelundupan nar**** di mana-mana. Kalian semua membuat aku rugi besar bahkan para investorku kabur semua gara-gara kalian. Kalian!” ucap Harris sambil melepaskan kasar dagu Bima.


Bukannya takut, Bima memandangnya remeh dan berkata. “itu bukan salahku Harris tapi itu semua salahmu karena kau menyelundupkan barang-barang busukmu itu di daerah kekuasaanku. Jadi jangan salahkan aku jika bisnismu hancur.”


“bukan. Itu bukan salahku tapi salahmu” elak Harris.


“terserah kau bicara apa, aku tidak peduli dengan omong kosongmu itu” ucap Bima sambil memutar bola matanya malas.


Laki-laki itu mendengus kesal. “sudah cukup kau meremehkanku Bima. Kali ini kau tidak akan keluar hidup-hidup karena aku akan membunuhmu dengan sangat sadis” ucapnya dengan senyum devil di wajahnya.


“kau pikir, kau bisa membunuhku dengan mudah, Harris” ejek Bima.


-BERSAMBUNG-