
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
Melihat gadis di depannya itu menganggukkan kepalanya, Johan menghela nafasnya panjang. “kamu ini bener-bener keras kepala. Daddy suruh kamu gak usah ikut-ikut berantem tapi masih aja ngelakuin.”
“ya mau gimana lagi dad, namanya juga nolongin.” Ucapnya santai.
“terus gimana keadaan logan saat itu?”
“tuan Bernadette aku bawa ke markas waktu itu dan sempet koma juga selama seminggu.”
“pantesan, waktu itu istrinya begitu panik Logan gak pulang berhari-hari. Gak ada kabar juga.” Johan mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
“iya, dia sama Helen. Dari ceritanya sih ada rekan bisnisnya kecewa sama dia karena mutusin krontrak secara sepihak. Katanya ketauan main curang. Eh si tuan Bernadette gak tau dia ternyata ketua mafia jadinya malem itu dia mau di bunuh tapi gagal.”
“dan setelah kejadian itu dia nyewa jasa pengawalan ke Helen buat dia sama keluarganya biar kejadian seperti itu terjadi lagi. sampek sekarang aku belum ketemu dia lagi” Lanjut Helena.
“kasian dia ternyata. Kamu gak ada kepikiran buat berhenti jadi mafia nak?” Tanya Johan lirih.
Gadis itu memandang serius laki-laki itu. “dad, aku sudah sejauh ini. kalau Helen keluar keluarga kita, perusahaan dan semua yang kita punya akan hancur.” Ia menggenggam tangan Johan. “Helen tau daddy khawatir tapi Helen harus ngelakuin ini supaya gak ada yang bisa mencelakai kalian.”
Johan juga menggengam tangan Helena. “kamu masih kecil tapi kamu harus berkorban begitu banyak buat kami. Bagaimana daddy bisa bales semua kebaikan kamu nak?”
“cukup temenin Helen sampai tua nanti. Helen gak mau kehilangan kalian seperti kehilangan mamah dan papah.” Helena memeluk Johan dan tanpa sadar ia menitihkan air matanya.
“itu gak perlu kamu Tanya. Daddy, mommy, Luci bakal selalu bersama kamu.”
Senjenak mereka berpelukan setelah itu Johan mendorongnya untuk duduk seperti semula. “oh ya sayang. Sebenernya beberapa bulan lalu Logan ngehubungin daddy ngajak kamu makan malem kerumahnya kayaknya dia pengen banget ketemu sama kamu.”
“daddy gak enak ngomong sama kamu karena daddy liat kamu sibuk banget.”
“daddy seharusnya cerita sama Helen. Ya udah nanti aku suruh Julia kosongin jadwalku minggu ini, biar kita bisa ke sana.” Ujar Helena.
“malam dad”
Mungkin sebagai keluarga, dia satu-satunya orang yang sedih mendengar jika anaknya di cemooh sana sini apalagi di usia mudanya ia harus di paksa masuk ke dunia orang dewasa yang begitu kejam. Padahal sebagai kepala keluarga, ia yang harus memikul beban ini tetapi ketidak mampuannya membuat anaknya yang menjadi korban.
Keadaan Helena seperti ini tentu saja tidak di ketahui Merry ataupun Luciana karena takut mereka kecewa pada Helena sehingga ia sebagai orang tua menjadi tempat untuk anaknya bisa saling terbuka dan tempat bersandar baginya di saat semua orang mungucilkan dia.
.
.
.
Ke esokan harinya.
Semua orang mulai sarapan di meja makan dengan tenang hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring sampai satu persatu orang-orang sudah selesai makan lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan rutinitas mereka masing-masing.
Kini tinggal ibu dan anak yang duduk besebrangan. Lebih tepatnya sang ibu menantikan anaknya menyelesaikan makannya lalu saat di lihat anaknya beranjak, ia buru-buru menghampirinya.
“Jackson.” Panggil Agnes padanya.
Laki-laki itu menoleh dengan menatapnya sinis. “apa?”
“ini bekal makan siang buat kamu. kan papah masih hukum kamu jadi buat menghebat uang kamu, mamah buatin ini. kamu bawa ya.” ujar Agnes lembut.
Bukannya di terima, laki-laki itu melempar kotak makannya sampai semua isinya berserakan semua. Sontak saja perbuatan Jackson membuat Agnes terkejut.
“gak usah sok deh. Anda kan senang liat saya seperti ini. dasar perempuan gila harta. Bermuka dua.” Sarkahnya.
“ta..tapi bu__”
“alah gak usah banyak alasan, saya sudah tau kok niat busuk anda supaya saya nyusul mamah saya keluar dari rumah ini kan.”
“Jackson kamu salah paham. mamah g__”
“gak usah banyak omong. Lebih baik saya pergi dari sini, buang-buang waktu buat aja dengerin anda ngoceh.” Tanpa memperdulikan teriakan Agnes yang memanggil-manggil, ia terus berjalan keluar dari rumah tersebut dan saat di rasanya cukup jauh dari rumah laki-laki itu berhenti lalu memeriksa dompetnya.
“sialan, tinggal lima puluh ribu lagi. Mana cukup buat naik taksi.” Ia terdiam sejenak. “oh iya ada uang dari bocah sombong itu. untung waktu itu di ambil kalo gak bisa mati gue gak ada uang.” Ia mengambil uang dari tasnya dan ternyata setelah di hitung jumlahnya ada dua juta lima ratus ribu.
“apa gaji pembantu segini ya? tapi kok dikit amat. Buat naik taksi seminggu mana cukup uang segini. Tapi gue harus naik apa, masa bus. Ogah deh desek-desekan. Kayaknya naik ojek yang paling aman.” Setelah lama bergumul dengan pemikirannya sendiri, akhirnya ia memesan ojek melalui aplikasi.
-BERSAMBUNG-