
AYOOO... AYOOO... AYOOO... Kesayangannya Author.
Jangan bosen-bosen buat Like, Comment, dan juga VOTE-nya ya...
Sekalian tekan Favorite supaya kalian gak ketinggalan update-an selanjutnya.
Selamat membaca.
.
.
.
Jackson mencoba puluhan kali untuk menghubungi Helena dan puluhan pesan yang ia kirimkan tetapi tidak ada satupun di jawab. Laki-laki itu benar-benar pusing di buatnya.
Dia mencoba mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi seperti apartment, restoran, café namun hasilnya tetap nihil. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah mansion Helena.
Ia tidak mau kejadian hari ini di ketahui oleh keluarga Helena tapi jika dia beneran tidak bisa menemukan calon istrinya itu maka pernikahan bisa batal tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Ting. Tong. Ting. Tong.
“tuan muda, anda sudah kembali. di mana nona muda Helena?” ucap Bi Lastri celingak-celinguk.
Mendengar hal tersebut ia semakin yakin kalau gadis itu tidak pulang kemari. Lalu di mana ia sebenarnya.
“apa om sama tante ada di dalam.” Katanya tanpa memperdulikan pertanya Bi Lastri.
“tuan dan nyonya ada. Silahkan masuk. saya akan memanggilkannya.”
Dengan kaki yang gemetar, ia menduduki dirinya di sofa ruang tamu sambil menunggu Johan dan Merry keluar.
Waktu seakan berjalan lambat, dahi laki-laki tampan itu sudah di banjiri keringat yang sebesar biji jagung.
“Jackson, katanya kamu mencari kamu. ada apa dan di mana Helena.” Tanya Johan sambil duduk di salah satu sofa bersama Merry.
“iya nak. Di mana calon istri kamu?” imbuh Merry.
“Helena kabur om, tante.” Serunya.
“apa!” pekik Merry.
“kenapa bisa terjadi. Ada apa dengan kalian. Jelaskan yang benar.” Tuntut Johan.
Dengan berat hati Jackson akhirnya menceritakan semuanya mulai dari pertemuan mereka dengan Vina sampai Helena pergi meninggalkannya menggunakan taksi.
“sudah mom tenang saja. Anak kita kan anak yang kuat. Dia pasti ada di suatu tempat untuk menenangkan diri.” Hibur Johan.
“tapi dad, Helena gak ada di mana-mana bahkan aku sudah mencarinya ke seluruh kota.” ucap Jackson tidak kalah khawatirnya dengan merry.
“kamu tenang saja. Om tau di mana dia.”
“serius om?”
“iya. Tapi sebelum itu jawab pertanyaan om terlebih dahulu. Apa benar kamu ayah dari anak yang di kandung perempuan itu.”
“saya berani bersumpah kalo itu bukan anak saya, om. Saya memang bajingan tetapi saya tidak akan senekat itu untuk menhamili seseorang.” Ucap Jackson serius.
Johan menganggukan kepalanya pelan lalu berkata. “om akan coba percaya sama kamu. sekarang kamu pergi di HD group. Dia pasti ada di sana.”
“ahhh… iya, daddy benar. Kenapa mommy gak kepikiran sampek sana sih. kan jadi sia-sia mommy nangis.” Ucap Merry dengan wajah cemberut.
“HD group? Perusahaan yang di pimpin monster itu.” ujar Jackson mengernyitkan dahinya.
“usst… sebarangan kamu ngomong yang gak-gak tentang calon istri kamu sendiri.” Sarkah Merry.
“jaga perkataanmu Jackson. Kalo Helena denger, bisa-bisa pernikahan kalian batal.” Tegur Johan.
“Helena? HD group? Apa tadi?” tanya Jackson yang masih keadaan syok.
“Helen pemilik perusahaan itu. gak usah banyak tanya. Sana pergi sebelum pernikahan kalian batal. Bisa-bisa mommy batal punya mantu ganteng. Hussss… pergi sana.” Usir Merry dengan mendorongnya sampai ke pintu utama.
.
.
.
“astaga tu orang bener-bener gila sampek buat tangan lo kayak gini.” Ucap Dewi sambil memasangkan perban pada tangan Helena yang kemerahan.
“gilaan juga bos kita. Gak usah heboh kayak gitu.” Celetuk Dewa santai.
“Helena, malam ini kamu akan tidur di mana? apa kamu mau om pesankan kamar hotel.” Tanya Satria.
“gak om. Aku mau tidur di sini aja.” sahut Helena.
“biar aku temani ya, Rose.” Tawar Bima.
“tidak. Aku mau sendirian aja mala mini. Kalian boleh pergi sekarang. tolong jangan ganggu aku.” Setelah berkata seperti itu, Helena memasuki kamar yang berada di dalam kantornya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tak berapa lama akhirnya mereka memutuskan keluar dari sana, memberikan ruang untuk gadis itu menengkan diri tetapi Bima masih belum beranjak dari sana sebelum Helena benar-benar terlelap.
-BERSAMBUNG-