LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 89



Selama menaiki tangga Helena menggerutui dirinya sendiri kenapa dia berbicara seperti itu terhadap Lianna seperti istri yang pencemburu padahal niatnya saat pulang akan bersikap dingin kepada Jackson tetapi saat mendengar Kallie tadi tiba-tiba emosinya terpancing.


Apa ini karena hormon kehamilannya? Tapi apapun itu yang pasti rencananya gagal total karena kebodohannya sendiri.


Sesampai di kamar, Helena tak menyadari Jackson mengikuti dari belakang lalu menutup pintunya rapat-rapat tanpa bersuara.


Jackson mendorong Helena ke tembok dan mencumbuinya dengan brutal. Helena yang sedang ada di masa kehamilan membalasnya tidak kalah panasnya, ia membelai tubuh Jackson dari balik baju membuat laki-laki tersebut bergairah di pagi hari.


Segera Jackson mengiring Helena kekasur, membuka seluruh pakaian yang di pakai istrinya lalu menindihnya. Sentuhan-sentuhan panas membuat keduanya terbakar gairah bahkan bercucuran keringat dalam waktu yang singkat.


Baru saja akan memulai ke bagian inti tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Awalnya mereka membiarkannya tapi semakin lama ketukan itu tidak mau berhenti.


Tok. Tok. Tok.


Dengan berat hati Jackson menggunakan celananya kembali sedangkan Helena lebih memilih menarik selimut kasar untuk menutupi tubuh telanjangnya. Dia akan memberikan pelajaran pada orang yang sudah mengganggu aktivitasnya ini.


CEKLEK.


Jackson membuka pintunya dengan malas dan ternyata orang yang mengganggu tersebut adalah Lianna.


Gadis itu memandangi Jackson tanpa berkedip bahkan sesekali menelan salivanya susah


pasalnya  lelaki tersebut sedang bertelanjang dada dan bercucuran keringat membuat siapapun yang memandang ingin mencicipinya.


Sebuah jentikan tangan membuat Lianna tersadar dengan lamunannya.


“ada apa kau mengetuk pintu?” tanya Jackson.


“ahhh itu… ini sudah jam Sembilan. Ayo berangkat sekarang nanti keburu telat.” Ujarnya.


Helena awalnya tidak tau jika ada Lianna di sana tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk mengerjai gadis tersebut. Ia menggulung tubuhnya dengan selimut hanya sebatas dada lalu berjalan menghampiri suaminya.


Dengan gaya seperti wanita penggoda ia merangkul lengan suaminya lalu menyandari kepalanya di buhu kekar tersebut. Terlihat begitu jelas bercak merah di lehernya karena karya Jackson sendiri membuat wajah Lianna merah menahan amarah.


Bukannya menutupi, Helena malah mengibaskan rambut panjangnya kebelakang agar terlihat bahwa mereka sedang melakukan hubungan suami-istri.


“kayaknya hari ini aku absen aja deh.” Ucap Jackson sambil menggaruk tengkuk belakangnya.


“tapi kan hari ini ada mata kuliahnya pak Joni si dosen killer itu. kamu lupa?” Kata Lianna.


Belum selesai menjawab Helena malah memotong omongannya Jackson. “kalo kayak gitu lo aja ke kampus sana duluan. Gue sama Jackson belakangan aja.”


“tapi sayang kita kan belom selesai tadi.” Ingat Jackson.


“udah lah… berhenti ngurusin ‘adek’ kamu itu. sekarang kita pergi kuliah, aku juga udah banyak banget absen.” Seru Helena.


“sayang….” Rengek Jackson yang di hadiahi tatapan tajam istrinya.


“ngapain lo masih di sini. Udah pergi sana. Ganggu orang aja.” ketus Helena.


BRAK!!


Setelah berkata seperti itu Helena membanting pintu dengan keras di depan wajah Lianna tanpa memberikan gadis itu berkomentar lebih banyak lagi.


“awas aja. bakal gue bales perbuatan lo ini dan lo akan menyesal berurusan sama gue.” Gumam Lianna sebelum pergi dari sana dengan menghentakkan kaki.


Berbeda di dalam kamar, Jackson terus merengek untuk tidak pergi ke kampus kepada istrinya tetapi wanita itu tetap bungkam dan memilih pergi ke kamar mandi dan setelah itu menuju walk in closet mempersiapkan pakaiannya dan Jackson.


“apa kau akan terus merengek seperti itu? cepat sana mandi atau aku tinggal, haa.” Ancam Helena.


Dengan langkah berat laki-laki itu menuruti Helena padahal ia mau berduaan sama istrinya tapi karena dosen killer itu mau tak mau ia harus kuliah.


.


.


.


Selama di perjalanan Helena hanya terdiam sambil melihat pemandangan di luar kaca mobil. Entah apa yang dia pikirkan tapi dia terlihat seperti mencari sesuatu sedangkan Jackson mengemudi dengan tangan satu dan satunya lagi memegang tangan Helena.


“berhenti!!” seru Helena membuat Jackson menginjak rem secara mendadak. Untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang.


“belikan aku es cincau.” Helena menunjuk bapak tua mendorong gerobak esnya.


“apa!!” pekik Jackson tak percaya pasalnya yang ia tau kalau istrinya itu tidak pernah makan makanan yang di jual di jalan, ia selalu mementingkan kesehatan dan kebersihan. Lagi-lagi seorang Jackson di buat bingung melihat mata Helena sudah memerah menahan air matanya yang akan tumpah.


-BERSAMBUNG-