LOVE IN THE GAME

LOVE IN THE GAME
Episode 47



Harris menyeringai lalu berkata. “tentu saja aku bisa dan kali ini pasti bisa karena aku sudah membuat anak buahmu tidak bisa bergerak sama sekali”.


“apa yang kau lakukan pada mereka. Jangan macam-macam kau” Bima mengeraskan rahangnya.


“kau mau tau?. Aku sudah menyewa dua puluh lima ahli IT terbaik untuk merusak sistem keamanan kalian sehingga hancur lebur tanpa tersisa dan juga memanipulasi lokasimu tentunya.” Ujar Harris.


“kau kira dengan memanipulasi saja akan membuat mereka percaya dengan mudah. Dasar bodoh”


“hey, jangan menyepelekan aku. Aku tau jika hanya memberikan mereka lokasi palsu, mereka tidak akan percaya jadi aku menggunakan lokasi asli tapi lokasi hackermu bukan lokasimu”


“kau__” geram Bima.


“kenapa? Kau marah? Kau kesal karena tidak akan ada yang menolongmu? Apa kau mulai ketakutan sekarang?” Harris mencoba memancing amarah Bima.


Namun sayang seribu sayang, mimpinya melihat Bima terpuruk dan tersiksa seperti dia dulu malah hancur karena melihat Bima terkekeh sendiri.


“kenapa kau ketawa?” tanyanya bingung.


“Harris… Harris… kau benar-benar luar biasa. Kau berhasil menipu anak buahku dengan taktik licikmu tapi rencana kau itu akan sia-sia karena ada satu orang yang tidak mudah kau tipu, Harris. Apa kau lupa?” kali ini Bima menyeringai licik.


Harris berpikir sejenak, tiba-tiba matanya membulat dan tubuhnya kaku. “ja…jangan bilang…”


“ya, Harris. Dia lah satu-satunya bunga yang hidup di dunia mafia ini. BLACK ROSE”


“astaga. Kenapa aku bisa lupa dengan bocah ingusan tak tau diri itu. orang yang paling kejam dan sadis itu bersarang di geng mafianya Bima. Bodoh sekali kau Harris. Kalau gini bisa hancur rencanaku. Tidak, itu tidak boleh terjadi.” batin Harris.


“hahaha… kau tenang saja, Bima karena sebelum aku mati di tangannya, aku akan membunuhmu terlebih dahulu” Ia mencoba meyakinkan dirinya kalau dia akan berhasil nantinya.


Mendengar suara orang lain selain mereka berduan di ruangan itu, sontak saja membuat mereka terkejut lalu menoleh. Ternyata orang itu adalah Helena atau Black rose yang sedang bersandar di dinding samping pintu.


Gadis itu berjalan perlahan-lahan mendekati mereka dengan kedua tangan di masukan ke saku jacketnya. “apa sudah selesai pidatomu. Bos. Mafia. Kepala. Naga. Hitam.” Katanya dengan menatap Harri datar.


“ka…kau… bagaimana kau ada disini? bagai mana kau bisa masuk?” Tanya Harris tak percaya.


“tentu saja lewat pintu. Memangnya lewat mana lagi?” jawabnya polos.


“di… dimana semua anak buah ku?” bentak Harris.


“ahh… mereka. Tunggu sebentar”


Helena menekan tombol earphone di telinganya lalu berkata. “bagaimana tikus-tikus yang ada di luar sana?” terdengar suara kegaduhan di seberang sana.


“sedang kami bereskan. Kami sedikit kewalahan karena tempat ini bekas gudang minyak jadi sangat berbahaya kalo kita salah menembak, Black Rose” jelas Nathan.


“tikus got mu itu sedang di basmi diluar.” Helena dengan entengnya menjawab pertanyaan Harris.


“jadi bisa kita selesaikan sekarang? Aku sudah lelah dan mengantuk mengikuti drama mombosankan ini” ujar gadis itu sambil merengangkan otot-ototnya bersiap untuk berperang.


“kurang ajar. Akan ku bunuh kau sekarang, bocah ingusan.” Harris mengambil pedang yang ada di dekatnya.


“oke. Dengan senang hati aku menerima tantangan bodohmu itu, tua bangka” Helena juga mengambil belati yang terikat di paha kanan dan kirinya.


-BERSAMBUNG-